"Hai Nona Dora!!" sapanya.
***
Tentang Anka yang berjuang mewujudkan mimpi demi menyembuhkan adik tersayangnya, Apin. Tentang Luna yang ingin menemani langkah Anka bersama teman-temannya. Tentang Gio, Anya, Vania dan mereka penghuni Skydream.
Semua...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
:: Finding Boots ::
:: :: ::
LUNA is good girl. Dia adalah anak tunggal kepala polisi. Sedari kecil sudah diajarkan moralitas, keagamaan, cinta negeri, dan dididik dengan penuh kedisiplinan. Pantang bagi Luna melakukan pelanggaran, kecuali kalau urgent dan merasa bosan.
Karena Luna adalah murid baru di Skydream. Maka sebagai siswa baru, Luna ingin menjaga image-nya di hadapan siswa-siswi, guru dan seluruh warga sekolah. Oleh sebab itu, dari pada menyusup ke wilayah Akang dan ketangkap basah, lebih baik Luna kembali ke asrama dan mencoba menghubungi Anka melalui sambungan telepon ke ruang keamanan.
"Gimana?" Anya menggerakkan bibir tanpa suara, kala mendekati Luna yang sedang menggunakan gagang telepon kamar asrama.
"Oh, begitu ya. Baik, Pak. Terima kasih. Mohon maaf sudah mengganggu waktunya."
Luna meletakkan kembali gagang telepon di tempatnya. Wajah kusam gadis itu terlihat lesu. Dia melirik jam dinding di kamar. Pukul 15.49. Seharusnya Anka masih ada di ruang pengawasan 'kan? Batin Luna.
"Nggak ada."
Luna mengembuskan napas kasar. Kalau sampai sore nanti pemuda aneh itu tidak muncul, bagaimana nasib Luna di jam olahraga? Masa' iya dia pakai pantopel, kalau main voli dan basket sih Luna bisa saja. Tetapi besok masalahnya adalah main footsall.
"Tenang aja, Lun. Nanti malam kita bisa menyelinap ke asrama Akang. Gue punya orang dalam, santai aja," kata Anya sembari merangkul pundak Luna.
"Aku ikut!" seru Vania dari ranjang susun bagian atas, tepat di atas tempat tidur Anya. Gadis berwajah bundar itu tersenyum lebar.
"Mari kita buat rencana!" pekik Anya.
***
Tepat setelah salat maghrib, tiga gadis penghuni kamar 306 ini berjalan menghimpit dinding kantin dengan mengendap-ngendap menuju pintu gerbang belakang, yang merupakan akses jalan menuju WUP (Wilayah Umum dalam Pengawasan). Sesekali mereka membungkuk, bersembunyi di pagar tanaman saat ada guru yang masuk dari gerbang belakang.
Jika malam tiba, akses WUP hanya diperbolehkan untuk para guru, staff sekolah dan murid ektrakulikuler tertentu, selain itu tidak semuanya harus mendapatkan izin dahulu dari tim pengawas dan keamanan Skydream.
"Kan, apa gue bilang. Kalau jam segini, penjaganya hanya satu orang," bisik Anya menunjuk pada seorang lelaki dewasa yang duduk di pos dekat gerbang belakang. "Vania ini saatnya lo beraksi," kata Anya berlagak sok serius dengan mengepalkan tangan di depan wajah, menyemangati Vania.
"Nanti kabari aku ya, kalau kalian lihat Aa' Jeno," pesan Vania. "Semangat!" sambung gadis berkepang dua itu.
Keadaan tempat yang remang oleh cahaya, membuat Vania hampir tersungkur saat melewati tanaman pagar setinggi lutut yang membujur sepanjang jalan. Baik Anya maupun Luna harus menahan tawa menyaksikan kecerobohan Vania.