Batas kesabaran Arumi

8.2K 527 39
                                        

"Bukannya kamu menundanya?"

"Kenapa, Mas tidak senang?"

Naga tidak mengatakan seperti itu, tapi dia tidak memprediksi karena seperti yang dikatakan oleh Arumi jika wanita itu tidak akan hamil dulu sebelum hubungan keduanya membaik.

"Kamu sudah ke dokter?"

"Aku baru menggunakan ini." Arumi memberikan tespack-nya. 

"Artinya kamu juga baru tahu?" Naga tidak mengambil benda tersebut. 

Dia pulang mengikuti saran orang tuanya dan Arumi menyambut dengan kabar yang harusnya menggembirakan.

"Sepertinya kamu ragu."

Naga tidak memberikan tanggapan, kabar ini mengejutkannya. Dia tidak pulang untuk mendengar kabar tersebut namun dia tidak bisa mengelak jika sesuatu bagian darinya sedang tumbuh di rahim Arumi.

Lalu bagaimana dengan Kinan?

"Aku akan melakukan tes DNA begitu dia lahir."

"Bukan seperti itu maksudku, maaf aku terlalu kaget."

Sikap seperti apa itu? Arumi tidak percaya melihat Naga berbalik dan masuk ke ruang kerjanya. Laki-laki itu baru kembali seharusnya kamar bukan ruangan itu yang dituju atau setidaknya ada ucapan selamat.

"Mas mengajakku bertengkar?!"

"Kita akan berbicara setelah aku istirahat," jawab laki-laki itu lantas masuk ke ruang kerjanya tanpa menoleh lagi.

Arumi sudah sesabar ini, didiamkan seperti tidak dianggap bahkan saat laki-laki itu ada masalah.

Untuk melampiaskan amarah harusnya kepala laki-laki itu yang dipukul dengan tongkat bisbol bukan guci dan vas bunga serta lemari berisikan benda-benda mewah.

Bukan tidak mendengar kekacauan di luar, Naga sendiri sedang bingung. Kesalahannya karena meninggalkan Kinan semakin terasa, karma atau kutukan tidak bisa dipastikan yang jelas ini menyakitkan.

Tidak akan berat jika firasatnya baik-baik saja, tapi hatinya mengatakan bahwa disana Kinan tidak baik-baik saja dan sekarang ditambah kabar kehamilan sang istri. Naga mendongak menatap atap ruang kerjanya, marahmu sudah sedahsyat ini?

Pria itu bertanya pada semesta yang lebih mengetahui perasaannya, salahnya terlalu fatal karena telah menyakiti hati wanita. Ia tidak ingin semesta memaksa agar dirinya memilih salah satu di antara mereka terlebih dalam keadaan saat ini.

Lebih baik sebuah hukuman berat setelah itu terserah.

Kekacauan di luar diredakan oleh asisten rumah tangga mereka. Di depan pembantu Arumi memaki suaminya, mengetahuinya dengan ucapan-ucapan kotor disebabkan hati yang terlanjur kecewa pada laki-laki yang telah berani memilihnya tapi tidak bisa memperlakukannya dengan baik.

"Siapa dia aku ingin tahu!"

Arumi menatap tajam laki-laki yang baru saja keluar dari ruangan kerja.

"Sehebat apa dia dibandingkan denganku, semua wanita di dunia ini akan rendah bila dibandingkan dengan istri sah!"

Pembantu meninggalkan suami istri tersebut dengan wajah cemas.

"Kenapa kamu diam saja?"

Arumi tidak ingin memandang rendah pada dirinya sendiri, dia tidak pernah mengganggu kehidupan orang lain dan sekarang ketika menyandang status istri seseorang dengan berani mengusik rumah tangganya.

"Ingat, Aku tidak pernah menawarkan pernikahan. Sebagai rekan hubungan kita cukup baik, aku berpikir lebih baik seperti itu tapi apa yang kamu lakukan? Dengan berani kamu menawar sebuah komitmen, di hadapan Tuhan Kamu berjanji dengan gentle-nya kamu mengambil tanggungjawab orangtuaku!"

