÷7. Luna's Resolve

53 9 3
                                        

:: Luna's Resolve ::

::
::
::

"SEJAK kapan?"

"Sejak awal semester pertama kelas sebelas. Ketika itu Ravi sedang membutuhkan uang untuk pengobatan adiknya di rumah sakit," jawab Anya yang berdiri di belakang kursi menjawab pertanyaan Luna.

Luna diam mendengarkan. Matanya tak lepas mengamati luka dan lebam merah kebiruan yang menghiasi wajah bengkak pemuda manis yang terbaring di brankar bangsal UGD rumah sakit. Dengan hati-hati Luna menekan handuk basah oleh air es itu ke memar yang membengkakkan pipi Anka.

"Ke mana orang tua Anka? Kenapa dia yang bekerja keras untuk pengobatan adiknya? Anka masih remaja, dia harus sekolah, bukan menjadi tukang pukul dan boneka mainan di tempat itu!" cecar Luna tanpa mengalihkan fokusnya. Gadis itu marah.

"Kalian juga! Sudah tahu Anka diperlakukan seperti hewan, kalian masih saja diam. Sebenarnya kalian ini punya hati nggak, sih?" Kini Luna berbalik badan, menatap bergantian kepada Gio dan Anya.

"Kami bisa apa, Lun? Kalau Ravi sendiri melarang kami," kata Anya memberitahukan kebenaran.

Sebagai seorang sahabat, Anya juga tidak ingin Anka disiksa tanpa belas kasihan di arena pertandingan yang tak seimbang itu. Anya dan Gio juga sama-sama ingin membantu meringankan beban Anka. Namun, pemuda itu terlalu keras kepala, dia tidak ingin merepotkan sahabat-sahabatnya.

"A-pin."

Anka mengigau dalam lelapnya. Dahi pemuda itu berkerut diikuti sepasang mata yang memejam makin rapat. Untuk sesaat, Luna terhenyak, mengamati garis-garis yang baru saja terbentuk di wajah Anka. Sepertinya remaja laki-laki ini sedang mengalami mimpi buruk.

"Sst! Anka!" Luna mengusap pelan punggung tangan kiri Anka yang berada di dekatnya, berharap pemuda itu kembali tenang dalam tidurnya.

"Apin," lirihnya lagi. Anka masih memejamkan mata, kali ini terlihat lebih tenang dan Luna tak berhenti mengusap punggung tangan pemuda itu sampai akhirnya gurat tidak nyaman di wajah Anka menghilang.

Luna menghela napas lega. Ia menyingkirkan mangkok es dan handuk ke kolong brankar. Setelahnya, gadis itu beranjak dari kursi.

"Anya! Aku ingin tanya satu hal sama kamu!" ujar Luna.

Anya tak bersuara, tetapi tatapannya mengisyaratkan bahwa dia sedang menunggu kalimat Luna berikutnya.

"Maksud kamu bohongin aku apa? Kamu bilang kamu nggak tahu siapa Anka, tapi ternyata kamu sangat mengenal dia bahkan bersahabat dekat dengan Anka," cecar Luna dengan nada rendah seperti biasa. Gadis berkemeja merah muda dengan sweater ungu di luarnya itu berusaha menahan amarah.

"Lun, gue minta maaf. Gue nggak maksud mempermainkan lo. Gue cuma jaga komitmen persahabatan kami berempat."

"Berempat?" Kedua alia Luna bertaut. Luna pikir cuma Anya dan Gio yang mempermainkan dirinya. Namun ternyata ada satu orang lagi yang ikut melukai hatinya. Luna berharap dia bukan Vania.

"Iya, gue sama Vania terpaksa harus pura-pura nggak kenal sama Ravi, maksud gue Anka. Karena itu memang permintaan Anka. Dia nggak ingin sembarang orang tahu siapa dirinya, hanya orang-orang tertentu yang boleh mengetahui siapa dan bagaimana Anka," jawab Anya.

"Terus maksud kalian apa? Kenapa kalian membiarkan aku mengetahui jati diri Anka? Padahal Anka sendiri tidak mau terbuka sama aku."

"Karena lo adalah satu-satunya cewek bahkan satu-satunya orang yang pernah Anka deketin semenjak kami mengenalnya. Lo satu-satunya orang yang bisa ngembaliin tawa Anka, Lun. Bahkan Kak Gio, aku dan Vania nggak pernah bisa buat Anka tersenyum. Cuma lo, Lun," jelas Anya penuh penekanan, berharap Luna mau membuka hati dan menerima alasannya.

SKYDREAM 2012 [✔]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang