÷18. Avin's Heart

35 7 0
                                        

:: Avin's Heart ::

::
::
::

"ABANG!"

Lama tak ada sahutan. Anka yang biasanya betah terjaga sampai menjelang subuh pun, entah kenapa malam ini ia sangat lelah dan mengantuk sekali. Padahal jarum jam belum juga menyentuh angka sebelas malam.

"Kenapa Pin?" tanya Anka dengan suara lirih dan mata terkantuk-kantuk dalam baringnya.

"Abang deketan sama Apin, atuh!" rengek Avin menarik-narik lengan sang kakak yang bersedekap miring memunggunginya.

Tak banyak bicara, Anka menurut, menggeser tubuhnya mendekat kepada sang adik yang menghimpit dinding kayu rumah.

"Bang!"

"Apa lagi?" tanya Anka sedikit kesal, karena Avin yang terus saja mengusik tidurnya.

"Hadap sini, atuh! Jangan belakangi Apin!"

Anka mendesah pelan, lalu menurut. Kini ia tidur miring ke kiri, sesuai permintaan Avin untuk tidak memunggunginya.

Dalam diam, Avin mengembangkan senyumnya, melihat wajah sang kakak yang menurutnya sangat tampan meskipun agak hitam dan kusam. Belum lagi bekas-bekas pukulan yang masih betah menghiasi wajah kakaknya. Avin tahu, luka itu tak hanya mewarnai wajah kakaknya, tetapi seluruh badan dan mungkin juga hatinya.

Avin sadar betul, luka itu Anka dapatkan demi dirinya. Demi membuat dia kembali seperti semula, bisa berjalan normal, bersekolah dan bermain seperti teman sebayanya.

"Apin harus kuat. Abang akan selalu ada buat Apin. Abang janji akan bikin Apin bahagia terus."

Masih teringat jelas di memori Avin, bagaimana raut kesedihan dan kekhawatiran Anka ketika mengucapkan kalimat itu, usai Avin baru saja mendapatkan kabar bahwa kedua kakinya tak dapat digunakan seperti sedia kala.

Avin sedih tentunya. Namun melihat Anka, kakak yang paling disayangnya menderita, diam-diam menyimpan semua lukanya sendiri dan selalu tersenyum di depannya itu lebih menyakitkan dari pada mengetahui bahwa dirinya lumpuh. Avin sayang Anka. Sangat sayang. Cuma Anka yang Avin punya saat ini.

Andai saja, Anka paham, kalau kebahagiaan Avin bukan lagi tentang kesempurnaan alat geraknya, bukan lagi tentang kesenangannya bermain bersama teman-teman. Andai Anka mengerti, jika kebahagiaan Avin itu sangat sederhana. Avin hanya ingin selalu bersama Anka, seperti kakak dan adik pada umumnya. Avin hanya ingin bahagia tanpa mengorbankan kebahagiaan kakaknya.

"Abang jangan kenapa-napa ya. Abang harus jaga diri Abang baik-baik, jangan terluka lagi, ya," lirih Avin dengan linangan air mata sembari memperhatikan lekuk wajah lelah kakaknya.

"Apin sayang Abang. Sayang banget," lanjutnya terdengar tersendat-sendat akibat rasa mencekik yang mengusai kerongkongannya.

Tanpa diduga Anka membuka matanya. Tampaklah manik legam kembar yang dikelilingi selaput merah, menandakan kalau mata itu memang sangat ingin diistirahatkan.

Avin cepat-cepat membuang muka dan mengusap asal air mata yang ternyata sudah meluber, membanjiri pipinya.

"Pin! Belum tidur?" Anka mengangkat kepalanya, memeriksa wajah sang adik yang berusaha disembunyikan.
"Maneh kenapa? Ceurik-na?" [1]

"Saha teh yang ceurik? Abang aya-aya wae!" [2] sahut Apin.

Anka tak berminat memperpanjang percakapannya. Jujur ia sudah sangat mengantuk.

"Ya udah, tidur gih!"

Anka kembali hendak merajut mimpi. Namun Avin cepat-cepat menariknya kembali.

"Abang!"

SKYDREAM 2012 [✔]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang