Tidak sama seperti dulu, rintik dari langit tidak menjadi asa tidak juga meleburkan luka....
Ga, gue enggak pernah nyesal sayang sama lo,
💔
Siku Kinan tidak sakit dan tidak perlu diobati tapi Nora bersikukuh membersihkan lukanya. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Kinan, pulang dalam keadaan basah membuat rekannya itu terkejut dan langsung memarahinya.
Mengenakan baju Nora wanita itu duduk menghadap ke jendela melihat rintik hujan di senja itu.
"Setiap hujan, yang gue pikirkan lo."
Kinan tersenyum memeluk erat tubuh Naga dalam balutan selimut yang sama.
"Karena lo, gue suka air dari langit itu."
"Hujan itu rahmat, karenanya bumi dianggap anugerah oleh makhluk hujan juga bisa meleburkan luka, gue udah buktiin."
Naga mengangguk, masa terpuruk Kinan adalah saat wanita itu kehilangan satu-satunya kakak lelaki.
"Ga."
"Eum."
"Tidak ada yang perlu kita omongin tentang hubungan ini?" tanya Kinan suatu senja.
Naga menggeleng. "Seperti ini gue udah senang, Nan. Cukup ada lo di samping tidak akan ada masalah."
Tidak ada yang perlu dibicarakan hingga tahun-tahun itu terlewati dan musim pun kian berganti. Hari ini obrolan mereka terhenti bahkan sebelum menyinggung hubungan yang tak terarah itu.
"Suatu saat orangtua akan menuntut, gimana?" itu bukan pertanyaan memancing karena hubungan mereka mulai direspons serius oleh Kinan.
"Gue udah punya kriteria, tinggal nyari calonnya."
Setelah itu tak ada lagi tanya, setiap obrolan santai hanya melibatkan mereka seolah mengerti keinginan masing-masing nyatanya hanya ada satu pihak yang memahami akan ke mana arah hubungan mereka.
Terlanjur bersama, melewati hari yang dianggap pantas berpikir sama-sama telah dewasa sementara fakta berkata lain dan terlihat jelas siapa yang lebih tersakiti.
"Lo ketemu Naga?"
Kinan tidak menjawab. Dia datang untuk menyapa orangtua laki-laki itu bukan untuk menemuinya.
Menangis dalam diam begitu menyiksa, sulit melupakan hari yang telah dilewati bersama laki-laki itu, bukan satu atau dua tahun mereka sudah saling melengkapi dan harus melepaskan dengan cara seperti ini.
Sungguh Kinan tidak akan bertanya arti kebersamaan mereka tidak akan mengungkit waktu yang akan segera menjadi kenangan, ia bersumpah akan diam di depan laki-laki itu. Tidak ada yang memaksanya untuk menghabiskan waktu bersama Naga pun sebaliknya.
"Sakit bukan?"
Kinan tidak ingin mengusap air matanya, tak perlu memaksa ia akan berhenti setelah puas menangisi kehilangan separuh jiwanya.
"Lo udah tahu dari awal tapi belum yakin sebelum ngrasain sakitnya."
Tegar seorang diri tidak ada sandaran yang bisa dihampiri, jiwanya seperti melayang logika lenyap tak berjejak dan hati dikuasai rasa sesal.
"Dia telah memilih dan lo terpaksa berhenti dan pergi."
Bahkan kata-kata Nora tidak bisa menyaingi kesakitannya akibat kecewa pada dirinya sendiri.
"Lo mau gue diam, Nan? Gue enggak bisa."
Kinan menggeleng, "Pliss Ra, gue enggak mau ngemis." suara Kinan samar, isak tangis itu memilukan.
"Seenggaknya bangsat itu harus tahu keadaan lo!"
"Jangan, cukup lo." Tuhan, ini sakit. "Gue bisa melewatinya."
Kinan menunduk kembali meresapi kesakitan yang telah dimulai oleh dirinya sendiri, bentuk kecewa yang teramat dalam yang dipersembahkan oleh jiwanya.
Dia berhak memilih dan aku pantas pergi. Pernah bersama bukan berarti harus melangkah bersama, biarlah waktu yang terlewati menjadi kenangan yang mungkin akan kusimpan seumur hidup.
Tidak akan kuceritakan kisah yang berakhir tragis pada orang-orang yang singgah dalam hidupku nanti.
Lembaran akhir telah usai, penaku tak lagi bertinta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Seutas Rasa
RomansaKinan bukan kekasih Nagara tapi Kinan yang bisa mengerti pria itu. Nagara menganggap Kinan sebagai kebutuhan primernya setelah nasi dan tempat tinggal. Ketika dihadapkan pada keinginan orang tua untuk membawakan calon masing-masing, mereka mulai g...
