Shea 12

446 58 14
                                        

“Yuk, She. Pulang bareng aku lagi.” Lucky nungguin dekat pintu kelas.

Shea yang lagi gandengan sama Lia saling pandang dan Lia memasang wajah gak setujunya.

“Shea mau pulang sama gue, Kak,” ujar Lia sambil tersenyum palsu.

“Lo pacar Jemian, kan? Kayaknya Jemian lagi nunggu deh di parkiran,” balas Lucky pada Lia.

“Ayo, She. Aku mau ngomong penting banget.” Lucky natap Shea dalam banget, tatapan memohon.

Shea lihat ke sekitar kayaknya teman sekelasnya lagi pada liatin dirinya sama Lucky yang kayak drama ini, dan Shea lihat Arjun yang sengaja ngelus dadanya dan berekspresi seolah itu sakit. Apaan dah nih si Arjun.

Mau tak mau akhirnya Shea ngangguk.
“Gue pergi, Li. Gak enak jadi bahan tontonan,” bisiknya pada Lia, dan sahabatnya itu cuma mendengus sebal.

“Temen kamu itu pacarnya Jemian kayaknya gak suka ya sama aku?” ujar Lucky setelah berlalu meninggalkan Lia.

“Kata siapa? Nggak, kok,” jawab cewek itu cepat.
Shea ngerasa Lucky hendak genggam tangannya dan dengan secepat itu pula Shea pura-pura ngambil handphone di saku.

“Kakak gak biasanya bawa mobil,” ujar Shea setelah Lucky ikut nyusul dan duduk di depan kemudi.

“Motor lagi di bengkel, ini juga mobil bokap,” jawab Lucky sambil langsung lajuin mobilnya.

Shea mulai main HP, dan terkejut banget buka chat dari Theo. Katanya Theo ada di depan sekolah Shea mau jemput pulang. Nyesel gak buka HP dari tadi, jangan-jangan Theo lihat Shea sama Lucky, batinnya panik.

Shea harus alesan gimana sama Theo?

“She, kok gak jawab?”

Cewek itu langsung noleh ke Lucky. “Kenapa, Kak?” Urusan Theo biar nanti aja, Shea masukin HP lagi.

“Kok kamu gak pernah keliatan tiap aku tanding basket atau cuma sekedar latihan?” Apa itu pertanyaan ulang? Kayaknya iya, kelihatan dari wajah Lucky yang kesel.

“Ah iya, Kak.” Shea cengir aja, kalau dia bilang gak suka basket takutnya itu menyinggung.

“Besok-besok sekali-kali liat ya, aku juga kan pengin disemangatin kamu.” Lucky mengerucutkan bibirnya kayak manja gitu.

“Iya, Kak.” Cewek itu mengangguk aja.
Shea nunggu Lucky nembak dia tapi gak nembak-nembak, maksudnya Shea mau nolak Lucky. Mau bilang duluan gak bisa jadi pacarnya takut Shea disebut kegeeran.

“Lho, Kak. Ini kan bukan arah rumah Shea,” ujar Shea yang terkejut, baru nyadar dengan jalanan.

“Iya, kita jalan dulu sekarang. Habisnya kamu tiap diajak jalan pas weekend gak bisa mulu, aku mau main ke rumah juga gak boleh.”

Shea nelen ludah dengan kasar dengar ucapan Lucky, mau sumpah serapahi dia tapi sayangnya Shea hormatin dia sebagai kakak kelas. Iya, meskipun sumpah serapahi di dalam hati doang Shea gak berani.

“Boleh kan aku pegang tangan kamu?”

Iya, mereka pegangan tangan kayak yang lagi pacaran beneran padahal Shea gak jawab apa-apa, gak pernah iyain atau ngangguk setuju Lucky pegang tangannya. Shea mau bilang jangan tapi gak bisa. Lucky nganggap diamnya Shea itu mau. Oke, pas pulang nanti Shea mau lurusin semuanya.

Di tengah-tengah mereka nonton, pergerakan Lucky bikin Shea gak nyaman banget dari tadi. Dan Shea selalu usaha agar tujuannya itu selalu gagal, apa pun itu, Shea usaha gak kontak fisik sama dia.

Seasyik apa pun mereka jalan, Shea sama sekali gak menikmati. Pikirannya gak di sini, bukan kepikiran Theo atau Jemian. Shea cuma ngerasa kalau dia beneran lelah buat yang namanya pacaran, pacaran itu nyatanya cuman buat nambah masalah dalam hidup, beban pikiran dan juga hati.

Hollow BlissTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang