:: Fathers ::
::
::
::
KEPULAN asap wangi pandan menguar dari bolu kukus yang baru saja diangkat dari oven. Aromanya memenuhi ruang tamu dan menyebar sampai teras depan, mengundang seorang kepala keluarga memasuki rumah dan meninggalkan aktivitasnya membersihkan rumput liar.
"Wah-wah! Wangi bolu pandannya menggoda iman sekali ini."
Sriani dan putrinya menoleh ke sumber suara, memandang dengan senyum semringah kepada lelaki paruh baya yang mengenakan kaos oblong dan celana pendek rumahan.
"Buatnya banyak sekali, Bu," celetuk ayah Luna sambil mencomot satu potong bolu pandang di dalam kotak bekal milik putrinya.
"Iya, sengaja, Yah. Mau ibu bagiin ke tetangga juga," jawab Sriani.
"Ayah, jangan ambil yang ini." Luna menarik kotak bekalnya menjauh sembari memasang raut memberegut pada ayahnya. "Ini punya Apin sama Anka tahu!" sambungnya.
Sriani geleng-geleng melihat tingkah putrinya.
"Ayah makan yang ini saja. Bolu kukus di kotak itu spesial, Yah. Luna buat sendiri, loh, khusus untuk Anka," ujar Sriani lalu memberikan sepiring potongan bolu pandan yang sudah disusun rapi ke sisi meja dekat suaminya duduk.
"Ealah! Khusus buat Anka, tho. Ayah nggak tahu."
"Enggak, bukan buat Anka aja. Ibu, mah, ngasih tahunya setengah-setengah. Ini buat Apin sama Anka, Ayah-Ibu! Apin dan Anka," jelas Luna mengkoreksi kesalahpahaman kedua orang tuanya.
Baik Sriani maupun AKBP Adhi sama-sama tersenyum menyaksikan putrinya yang tampak salah tingkah itu.
AKBP Adhi menggeser duduknya mendekati Luna dan merangkul pundak putri sematawayangnya itu. "Ngomong-ngomong, kamu kapan balik ke asrama lagi, Nak? Wali kelasmu kemarin menelepon Ayah."
Luna tak langsung menjawab. Dia pura-pura sibuk menata kotak bekal di dalam tas dan berniat hendak mengalihkan pembicaraan.
"Ayah hari ini nggak tugas?"
AKBP Adhi mengdengkus pelan. "Jawab dulu pertanyaan Ayah. Kapan kamu balik ke asrama Skydream?"
"Entahlah, Yah. Boleh nggak sih, kalau Luna tetap di rumah aja, nggak usah tinggal di asrama Skydream?" tanya Luna.
Sriani ikut duduk di dekat Luna. Jadilah sekarang gadis berambut pendek itu duduk dengan dihimpit oleh kedua orang tuanya.
"Luna, kenapa kamu nggak mau balik ke asrama? Ada masalah apa?"
Cepat-cepat Luna menjawab. "Nggak ada, Bu."
"Kamu bertengkar dengan teman sekamarmu?" tanya Sriani yang langsung membelalakkan mata gadis kecilnya. Naluri seorang ibu benar-benar kuat, Luna mengakui itu.
"O, nggak, Bu. Bukan bertengkar kok, hanya saja ada kesalahpahaman di antara kami."
"Jadi itu yang buat kamu enggan masuk asrama lagi?" tanya AKBP Adhi.
Luna mengangguk tipis. Hal ini memicu sang ayah untuk mengeratkan rangkulan di pundak putrinya. "Nak, kamu nggak capek menghindar terus kayak gini?"
Batin Luna bergejolak. Capek? Iya, Luna capek banget harus perang batin setiap kali bertemu Anya. Rasanya serba salah, ingin kembali bertegur sapa dan dekat seperti sedia kala, tetapi Luna belum siap mendapat respons tak mengenakan dari Anya.
Luna takut Anya justru semakin kesal dan berakhir benar-benar memusuhinya.
"Kalau kamu terus-terusan lari dari masalah, yang ada masalah itu akan terus mengejarmu. Kamu tahu bola salju?" tanya AKBP Adhi yang tiba-tiba keluar dari topik pembicaraan.
KAMU SEDANG MEMBACA
SKYDREAM 2012 [✔]
Novela Juvenil"Hai Nona Dora!!" sapanya. *** Tentang Anka yang berjuang mewujudkan mimpi demi menyembuhkan adik tersayangnya, Apin. Tentang Luna yang ingin menemani langkah Anka bersama teman-temannya. Tentang Gio, Anya, Vania dan mereka penghuni Skydream. Semua...
![SKYDREAM 2012 [✔]](https://img.wattpad.com/cover/299575528-64-k660438.jpg)