.
Naga sedang memperbaiki hubungannya dengan sang istri setelah kejadian malam itu keduanya tak saling menyapa. Arumi yang juga seorang wanita karir menyibukkan diri dengan pekerjaannya dan sebagai laki-laki Naga tidak bisa diam saja. Sebelum orangtua ikut campur dia akan berusaha agar Arumi memaafkannya.
"Aku belum tahu alasanmu menangis malam itu."
Naga meraih tangan Arumi.
"Lepaskan!"
"Sampai kapan, Arum?"
"Tanyakan pada diri sendiri Mas, jangan menyuruhku menebak." Arumi memaksa melepaskan genggaman tangan Naga dari lengannya.
"Mas membuatku bertanya-tanya tanpa ingin mengatakan sesuatu."
"Tidak ada yang berarti. Hanya masalah di kantor."
Arumi berhasil melepaskan genggaman Naga. "Mas pikir aku bodoh?"
"Jangan seperti ini." Naga memohon dengan baik-baik. "Ini bukan masalah serius, dengarkan aku."
"Aku sudah menunggu lebih satu minggu dan hari ini Mas menemuiku karena ingin memenuhi undangan mama?"
Dua kali mengelak dari undangan makan malam, benar tapi bukan itu tujuan utama mengajak Arumi bicara. Bagaimanapun ketidakharmonisan rumah tangganya akan segera tercium di keluarga besar dan Naga tidak ingin hal itu terjadi.
"Jadi kita akan tetap seperti ini?"
"Mas yang mau, bukan aku!" Arumi wanita tegas, jika sudah berkomitmen maka prinsipnya harus jujur tanpa ada yang disembunyikan.
"Aku sedang drop, masalah di kantor berat. Apa semua hal harus kukatakan padamu?"
"Aku istri Mas, partner hidupmu sampai tua nanti wajar jika aku tahu semua masalahmu."
Oke, masalahnya ini bukan hal yang bisa dikatakan pada Arumi karena akan terjadi pertengkaran hebat atau suatu hal buruk. Normalkah kalau gue bilang lagi rindu sama teman gue, bisakah Arumi menerimanya?
"Masalahnya sudah selesai, aku juga baik-baik saja apakah itu tidak bisa jadi pertimbangan?"
Arumi menggeleng. "Silahkan kalau mau ke rumah mama, jangan ngajak aku!"
"Arumi!"
"Jangan membentakku!"
"Aku memanggilmu, please dengerin aku ya?"
"Katakan kenapa Mas menangis malam itu, kamu punya wanita lain?"
Naga tertegun. "Apa maksudmu?"
"Jadi benar?"
"Arumi!"
Sekali lagi Arumi menegur Naga agar tidak membentaknya. "Dua tahu Mas kita berhubungan, menjaga dengan baik sampai berani mengambil keputusan untuk berkomitmen!"
Naga menarik Arumi dalam pelukannya, ia tidak bisa melihat wanita menangis sementara hatinya amat merindukan Kinan.
"Kita menikah dengan rencana matang tapi kenapa aku tidak boleh tahu alasan Mas menangis?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Seutas Rasa
RomanceKinan bukan kekasih Nagara tapi Kinan yang bisa mengerti pria itu. Nagara menganggap Kinan sebagai kebutuhan primernya setelah nasi dan tempat tinggal. Ketika dihadapkan pada keinginan orang tua untuk membawakan calon masing-masing, mereka mulai g...
