Kedua kali Kinan masuk ke rumah sakit bersama dengan laki-laki yang menolongnya beberapa hari lalu. Kali ini ia tidak tahu kenapa berada di tempat yang sama, siku dan lututnya juga baik-baik saja namun tubuhnya masih terasa lemas.
"Di mana suamimu?"
Pertanyaan pertama dari laki-laki yang menolongnya ketika ia membuka mata.
"Aku belum menikah."
Keduanya sama sekali tidak ingin berkenalan, lagipula mereka bertemu tanpa sengaja jadi tidak ada alasan untuk saling mengenal.
"Bagaimana kamu bisa hamil kalau belum menikah?"
Kinan tidak suka dengan pertanyaan laki-laki itu. "Terimakasih sudah membawaku kesini, tinggalkan nomor rekeningmu."
Berbicara tanpa menatap laki-laki itu dengan keadaannya yang cukup terbebani ditambah pertanyaan yang menyayat hati.
"Begitu caramu berterimakasih?"
Apakah ada cara lain? "Apa aku harus mengundang Anda makan malam?"
"Setidaknya ada permintaan maaf, aku menunggu semalaman di sini."
Baiklah. "Maaf sudah merepotkan Anda."
Laki-laki itu tidak percaya pada sikap Kinan, tidak bertingkah namun menganggap sepele bantuan orang lain. Terlebih bukan 1 atau 2 jam tapi hampir 15 jam menunggu wanita itu siuman.
"Kamu lihat itu?"
Dengan terpaksa Kinan melihat kearah telunjuk laki-laki itu.
"Aku tidur di sana, bisa kamu bayangkan betapa tidak nyamannya malamku?"
Sekali lagi Kinan minta maaf karena sudah merepotkan laki-laki itu, seandainya dia sadar akan meminta laki-laki itu pergi.
Karena Kinan tidak pandai berbasa-basi dan memilih pindah ke Bandung karena tidak ingin melibatkan diri dengan banyak orang apalagi sampai memiliki hubungan, wanita itu bertanya pada pria yang masih berdiri di sampingnya.
"Katakan bagaimana caraku berterimakasih?"
"Karena itu kamu hamil?"
Kalimat pria itu menyinggung ketenangan Kinan. Dia bertanya baik-baik kenapa laki-laki itu mencelanya?
"Jadi wanita itu harus mahal, apakah cuma casing kamu terlihat berpendidikan?"
Kinan bisa membalas kalimat tajam laki-laki itu tapi keadaan yang tidak memungkinkan, jika memaksa bisa saja pria tersebut menertawakan kelemahannya.
"Anda menunggu untuk mencelaku?"
"Bukankah kamu sudah tercela dengan hamil tanpa memiliki suami?"
Bukan hanya kandungan dan perasaannya pada Nagara yang menjadi beban saat ini, sosok laki-laki yang yang telah membantu sepertinya ingin menguji kesabarannya.
"Sepertinya Anda menghabiskan banyak uang untuk menolongku, katakan nominalnya."
Kinan memaksa bangun untuk mencari tasnya, tidak harus pergi ke ATM melalui ponsel dia bisa membayar uang laki-laki itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Seutas Rasa
RomanceKinan bukan kekasih Nagara tapi Kinan yang bisa mengerti pria itu. Nagara menganggap Kinan sebagai kebutuhan primernya setelah nasi dan tempat tinggal. Ketika dihadapkan pada keinginan orang tua untuk membawakan calon masing-masing, mereka mulai g...
