:: RaviAnka ::
::
::
::
GERIMIS berjatuhan menimpa dedaunan, menimbulkan bunyi kemerasak kencang, seakan hujan lebat tengah bertandang. Namun hanya rintik air yang hinggap di telapak tangan.
Redup cahaya matahari akibat mendung dan kabut tipis menambah seram suasana jalanan yang dikelilingi pohon-pohon besar nan tinggi. Suara-suara aneh mulai terdengar jelas, saat kendaraan roda empat yang ditumpangi Luna dan kawan-kawannya semakin dalam memasuki hutan, menjauh dari keramaian kota.
"Tutup jendelanya, Lun!" seru Anya dari jok depan.
Luna melihat Anya sekilas, lalu melirik Vania yang terlelap di jok sampingnya. Tidak tahu kenapa, selama perjalanan menuju tempat yang tidak diketahui apa dan di mana, Luna merasa tak nyaman. Terlebih ketika melewati jalanan yang memasuki hutan, kegelisahan Luna semakin menjadi. Hal-hal negatif di pikirannya berkembang menciptakan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.
Apa Anka benar-benar seorang pembunuh seperti di film-film psikopat yang tempat tinggalnya berada jauh dari keramaian?
Atau jangan-jangan Giolah yang sebenarnya psikopat dan Anya adalah tangan kanannya? Jika itu benar maka saat ini nyawanya dan Vania dalam bahaya.
"Lun! Jendelanya tutup!"
"Kenapa harus ditutup?" tanya Luna dengan kedua alis bertaut, curiga.
"Hujannya makin lebat, airnya bisa masuk!"
Sejenak, Luna merasakan beberapa rintik air hujan membasahi lengannya. Dingin. Akhirnya Luna menurut. Keheningan kembali menguasai suasana mobil.
Tak ada perbincangan, tak ada suara musik yang dinyalakan, sepertinya Gio si pemilik mobil memang lebih menyukai keheningan. Luna jadi merinding sendiri. Mungkin minum bisa mengurangi pikiran buruknya.
"Aduh, Babe!"
Hampir saja Luna tersedak karena mendengar suara berat Gio di kursi kemudi, terutama sapaan romantis itu.
"Sakit! Aku lagi nyetir jangan dicubit!" ujarnya tidak sedatar biasanya dan penggunaan kata 'aku' tersebut sangat menyita perhatian Luna.
"Aku lagi gemes jangan dilarang nyubit, ntar kugigit, mau?" balas Anya, sukses membuat sepasang mata Luna melotot.
Air yang tadinya hampir turun ke perut, akhirnya masih tersangkut di kerongkongan, baru ditelan beberapa saat kemudian. Luna tidak menyangka dua manusia, yang satunya mirip es kutub dan satunya bar-bar kepala batu ini ternyata bisa romantis juga. Serasa dunia milik mereka berdua, yang lain cuma numpang. Namun, setidaknya kemesraan dua manusia itu cukup melenyapkan pikiran buruk Luna terhadap mereka.
"Babe, nanti sebelum pulang, mampir ke rumah makan dulu, ya?"
Suara Anya kembali terdengar saat Luna mulai bersandar mencari posisi nyaman untuk menyusul Vania mengarungi alam mimpinya.
"Kamu lapar?"
"Hmm." Anya mengangguk.
"Lihatin aku aja. Ntar kenyang sendiri."
Hampir saja Luna meledakkan tawanya, mendengar gombalan norak dari es batu kesayangan Anya. Beruntung Luna masih sanggup menahannya.
"Huh, jadi makin pengen nelen kamu, deh!" geram Anya. "Teman-teman aku belum makan apa pun dari pagi. Kamu mau bikin anak orang sakit karena kelaparan nggak dikasih makan?"
"Iya Babe, nanti kita cari makan."
Luna tersenyum, hatinya semakin lega dan rasa curiganya juga sudah benar-benar lenyap. Gio dan Anya bukan seorang psikopat atau penjahat. Mereka adalah teman Luna dan Vania.
KAMU SEDANG MEMBACA
SKYDREAM 2012 [✔]
Fiksi Remaja"Hai Nona Dora!!" sapanya. *** Tentang Anka yang berjuang mewujudkan mimpi demi menyembuhkan adik tersayangnya, Apin. Tentang Luna yang ingin menemani langkah Anka bersama teman-temannya. Tentang Gio, Anya, Vania dan mereka penghuni Skydream. Semua...
![SKYDREAM 2012 [✔]](https://img.wattpad.com/cover/299575528-64-k660438.jpg)