:: Tell Me, Please! ::
::
::
::
Luna tidak suka bermain teka-teki. Dia tidak pandai menebak-nebak. Tetapi Anka, si cowok berambut mangkuk itu sungguh penuh misteri, membuat Luna keki sendiri. Geram sampai-sampai ingin mengunyah cowok itu seperti permen karet rasa stroberi yang sedang dimakannya saat ini.
Luna tidak seperti Freya, yang suka ikut campur dan mau tahu masalah orang lain. Dia bukan tipe orang yang gampang penasaran. Tetapi lain saat menghadapi Anka. Si cowok berwajah manis itu ternyata tidak hanya mencuri sebelah sepatu kets Luna, tetapi juga empati dan perhatian si Dora. Menyebalkan.
"Anya juga, kenapa dia pakai salah paham sih?" gerutunya menendang kaki meja di pojok kantin WUP.
Luna duduk sendirian di meja nomor 17, hanya ada semangkuk mie ayam pedas tanpa es teh di depannya. Anya, Freya dan Vania memang berada di kantin yang sama. Namun, mereka menempati meja yang berbeda dengan Luna.
Helaan napas kasar terdengar dari Luna. Gadis yang kini mengenakan jepit rambut warna cream senada dengan celana seragam para siswa itu sedang menatap sendu meja nomor 8, tempat Anya, Vania dan Freya bersenda gurau. Luna ingin sekali berada di tengah-tengah mereka.
Tak bertahan lama, perhatian Luna teralihkan oleh aksi seorang siswa menumpahkan saos sambal ke baju seragam siswa lain yang duduk sendirian di meja nomor 13, tak jauh dari tempat duduk Anya dan rekan-rekannya.
"Eh, sori. Nggak sengaja."
Luna bisa mendengar kalimat si pirang, siswa yang sempat mencekal kasar dirinya di Wilayah Akang, juga siswa yang memukuli Anka di laboratorium beberapa hari lalu.
"Anka!" gumam Luna, ketika menyadari yang duduk di bangku nomor 13 itu adalah si rambut mangkuk Anka, monyet jadi-jadian---kalau kata Gio.
Lagi-lagi Luna melihat Anka diam, hanya mengambil tisu di meja dan mengelap seragamnya yang kotor. Bagi Luna, sikap Anka saat ini tampak seperti orang bodoh. Bukannya melawan, Anka justru membiarkan mereka duduk satu meja dengannya.
"Apa dia lupa bagaimana cara melawan? Hish! Haruskah aku mengingatkan si pencuri sepatu itu!" pikir Luna. "Sepertinya begitu!" putus Luna.
Dengan segenap tekad bulat dan emosi yang menggebu-gebu, Luna bangkit dari duduknya, menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar. Setelahnya ia melajukan tungkai menuju meja nomor 13, di mana Anka, si pirang, dan kedua kurcacinya duduk.
"Mana tugas biologi gue!" todong Jeno ketika Anka baru saja selesai membersihkan seragamnya.
Anka menyerahkan tiga lembar kertas hvs yang sudah berisi gambar anatomi ginjal lengkap dengan keterangannya kepada Jeno.
Jeno menyerobot cepat lembaran kertas itu, ia pandangi gambar yang Anka buat. Gambar yang paling bagus, akan Jeno akui sebagai miliknya.
"Lumayan juga gambar lo!" ujar Jeno yang hanya dibalas dengkusan oleh Anka.
"Bos punya kita?" Agam mengulurkan tangan, hendak meminta dua gambar lain yang tidak dipilih Jeno.
"Diam! Gue masih milih!" sewot Jeno. Ia sibuk menentukan gambar mana yang paling bagus, sampai tak menyadari keberadaan siswi di sampingnya, yang tanpa aba-aba menyiramkan kuah mie beserta isinya ke pangkuan Jeno. Tentu saja, mengenai lembaran kertas di tangan si pirang.
"Anying!" pekik Jeno.
"Ups! Sori!"
"Lo!" Tahu siapa yang mengacaukan aktivitasnya, Jeno lantas berdiri dan menggebrak meja.
KAMU SEDANG MEMBACA
SKYDREAM 2012 [✔]
Dla nastolatków"Hai Nona Dora!!" sapanya. *** Tentang Anka yang berjuang mewujudkan mimpi demi menyembuhkan adik tersayangnya, Apin. Tentang Luna yang ingin menemani langkah Anka bersama teman-temannya. Tentang Gio, Anya, Vania dan mereka penghuni Skydream. Semua...
![SKYDREAM 2012 [✔]](https://img.wattpad.com/cover/299575528-64-k660438.jpg)