Inikah luka yang sebenarnya?

8.9K 1.2K 50
                                        


kata kalian mudah, kenapa bagiku sulit?

Yakin yang mudah itu cinta, bagaimana jika itu rasa semu?

Dan aku kembali menangis, saat menulis kalimat ini.

💔

"Apa kabar Tante." Kinan bangun dan mencium tangan mama Naga.

"Baik, wah makin cantik anak gadis ini." mama Naga memeluk Kinan. "Sibuk banget ya Kinan, Tante sudah hampir satu bulan di sini."

"Maaf Tante."

Kinan kembali duduk ditemani mama Naga. Datang ke apartemen ini sudah mempersiapkan semua konsekuensi yang akan dihadapi oleh hatinya.

"Masih jadi editor?"

"Masih Tante." dulu mungkin Kinan bisa bersikap santai tanpa perlu memaksa diri seperti ini.

"Sama gila ya kalian, kalau sudah kerja lupa diri."

Kinan memaksakan tawanya, orang tua mengetahui persahabatan mereka tidak dengan hubungan yang selama beberapa tahun ini dijalani keduanya.

"Pusing Tante mikirin kalian, usia sudah pantas menikah kok ya malah mau hidup sendiri."

Mama Naga tertawa. "Kalau tidak disuruh ya enggak bakalan nikah. Ni kaya Naga, untung sudah punya calon."

Tertegun sudah tentu, mama mengatakan calon sedang Kinan tidak tahu apa-apa selain keinginan Naga yang memiliki kriteria sendiri untuk dijadikan istri.

"Kamu gimana?"

Kinan berdeham, dia belum ada calon tepatnya hati wanita itu telah mendambakan seseorang. "Nyusul Tan, doakan."

"Harus," tegas mama Naga. "Setiap ketemu ibumu, yang kami bahas ya kalian. Aneh sudah dewasa tapi belum mau berumah tangga padahal sudah mapan."

Siapa yang tidak mau berumah tangga, karena dia seorang wanita ya bisanya menunggu.

"Calonmu orang Jakarta?"

"Calon siapa?"

Itu suara Naga, dia sedikit terkejut melihat Kinan.

"Kamu cuci muka dulu sana," titah mama yang tak ingin dilakukan Naga.

Laki-laki itu baru bangun tidur, sejak mama datang hari Minggu dalam bulan ini tak lagi sama seperti bulan lalu.

"Nanti saja." duduk di samping mama pria itu memperhatikan Kinan.

"Mama lagi ngomongin tentang kalian, sama seperti ibu Kinan perasaan Mama tidak enak kalau kalian belum nikah, usia juga sudah matang."

Kinan tidak merespons, sedikit canggung dengan tatapan Naga.

"Jadi orang mana calonmu?"

"Belum ada Tan," jawab Kinan.

"Kirain sama kaya Naga, orang Jakarta juga."

Sebiasa mungkin ketika wanita itu membalas tatapan Naga. Dia tidak berhak tahu siapa calon Naga, hubungan mereka tidak normal. Setegas mungkin Kinan menegur hatinya jika yang dilakukan pria itu wajar.

"Mama masak apa?" Naga bertanya tanpa melepaskan tatapan pada wanita yang duduk di hadapannya.

"Banyak, untung Kinan datang kita bisa makan bersama."

"Aku sudah makan Tante." Kinan tidak tahu cara berpamitan padahal sangat ingin pergi dari apartemen tersebut.

"Loh, yang benar?" mama Naga menghentikan langkahnya dan kembali mendekat ke sofa.

"Iya, tadi sama teman dari restoran baru mampir ke sini." Kinan yakin ia tidak akan bisa menelan butiran nasi itu jika mama Naga memaksanya. "Enggak bisa lama juga teman menunggu di bawah, besok aku mampir lagi."

"Benar-benar ya kalian, hari Minggu juga sibuk?"

"Maaf." lutut Kinan bergetar untung dia masih duduk, wanita itu harus segera pergi.

Naga tidak mengatakan apa-apa, dia marah dengan alasan yang tidak diketahui oleh Kinan.

"Tunggu sebentar, Tante bungkusin. Nanti tinggal panasin bisa makan sama temanmu."

Kinan tidak menghindari tatapan Naga, dia sedang sibuk menenangkan diri. Upaya yang telah dilakukan satu bulan terakhir tidak mudah, wanita itu stress hingga asam lambungnya kumat. Bagaimana dengan kabar hari ini, ia sudah memprediksi namun kenapa sesulit ini?

Detak jantung menggila, marah pada diri sendiri karena hati tak mau tunduk pada logika.

Naga punya pilihan, tolong terima. Jangan paksa aku, aku tak sekuat sangka kalian.

Dengan langkah tertatih keluar dari apartemen, air mata tak terbendung seiring dengan kesakitan yang cukup menyiksa. Tidak ada yang menunggunya, karena atas inisiatifnya sendiri pergi dari sana.

Tidak ada satupun taksi yang dihentikan, kakinya melangkah menyusuri koridor jalan.

Sepanjang jalan ini, perasaannya tercecer seperti tak ternilai.

Gerimis tidak menghentikan langkahnya, ketika sikunya terluka karena sebuah mobil yang lewat tidak juga membuat wanita itu meringis.

Dia sudah punya calon, tapi Kinan tidak tahu. Hei, ada atau tidak aku tetap harus pergi, dia layak bahagia dengan pilihannya. Duhai hati tolong pahami aku.

Seutas RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang