Kinan tidak ingin berhubungan dengan siapapun terlebih dengan kaum Adam, keadaan hidup yang tidak pernah dibayangkan membuatnya pesimis hingga sedikit demi sedikit harapannya terkikis dan wanita itu kehilangan rasa percaya diri.
Imbas patah hati begitu dahsyat sayangnya Kinan tidak pernah memprediksi akibatnya akan se-fatal ini. Dulu hanya berpikir sekilas, jika tidak berjodoh dengan Naga ia bisa menghabiskan waktunya seperti biasa tanpa sedikitpun menyangka akan seperti ini.
Langkahnya sejak awal sudah keliru dan sekarang memilih bungkam tak seorang pun tahu kisah pahit yang tengah menimpanya. Sahabatnya tahu jika dirinya sedang patah hati tidak dengan janin yang sedang dikandung wanita itu. Kinan memilih sendiri setelah seseorang melepaskannya demi wanita baik-baik yang sudah dijadikan suri rumahtangga.
"Tidak perlu mengunjungiku setiap hari."
"Kamu pikir aku melakukannya dengan suka rela?"
Byan Hendrawan yang tak lain adalah ayah dari anak yang ditolongnya. Meski tidak setiap hari laki-laki itu kerap berkunjung karena permintaan dari putrinya.
"Kamu lihat ini?" Byan memperlihatkan layar ponselnya pada Kinan. "Putriku tidak percaya sebelum aku mengirimkan fotomu."
Kinan terkejut melihat beberapa fotonya terpampang di layar tersebut tepatnya di room chat Byan dengan Arleta.
"Itu ilegal anda tidak meminta izinku."
"Apa itu penting sekarang?" Byan tidak percaya mendengar kalimat wanita itu. "Aku pikir kamu akan mencari cara agar Arleta tidak menyuruhku datang ke sini lagi.
"Itu bukan urusanku."
Ketika Kinan bangun Byan memperhatikannya, wanita itu seperti kesusahan saat menggerakkan tubuhnya. Padahal dari dokter laki-laki tak tahu jika Kinan tidak mengalami luka serius yang mengakibatkan cacat apalagi kelumpuhan. Tapi kenapa tubuhnya seperti orang yang akan kehilangan nyawa?
"Kamu sudah makan?"
Tanpa menoleh Kinan menjawab, "Apa itu penting?" lantas wanita itu masuk ke kamarnya meninggalkan Byan.
Berawal dari saling sapa kemudian tumbuh keingintahuan dan berakhir dengan perhatian selanjutnya sudah bisa diprediksi akan seperti apa Apa hubungan dua orang yang awalnya tidak saling mengenal itu
Begitulah normalnya sebuah progres, Kinan tidak bisa dan tidak ingin melakukannya.
Ditinggal begitu saja oleh Kinan tidak membuat laki-laki itu tersinggung. Tanpa sadar Byan mulai memikirkan raut tak bersemangat milik Kinan, tidak perlu ada rasa untuk sebuah empati tapi dia tergelitik untuk mengetahui sebab wanita itu memilih hidup seperti ini.
Dengan inisiatifnya Byan masuk ke dapur wanita itu. Ia akan mencari beberapa bahan makanan, mungkin ada sesuatu yang bisa dimasak.
Masih adakah sekarang laki-laki yang tidak bertanggung jawab?
Byan tidak menemukan apa-apa di lemari pendingin, sebutir telur pun tidak ada. Lalu apa yang dimakan oleh wanita itu sehari-hari? Saat memeriksa tempat sampah benda itu juga bersih, apakah dengan tubuh lemah itu dia mencari makan di luar?
Atau wanita itu sendiri yang memilih pergi karena orang tua dari si-lelaki tidak menyetujui hubungan mereka?
Apapun itu rasanya tidak masuk akal, ada cara yang lebih baik tanpa melukai diri tapi memilih cara brutal hingga merepotkan orang banyak.
Termasuk aku, gara-gara dia Arleta selalu memintaku memastikan keadaan wanita itu.
Cukup selama berada di dapur namun tidak ada yang bisa diolah untuk dijadikan makanan. Apakah aku harus memesannya, bagaimana kalau dia tidak mau makan?
Ketukan pintu kamar membangunkan Kinan. Wanita itu tidak akan terlelap tanpa memikirkan Naga, cukup dengan memikirkannya beban berat perlahan hilang dan akan kembali mengusik ketika matanya terbuka seperti saat ini.
"Aku tahu mengganggu tapi keluarlah."
"Kenapa belum pergi?"
"Aku akan pergi setelah melihatmu makan."
Kinan tidak ingin mengulur waktu, ia pikir laki-laki itu sudah pergi dari tadi.
"Letakkan di situ."
"Apa ucapanku kurang jelas?"
Kinan tidak ingin berdebat karena sekarang ia hanya ingin tidur, apakah harus dijelaskan dengan detail pada laki-laki itu?
"Aku memintamu makan dan mengirimkan foto untuk putriku."
Apa yang dipikirkan Byan, sumpah Kinan tidak ingin terjebak dalam situasi seperti ini. Masalahnya sudah cukup rumit karena sampai detik ini rindunya masih menggebu pada laki-laki yang sama.
"Aku akan makan saat lapar nanti."
"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu tapi aku ingin memberi saran."
Kinan tidak ingin mendengar apapun. "Tidak perlu."
Byan tetap pada pendiriannya, seberat apapun masalah yang sedang dihadapi oleh Kinan sungguh wanita itu butuh penyemangat.
"Seandainya tidak hamil aku tidak perlu khawatir pada keadaanmu. Tapi saat ini kamu sedang mengandung, alangkah baiknya jika kamu berpikir sekali lagi."
Jika Kinan sedang baik-baik saja dan bersemangat seperti dulu mungkin wanita itu akan membalas tajam kata-kata Byan.
"Entah dari mana asalmu bukankah lebih baik kamu pulang dan berbicara baik-baik, melihatmu seperti ini aku yakin ayah bayi itu masih hidup."
"Apakah harus memanggil satpam untuk mengusir anda?"
"Kamu mencintainya mungkin begitu juga dengannya, tidak ada di dunia ini seorang ayah pun yang tega meninggalkan anaknya." Byan tidak peduli dengan niat Kinan yang ingin menghubungi petugas keamanan.
"Temui dia dan bicaralah, menurutmu ini mungkin jalan terbaik tapi percayalah mengalah di saat ini adalah sumber petaka di masa depan."
Kinan tidak perlu capek-capek untuk memikirkan motivasi yang diberikan Byan, ia sudah berpikir berulang kali sebelum bertindak.
"Terimakasih motivasinya, silakan pergi."
Byan kesal pada tanggapan wanita itu, tanpa melukai ia menarik Kinan dan membawanya ke ruang tamu. Terlalu lema, jangankan bayi dalam kandungannya membela dirinya saja tidak bisa.
Membuka kotak makanan yang telah dipesannya beberapa saat lalu kemudian menyuruh Kinan makan.
"Dua atau tiga sendok, Aku akan pergi setelah melihatmu makan."
Dari dua kotak makanan yang dibuka oleh Byan, Kinan tertarik pada donat berlumur cokelat.
"Ini saja."
"Baiklah, setelah donat Kamu berjanji mau makan nasi?"
Kinan tidak menjawab, dia tidak lapar. Seleranya tergugah ketika melihat kue berlubang tengah. Ia sama sekali tidak grogi dengan tatapan Byan.
Dari pengamatan Byan, wanita itu terlihat tidak menikmati. Menggigit dengan perlahan kemudian mengunyahnya, Byan harus menunggu beberapa saat untuk memastikan Kinan menelan kue tersebut.
Tatapan wanita itu kosong tidak terlihat binar menandakan kehambaan sekeping hati seperti ditinggalkan oleh kekasih.
"Aku bersedia mengantarmu, jadi katakan saja kapanpun kamu mau."
"Aku hanya ingin pergi dari hadapanmu." Kinan berkata jujur, setelah Naga orang kedua yang ingin dihindari oleh wanita itu adalah Byan.
"Kamu tidak pandai bersyukur, jika aku tidak berada di sini kamu akan bergelar almarhumah."
"Anda bukan jurnalis dan aku bukan seorang aktris, apa yang membuat anda tertarik dengan kehidupanku?"
"Aku tidak tertarik jika kamu mau hidup dengan normal dan mendengarkan saranku, karenamu orang yang cukup sibuk sepertiku harus mendengarkan perintah Arleta." Byan tidak percaya dengan pekerjaan sampingan yang diberikan oleh putrinya.
"Kalau anda tidak bisa maka aku yang akan pergi."
Tamat
.....
Cerita lengkap di karyakarsa
KAMU SEDANG MEMBACA
Seutas Rasa
RomanceKinan bukan kekasih Nagara tapi Kinan yang bisa mengerti pria itu. Nagara menganggap Kinan sebagai kebutuhan primernya setelah nasi dan tempat tinggal. Ketika dihadapkan pada keinginan orang tua untuk membawakan calon masing-masing, mereka mulai g...
