"Siapa Cristine robins ini?" Tanya Gulf."Dia kekasih ku" Gulf mematung hendak berteriak marah.
Bunyi pasal ke empat.
4. Cristine robins berhak keluar-masuk rumah yang akan di tempati Mew dan Gulf kelak setelah menikah.
Bagaimana Gulf tidak emosi. dia tidak ingin orang sembarangan masuk rumah yang merupakan tempat privasinya. Kamar yang berada di rumahnya sekarang tidak ada satu maid pun yang berani masuk.
Dan sekarang Mew seenaknya membuat peraturan seperti ini.
"Aku tidak menerima pasal ke empat" kata Gulf setelah menata emosinya.
"Kau bukan dalam kapasitas untuk menolak" kata Mew santai
"Lakukan jika kau tidak ingin menikahi kakakku" Gulf tertawa ketika melihat perubahan wajah Mew, dia bukan lelaki bodoh yang hanya akan di manfaatkan oleh Mew. Mereka sama-sama di untungkan oleh pernikahan ini.
"Akan ku hapus pasal itu" Mew kalah dan Gulf tau dia menang.
Sangat lama mereka membahas pasal-pasal dalam perjanjian itu. Sampai akhirnya jam sudah menunjukan pukul dua belas siang. Saatnya untuk makan siang.
"Kau seperti nya lupa kalau aku menghadapi tahun ke tiga ku di SMA dan malah mengajak ku membolos" Gulf mengeluh sepanjang perjalanan pulang. Mereka akan menghabiskan waktu makan siang di rumah Gulf.
"Aku tau kau pintar" entah Gulf harus berbangga diri atau harus marah karna laki-laki disampingnya begitu dingin mengucapkan sebuah pujian.
"Aku masih penasaran, kau sudah punya kekasih kenapa tidak menikahinya?" Gulf menatap Mew penasaran, raut wajah laki-laki itu berubah menjadi kaku. Gulf kaget dia melihat wajah laki-laki ini berubah seperti raut wajahnya di tengah hujan waktu itu.
"Aku akan menikahinya kalau aku bisa" Mew menjawab datar.
"Jadi?"
"Dia koma karena kecelakaan tiga tahun lalu sebelum pernikahan kami, orang tuaku tidak sanggup menunggu lebih lama lagi untuk melihatku menikah"
Gulf tertegun, Mew merupakan sosok lelaki yang setia, bahkan masih sanggup menunggu hingga kekasihnya terbangun.
"Dia belum terbangun dan kau sudah minta izin membawanya masuk ke rumahku?" Gulf tidak habis pikir dengan laki-laki ini
"Rumah kita" Mew meralat ucapan Gulf
"Aku hanya berjaga-jaga kalau dia terbangun"
Mereka sampai ke rumah tepat waktu di mana orang-orang di rumah itu sedang bersiap makan siang. Walaupun tidak di sertai sang ayah.
"Aku pulang" Gulf terbiasa berucap seperti itu walaupun biasanya tidak ada yang menjawab, tapi cukup berbeda kali ini.
"Gulf kau sudah pulang nak? Bagaimana sekolah mu tadi?" Harus Gulf akui keberadaan Mew benar-benar mengubah kesehariannya di rumah.
"Tidak ada yang menarik ibu" Gulf yakin ibunya juga tak mau berpura-pura mendengar ceritanya.
"Ibu sudah menyiapkan makan siang ajak Mew sekalian makan ya" sang ibu melirik Mew. Dan duluan menuju meja makan.
"Wow, baru kali ini ibu menyambut ku pulang, dia pasti mengambil kelas acting" Gulf tertawa.
"Kau akan menemukan kejutan lain" Mew menaikan sebelah alisnya berkali-kali menggoda Gulf.
Sesampai di meja makan Gulf sudah mendapat tatapan tajam dari Nat dan Art. Gulf tersenyum kemudian meraih jemari Mew dan menggenggamnya. Gulf ingat pasal perjanjian mereka nomor 1. Harus bersikap mesra di depan keluarga masing pihak.
Gulf tertawa ketika melihat bola mata Nat seperti akan keluar dari tempatnya. Mew kemudian memutuskan duduk disebelah Gulf duduk.
"Sayang mau makan apa?" Gulf bertanya pada Mew, lihat lah Gulf sekarang sudah menjadi contoh istri teladan. Mengambilkan calon suaminya makanan.
"Terserah sayang, asal jangan yang pedas" Nat membanting sendok dan garpu yang ada di tangannya.
"Aku sudah kenyang" katanya dan kembali ke kamar.
'itu yang kurasakan dulu ketika kau mengambil orang yang kusayangi'
Art masih menikmati makannya, makannya tidak terganggu sama sekali melihat kemesraan yang di tampilkan adiknya itu.
"Maafkan sikap Nat tadi ya Mew, dia mungkin sedang ada masalah, biasanya dia akan bersikap ceria dan sopan, ibu akan menyusul nat" sang ibu membela Nat. Gulf tertawa sejak kapan Nat dan sopan bisa di satu kan.
"Apa kalian tidak lelah berpura-pura?" Art tiba-tiba mengeluarkan suara. Gulf dan Mew hanya memasang wajah datar. Art terlalu pintar untuk mereka bohongi.
"Acting kalian terlalu buruk hanya untuk membuat kami cemburu" Art tertawa.
"Hubungan kita sudah terlalu lama, aku bahkan lupa kau pernah jadi kekasihku" Mew berkata datar. Tapi tetap di balas senyum mengejek oleh Art.
"Justru karna itu, bukannya seharusnya tidak ada alasan untuk membuatku atau ka Nat cemburu? Aku bahkan tak peduli jika kalian menikah"
"Baguslah kalau begitu" Gulf sudah merasakan hawa tak nyaman sekarang.
"Bagaimana kabar kekasih mu itu? Masih betah dalam mimpi indahnya?" Art tertawa.
"Sialan!!" Art berhasil memancing emosi Mew. Gulf membelai tangan Mew untuk menenangkannya.
Art menatap Gulf.
"Aku memang bukan kakak yang baik untuk mu Gulf, tapi terlibat dengan laki-laki ini tidak akan membuatmu lepas dari neraka ini"
Gulf tertegun, apa kakaknya ini tau kalau Gulf selalu menderita di rumah ini?
"Dia hanya akan memberimu neraka baru dengan tampilan surga di depannya" Art kemudian beranjak pergi.
'kau harus menjauh darinya gulf' kata Art dalam hati.
"Semudah itu kau terpancing oleh kakakku?" Gulf memandang remeh kearah Mew. Kemudian menarik kerah Mew untuk menghadapnya.
"Kau yang berjanji mengeluarkan ku dari neraka ini, lakukan itu sampai akhir atau kita akan hancur bersama" Gulf memberi peringatan untuk Mew. Sisi lemah mereka tidak boleh di lihat siapapun kalau ingin menang.
.
.
.Setelah mereka makan Gulf membawa Mew ke kamarnya.
Sesampainya di kamar Gulf langsung mencium Mew dengan ganas.
"Akan ku ajarkan kau berpura-pura sampai tidak satu orangpun tau kalau kau berpura-pura"
Gulf memperdalam ciumannya dan Mew yang berusaha mengimbangi nya. Mew harus mengakui kalau Gulf merupakan orang yang ahli dalam berciuman.
Siang ini kamar Gulf di penuhi dengan desahan-desahan kenikmatan dari Gulf dan Mew.
Melupakan fakta jika desahan itu mungkin akan sampai ke ruangan yang lain, mereka terlalu sibuk untuk memikirkan itu. Yang mereka pedulikan hanya bagaimana memenuhi kepuasan mereka.
Mew terbangun ketika mendengar suara telponnya berbunyi. Dia melihat kesebelahnya. Gulf masih tidur dengan tubuh yang belum mengenakan pakaian dalam balik selimut.
'halo, apa kau sudah dapat informasi?' kata Mew setelah mengangkat telpon itu.
'kami belum mendapat informasi apa-apa tuan, tuan kanawut menutup semua informasi pada kasus itu' jawab seseorang yang berada di telpon.
"Brengsek" Mew mengupat.
"Tapi pada hari kecelakaan nona Christin hanya tiga mobil yang keluar dari rumah kanawut tuan"
"Mobil siapa saja?"
"Ketiga nya mobil anak-anak tuang kanawut tuan"
"Teruskan penelusuran mu" Mew mematikan telpon ketika Gulf mulai terbangun dari tidurnya.
.
.
.
.
.TBC
Jangan lupa vote dan komen

KAMU SEDANG MEMBACA
I CHOOSE YOU END
أدب الهواةSemua orang masih kaget dengan ucapan Mew, yang di jodohkan dengannya ada lah sulung dari keluarga kanawut bukan si bungsu. "Aku hanya akan menikah dengan Gulf, aku tidak akan menikah dengan anak keluarga kanawut kecuali dengan Gulf" Mew menatap Gu...