"Terima kasih, aku janji aku akan mengembalikan hutangku padamu nanti," ucap Arini ketika Zaki yang sudah membelikan Arini sepasang pakaian kepada dirinya.
"Hey, kenapa harus berhutang segala ...? Bukan kah kita sudah menjadi teman? Aku hanya ingin membantumu sebagai seorang teman."
"Tapi ..."
"Ayo lah, tidak usah sungkan."
Arini masih merasa tidak enak atas kebaikan Zaki. Tapi berkat Zaki, ia sudah tidak basah kuyup, tubuhnya sudah kering sekarang ini.
"Terima kasih, Zak."
"Tak apa ..."
Jujur, saat melihat wajah Arini yang pucat seperti sekarang, Zaki merasa tidak tega. Sedari tadi Zaki terus mengumpat di dalam hati, mengutuk tindakan Romeo yang sudah sangat kelewatan. Bagaimana bisa dia meninggalkan istrinya sendiri di saat dia basah kuyup padahal istrinya sudah sangat berjasa berlarian di tengah hujan hanya untuk memberikan flash disk itu kepada Romeo.
"Arini, apa kau sakit? Wajahmu pucat sekali ..."
Tapi Arini menggeleng, sedikit berbohong kepada Zaki karena sebenarnya demam yang ia alami kemarin belum sepenuhnya sembuh.
"Emm, mungkin aku hanya kedinginan karena kehujanan tadi."
Zaki melenguh panjang. Bahkan saat ini, Zaki lagi-lagi merasa kasihan kepada Arini karena saat bercengkerama dengannya, sesekali dia menoleh ke arah gedung persidangan tempat di mana Romeo berada.
Raut muka khawatir malah tergambar jelas dari wajah Arini, dan sepertinya Zaki paham apa yang sedang dipikirkan oleh Arini. Membuat Zaki merasa terusik dan semakin merasa kasihan kepada Arini.
"Tenang lah, Romeo pasti sudah menjalani sidangnya. Berkat perjuanganmu, pasti Romeo sudah memenangkan sidang hari ini."
Arini merasa terhibur dengan ucapan Zaki. Semoga saja apa yang di ucapkan Zaki adalah benar ... Arini takut jika Romeo terkena masalah.
"Semoga saja, aku hanya khawatir karena di telefon, Romeo terdengar sangat panik dan benar-benar membutuhkan fash disk itu."
Zaki kembali menarik napas panjang.
Bisa-bisanya Arini masih mengkhawatirkan laki-laki yang bahkan sudah menyakitinya.
Lalu rasa kasihan itu entah kenapa malah membuat Zaki tidak tega. Dan karena tidak ingin melihat wajah sedih itu lagi, Zaki kemudian menarik tangan Arini.
"Eh?"
"Disitu ada kedai kopi yang sangat enak. Aku pikir, kita bisa mampir sejenak. Wajahmu sangat pucat, mungkin saja itu bisa sedikit menghangatkan badanmu karena tadi sudah basah kuyup karena hujan."
"T-tapi,"
"Ayo lah. Di luar masih hujan badai seperti itu kau tidak mungkin nekat untuk berlarian pulang ke rumah kan?"
***
Sementara di tempat lain, Romeo melemparkan seluruh berkas yang ia pegang pada kursi lobi setelah memenangkan persidangan. Ia melonggarkan dasinya, membuka satu kancing kemejanya sambil menarik napas panjang.
Hari ini, dia berhasil memenangkan persidangan tapi kenapa suasana hatinya tidak terasa baik ...? Ia terlihat sangat kacau ketika malah terbengong pada orang yang lalu lalang berjalan di depannya.
Sudah dua jam berlalu sejak persidangan itu dimulai, tapi hujan di luar sana masih sangat awet turun dengan sangat lebat. Angin kencang terus berhembus hingga kembali mengingatkan Romeo tentang Arini yang tadi berlarian hingga basah kuyup demi memberikan diska lepas yang saat ini masih Romeo genggam.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARINI'S WEDDING
RomanceKetika Arini dipaksa untuk menggantikan posisi kakaknya untuk Romeo. Lalu ketika Romeo terpaksa menikahi Arini, yang benar-benar sangat membuatnya benci. Dan ketika dua hati terpaksa bersatu, mungkin kah mereka akan berdamai dengan waktu?
