Sakit itu berawal dari luka

8.8K 987 30
                                        

"Dia yang nyuruh lo datang?"

"Gue juga yang gendong sampai ke mobil, sakit punggung gue!"

Nora baik banget. Kinan ingin tersenyum tapi tidak bisa, fakta beberapa jam yang lalu masih menari di kepalanya. 

"Jam berapa sekarang?"

"Kenapa, lo mau ke acara lamarannya?"

"Tidak," jawab Kinan. Melihat Naga saja dia serapuh ini bagaimana menyaksikan pria itu menyematkan cincin di jari wanita lain?

"Gue cuma nampar tu laki semalam, harusnya gue patahin kakinya." aksi Nora tadi malam hasil dari kemarahan yang dipendam, Naga berhasil membuat Kinan hancur harusnya dibalas dengan hal yang sama, sayangnya Kinan terlalu bucin.

"Dia enggak tahu gue di sini kan?" sekadar bertanya karena Kinan percaya pada temannya itu.

"Gue berharap lo mati terus jenazah lo gue bawa ke depannya, sakit hati gue sama tu laki!"

Kinan juga pernah berpikir, seandainya mati jalan keluar yang bagus akan dilakukannya. Tapi, kewarasannya belum terganggu, masih ada orangtua yang menyayanginya masih ada keluarga yang ingin melihatnya bahagia kendati tidak akan lagi didapatkan.

"Ra."

"Eum."

"Makasih," ucap Kinan dengan tulus.

"Enggak usah nangis, lo udah bikin gue marah." Nora memeluk temannya ikut menangis merasakan luka hati Kinan.

"Gue enggak tahu kalau enggak ada lo." Kinan kembali menangis, patah hati itu sakit ia akan mengatakan pada orang-orang terdekatnya agar tidak jatuh cinta.

"Cukup sekali ini gue punya teman sebodoh lo!"

Kinan mengangguk.

"Lo tolol, milih sakit sendiri!"

Kinan terisak, perasannya terlalu besar untuk Naga hingga ia tidak bisa memaksa apalagi menghancurkan mimpi laki-laki itu.

Dia juga sudah mengutarakan perasaannya secara tidak langsung tapi Naga tidak berbalik untuknya, di sini dirinya yang salah.

"Lo harus move on Nan, masih ada laki-laki di luar sana yang sayang sama lo."

Enggak ada yang pantas Nerima gue, status gue kotor dan gue bukan wanita baik-baik.

"Gue resign, Ra."

Nora terkejut. "Jangan buat keputusan segila ini, Nan." wanita itu melepaskan pelukan mereka. "Jangan karena laki-laki brengsek itu lo berhenti kerja."

"Gue cari kerja di kota lain." tangan Kinan terlalu lemah untuk mengusap air yang tak berhenti keluar dari pelupuk matanya.

"Kinan!"

"Gue enggak sanggup tinggal satu kota dengannya, lo ngerti kan Ra?"

Nora bisa merasakan kekecewaan Kinan, tapi ia tidak ingin temannya yang pergi. "Dia yang harus pergi Nan, bukan lo."

"Dia bukan karyawan, gue lebih tahu tentang dia." nyatanya Kinan tidak tahu apa-apa. Bahkan tentang calon Naga, yang dia tahu hanya detail tubuh laki-laki itu.

"Konfliknya ada di gue, jadi gue yang harus pergi."

"Dan dia bersenang-senang dengan wanita itu?!"

Harapan gue seperti itu, hanya posisi gue yang salah dalam hidup Naga.

"Gue harus pergi, kalau masih di sini gue akan tersiksa."

Di mata Nora, raga Kinan seperti tidak memiliki jiwa. Wajah itu datar, tak lagi berwarna karena sakit telah merenggut setengah kewarasan wanita itu.

"Jujur sakit banget."

Sejak kapan Naga memiliki calon, selama ini ia selalu bersama laki-laki itu tidak ada keanehan dari sikapnya.

"Ini lebih sakit ketimbang saat mas gue berpulang."

Minus satu bulan kemarin, tepatnya sejak mama Naga datang mereka tidak pernah lagi menghabiskan waktu bersama.

Apakah saat Naga mengatakan memiliki kriteria sendiri sebenarnya wanita bernama Arumi itu sudah ada?

"Gue terlalu berharap padahal Naga sudah memberi kode."

Bakal kain, mukena, sepatu dan cincin lamaran itu bukan miliknya. Naga menyiapkan semuanya dengan sempurna dan sebagai teman ia tidak sanggup melihat proses hari ini.

"Dia lebih salah, tolong kembali pada logikamu."

Nora tahu akan percuma mengingatkan temannya itu. "Harusnya dia melepaskan lo karena dia sudah memilih, buktinya dia ngikat lo bahkan udah kaya istri setiap jam nyariin lo."

"Lo udah siap, sedang gue enggak pernah siap jauh dari lo."

Kalau lo enggak siap harusnya Arumi tidak ada.

"Gue yang salah Ra, gue." Kinan menepuk dadanya. Sakit yang luar biasa tidak pernah terpikirkan, cinta bisa segila ini.

"Tidak perlu membencinya, sebagai wanita gue goblok. Gue jatuh sejatuh-jatuhnya." dan gue jatuh cinta pada laki-laki yang tidak memiliki perasaan yang sama seperti gue.

"Oke, jika dengan pergi bisa buat hidup lo lebih baik silahkan. Hubungi gue kalau ada apa-apa, kabarin setiap hari."

Nora ikut patah. Harusnya disaat seperti ini Kinan didampingi oleh seseorang bukan pergi dan berdiri sendiri tapi apa mau dikata, sandaran wanita itu telah patah karena dari awal hanya dia yang merajut sedang pria brengsek itu menikmati rajutan indah milik temannya.

"Lo berhak milih jalan hidup sendiri, tapi gue mohon lupakan si brengsek itu."

Walaupun tidak bisa, gue enggak akan mengusik kehidupannya. Hati gue mungkin nangis melihat wanita yang berdiri di sampingnya tapi percayalah bibir ini akan selalu tersenyum.

"Makasih banyak. Lo----"

"Gue enggak mau dengar Nan. Gue cuma mau lihat lo hidup bahagia tanpa Naga, lo jadi wanita kuat tanpa laki-laki bejat itu!"

Kinan ingin memeluk temannya. Selain Nora, ia tidak tahu kepada siapa harus meluahkan kesakitannya. Bukan tidak percaya ibu, tapi wanita itu tidak ingin orangtuanya membenci Naga.

"Gue bilang makasih karena lo harus muter dulu pas Naga ngikutin lo. Makasih udah dengerin unek-unek gue."

Dua wanita itu menangis tersedu-sedu.

"Ra, peluk gue."

Di karyakarsa sudah tamat sayang



Di karyakarsa sudah tamat sayang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Seutas RasaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang