Sekilas dari yang dilihat oleh orang-orang rumah tangga Naga dan Arumi baik-baik saja sementara kesenjangan dirasakan oleh suami istri tersebut. Tanpa disengaja Naga mulai membandingkan sosok istrinya dengan sang sahabat yang tidak diketahui keberadaannya sampai detik ini.
Bisa dikatakan Kinan pelengkap sempura dalam hidupnya, tentu dikarenakan kebersamaan mereka yang terjalin cukup lama hingga kedua sosok itu tahu cara menyikapi pribadi masing-masing.
Naga sudah berusaha bersikap sebiasa mungkin agar sikapnya tak terbaca oleh Arumi tapi sebagai wanita tentu tahu jika suaminya menyembunyikan sesuatu darinya.
Naga tidak ambil pusing ketika Arumi menunda kehamilan, hal itu memicu kemarahan istrinya.
Jujur bukan seperti ini pernikahan yang diharapkan oleh laki-laki itu namun dia tidak menyalahkan Arumi, perlahan Naga mulai membaca keadaan yang diciptakan olehnya.
"Aku menghubungi sekretarismu."
Kinan tidak pernah bertanya, bahkan saat tidak sempat mengantar atau menjemputnya wanita itu akan pergi sendiri.
"Kamu sudah keluar dari kantor sejak sore tadi."
"Ada yang harus kulakukan."
Dalam beberapa hari ini laki-laki itu sering mengunjungi ke apartemen, menghabiskan waktu beberapa jam di sana sebelum pulang ke rumah.
"Oh."
Naga harus mendengar ketusan dan melihat raut sinis istrinya setiap kali ia pulang.
Ia tidak keberatan ketika Arumi menghubungi asistennya sekedar bertanya keberadaan, tapi sedikit tidak nyaman dengan sikap wanita itu.
"Kalau capek istirahat dulu," kata Kinan setelah membuka pintu.
"Capekku hilang dengan senyummu." yang dikatakan Naga benar, lelahnya tergantikan semangat ketika melihat Kinan.
Begitu cara Kinan menyambutnya, tanpa pernah bertanya. Bukan tidak sering meleset dari waktu janjian, tapi saat bertemu ia tidak pernah melihat kecewa di wajah sahabatnya.
"Kalau begitu mandilah, sebentar lagi lagi orangtuaku datang."
"Kenapa datang tiba-tiba?"
"Aku sudah mengirimkan pesan sepertinya ponselmu tidak aktif."
Bukan jawaban itu yang ingin didengar oleh Naga. "Mereka memberitahumu tadi siang?"
"Apakah orangtuaku harus membuat janji terlebih dahulu?"
Lihatlah dia, wanita yang kupilih sesuai dengan kriteria berbicara padaku dengan gaya yang tidak kusukai.
"Oke, aku masuk dulu."
Berbeda jauh dengan Kinan, sahabatnya itu tidak pernah menyamakan posisi dengannya, berbicara dengan rendah hati dan bersikap sederhana.
Sekali lagi ini pilihanku, mungkin Kinan akan menertawakanku.
Di kamar mandi lagi-lagi bayangan sahabatnya yang menari di benak laki-laki itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Seutas Rasa
RomantikKinan bukan kekasih Nagara tapi Kinan yang bisa mengerti pria itu. Nagara menganggap Kinan sebagai kebutuhan primernya setelah nasi dan tempat tinggal. Ketika dihadapkan pada keinginan orang tua untuk membawakan calon masing-masing, mereka mulai g...