Dalam keadaan seperti ini bisakah Naga berbicara terus terang tentang keadaan hatinya yang tidak baik-baik saja?

"Jangan diam saja, katakan sepatah kata. Jika memang harus pergi aku akan pergi."

Kalimat itu menyengsarakan sekeping hati, tapi demi kebaikan untuk kedepannya lebih baik berani mengambil keputusan sekarang ketimbang menunda yang tanpa disengaja sedang merencanakan luka lebih dalam.

"Aku tidak menyuruhmu mendekat, Mas!"

Naga menghentikan langkahnya. Dipandanginya Arumi dengan baik, merekam semua kenangan dalam waktu singkat ini. Pernikahan yang diinginkan olehnya tidak berjalan dengan baik karena, "Aku sudah melakukan dosa pada seseorang."

Arumi tersenyum masam, dugaannya tidak pernah salah. 

"Kamu mengkhianatiku Mas?" suaranya redam oleh tangis dan sarat dengan kecewa.

Naga menggeleng. "Aku mengkhianatinya, dan aku tidak tahu di mana dia sekarang."

"Jadi pernikahan ini di atas tangisan wanita itu?"

Naga tidak menjawab tapi tatapannya lurus pada sang istri.

"Benar begitu Mas?"

Arumi bukan wanita jahat, dia lahir dari orangtua berpendidikan dan menjunjung tinggi nilai dan moral seorang wanita.

"Aku berada diantara kalian, apa aku sejahat itu?"

"Maaf." 

Arumi tidak melihat semangat hidup dalam tatapan suaminya, relung manik itu tampak kosong bisa dirasakan olehnya Naga di ambang keputusasaan.

"Aku akan pergi."

"Tinggallah."

"Untuk apa?!" Arumi berteriak. "Aku tidak bisa hidup dengan laki-laki yang hatinya telah dimiliki oleh wanita lain, aku bukan budakmu!"

"Setidaknya sampai anak itu lahir."

Miris, ia tidak menyebabkan luka pada laki-laki itu tapi dengan teganya pria berstatus suaminya memilih posisi aman lupa jika semesta menyaksikan semua kejadian ini.

"Tenang saja." mereka akan selesai, Arumi tidak percaya ini. "Aku akan menjaganya dengan baik dan melahirkannya dengan selamat."

"Arum."

"Jangan memanggilku seperti itu!" Arumi berteriak. "Aku sudah menerimamu, mencintaimu layaknya seorang istri dan sekarang aku akan pergi untuk menyembuhkan luka hatiku."

Tawaran itu nyatanya tidak membuat bahagia, sebaliknya hubungan yang telah terjalin selama ini harus kandas begitu saja.

Di ruang tengah Naga duduk sendiri, Arumi tidak ingin mendengarnya lagi. Wanita itu pamit ketika mereka bertengkar disaat kata maaf tak terbalas.

Malam itu Naga tidak bisa berpikir jernih, kehamilan Arumi dan pertengkaran mereka hingga menyebabkan wanita itu pergi dari rumah sudah membuatnya hancur. 

Awal langkah yang salah namun tidak pernah peka pada setianya seorang wanita.

Arumi ingin menunda kehamilannya tapi wanita itu sedikit terlambat karena bagian dari Nagara sudah tumbuh di rahimnya.

Siapa kamu, kenapa selama ini aku tidak tahu apapun tentang seseorang yang dekat dengannya?

Aku penasaran kenapa kamu begitu berarti dalam hidupnya?

Aku tidak akan memohon, tapi aku mengasihani sesuatu yang sedang tumbuh di rahimku.

Air mata Arumi tidak bisa dibendung, mengemudikan mobil dengan hati-hati karena ini menjaga sesuatu yang berarti dalam hidupnya.

Bersama sepinya malam, wanita itu menangisi takdir singkat yang digaris dalam hidupnya. 

******

Tiga jiwa dalam kebingungan karena sebuah kata bernama cinta. Perangkap itu begitu kokoh, hanya mereka yang bersandar pada kesadaran logika yang bisa lolos dari belenggu itu.

Yang udah baca cerita full di karyakarsa maaciihh 😘

Seutas RasaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang