÷11. Red Code, Sir!

37 7 8
                                        

:: Red Code, Sir! ::

::
::
::

"ANKA!"

Luna memekik lantang, mengharapkan Anka menghentikan kayuhan sepedanya sebelum melewati gerbang Skydream. Sayang, harapan Luna menguap. Anka tidak sempat memikirkannya, karena pemuda itu tak sanggup menahan kekhawatirannya atas sang adik di rumah.

"Pak! Saya mohon, biarkan saya keluar! Saya mau membantu teman saya, Pak! Adiknya dalam bahaya."

Luna memohon kepada si petugas keamanan yang mencegatnya di lorong.

Tepat beberapa menit usai bel masuk terdengar menggema di seluruh penjuru Skydream, seorang petugas keamanan wanita mendatangi Anka dan Luna di taman WUP.

Masih segar diingatan Luna, betapa paniknya wanita paruh baya itu saat mengabarkan kepada Anka bahwa ada orang asing yang menggunakan ponsel rumahnya untuk menghubungi telepon keamanan. Ibu petugas keamanan itu bilang, "Ravi, kamu harus pulang sekarang! Kalau tidak, akan terjadi sesuatu pada adikmu!"

Ketika itulah Anka melesat pergi, mengabaikan Luna yang meneriaki ingin ikut dengannya.

"Pak! Saya mohon!"

"Tidak bisa! Kamu harus masuk kelas, sekarang! Ini masih jam pelajaran! Ayo!"

"Nggak, Pak! Lepasin saya!"

"Masuk!"

Petugas berseragam hitam putih itu mendorong paksa Luna menjauh dari lorong keamanan. Di tengah usaha Luna memberontak, Vania datang dengan mengendarai sepeda ungu berkeranjang putih.

"Pak! Lepasin teman saya!" pinta Vania dari atas sepedanya, dan menyebabkan petugas keamanan itu tertegun untuk beberapa saat.

"Tapi, Non---"

"Saya bilang lepasin. Ini darurat!"

Ajaibnya, petugas keamanan itu menurut, melepaskan Luna. Sementara Luna sejenak melupakan kepanikannya, ia menatap Vania dan pertugas keamanan itu secara bergantian. Luna heran dan bingung.

"Luna, ayo!" seru Vania. Luna tersadar, segera ia naik ke boncengan sepeda Vania.

"Tolong urus absensi kami ya, Pak!" ujar Vania kepada petugas keamanan yang berdiri di pintu keluar lorong.

Sepeda ungu itu dikayuh brutal oleh Vania. Meski tubuhnya tergolong kurus dan lembek, tetapi urusan mengendarai si purple---sepeda kesayangannya---jangan remehkan Vania. Dia juaranya.

"Van, kamu kenapa bisa tahu hal ini?" tanya Luna penasaran disela-sela kemelut pikiran yang mengkhawatirkan Anka dan juga  kejanggalan sikap petugas keamanan  terhadap Vania.

"Emh, ya, bisa atuh!" jawab Vania dengan napas ngos-ngosannya.

Hening untuk sesaat. Hanya terdengar suara gludak-gluduk dari sepeda yang menerabas bebatuan kecil jalanan, masuk ke area perkebunan teh dan bertemulah dengan jalan menuju arah rumah Anka.

"Van, kamu nggak ikutan marah sama aku, kayak Anya?" Luna kembali bertanya.

"Ah, aku tahu kalian cuma salah paham. Aku percaya sama kamu, Lun. Kamu nggak akan mengkhianati Anka!" jawab Vania.

"Huh!" Vania mendesah lelah. "Jangan nanya terus ya, ini teh berat!" keluh Vania sampai membungkuk-bungkuk karena kayuhan sepeda yang makin berat akibat jalannya sedikit menajak. Luna mengerti.

Sepeda ungu itu dikemudikan dengan lihai oleh Vania. Jalan berkelok, penuh bebatuan kerikil ia lewati tanpa hambatan berarti.

Di kejauhan, sebelum sampai di rumah Anka, Vania menghentikan sepedanya dan meminta Luna segera turun.

SKYDREAM 2012 [✔]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang