BAB 14 - DAFTAR DALAM CATATAN

7K 428 5
                                        

Tapi ...

Di sini lah Arini berada. Di sebuah kedai kopi dan memesan strowberry cake, Arini tampak menikmati kue itu sambil sesekali memandang ke arah gerimis.

"Hot capuccino nya nona ..."

"Terima kasih."

Cangkir di depan Arini adalah cangkir kedua yang Arini minum. Menyesap hangatnya secangkir kopi sambil ditemani rintikan hujan. Tersenyum dalam kesendirian lalu membaca salah satu web novel di ponsel yang ada di genggamannya.

Sudah lama Arini ingin melakukannya seperti ini. Setelah menikah - ralat - setelah keluarganya meninggal dunia, Arini nyaris tidak pernah bersantai seperti ini.

Kecuali Zaki. Sekelabat bayangan Zaki tiba-tiba muncul. Arini teringat ketika dulu Zaki membawanya ke kedai kopi lain dan menemani Arini minum kopi.

Hanya laki-laki itu. Satu-satunya orang yang pernah membawa Arini hingga Arini merasa bersyukur bahwa ternyata masih ada orang yang begitu perduli pada dirinya. Meski Arini selalu berharap kalau Romeo lah yang membawanya di kedai waktu itu.

Lagi-lagi Arini menarik napas panjang. Ia hanya menatap pada beberapa bungkus obat yang dibawakan dokter di dalam tasnya tapi Arini sama sekali belum meminumnya satu pun hingga saat ini.

Waktu itu, kata dokter ...

"Anda harus kemoterapi secepatnya."

Tapi Arini malah mengatakan.

"Bisa kah ada merahasiakan ini dari siapa pun?"

Arini menutup tas kecil yang ada di atas meja. Kenyataan pahit itu, bisa kah Arini melupakan sejenak dan bersantai sebentar lagi saja?

Entah sampai kapan Arini mempunyai waktu, sepertinya Arini sudah tidak perduli. Tapi, sebelum jantung ini berhenti untuk berdetak. Arini hanya ingin, melakukan sesuatu yang belum pernah Arini lakukan sebelumnya, termasuk ... hari ini.

Ini lah satu-satunya alasan Arini berada di sini.

Lalu ...

Arini benar-benar membuktikannya. Arini hanya takut, jika ia benar-benar tidak sempat melakukan hal sesederhana ini lagi, sampai ia meninggalkan dunia.

Tiga hari Arini keluar dari rumah sakit, tapi tiga hari itu pula Arini tidak mendapatkan satu pesan pun di dalam ponselnya.

Bahkan suaminya ... tidak pernah mencarinya meski ia tidak pulang ke rumah. Entah Romeo tahu atau tidak Arini sudah pulang dari rumah sakit, nyatanya ... Arini harus sadar kalau Romeo memang tidak pernah perduli kepadanya.

Arini ingat saat Romeo mengatakan.

"Aku harus pergi. Kau sudah bisa menjaga dirimu sendiri kan?"

Lalu setelah itu Romeo menghilang, tanpa ada kabar apa pun lagi darinya.

Arini terpejam sambil menyesap kopinya lagi. Arini pun harus tahu diri akan siapa dirinya.

***

Satu tahun yang lalu,

Saat Arini baru mengetahui bahwa Aluna dan orang tuanya meninggal. Saat ia masih merasa frustrasi, marah, kecewa pada dirinya sendiri, seseorang laki-laki berkursi roda datang menemui Arini.

Dia adalah Malik, Ayah dari Romeo yang saat itu langsung memohon kepada Arini.

"Jadi lah istri Romeo, Arini ..."

Sesuatu hal yang benar-benar membuat mata Arini membelalak hebat. Ia tidak percaya bahwa orang tua Romeo lah yang memintanya untuk menikahi anaknya.

"Maaf, paman. Saya tidak bisa ..."

Arini ingat sekali bahwa itu lah hal yang terus dikatakannya berulang kali. Arini masih belum mempercayai bahwa keluarganya meninggal, mana sempat Arini memikirkan tentang dirinya sendiri apa lagi membicarakan pernikahan bahkan belum genap tujuh hari mereka meninggalkannya di dunia?

Tapi nyatanya,

Malik terus memaksa Arini, memaksa dirinya untuk terus bisa menikah dengan Romeo. Berulang kali datang ke kamar perawatan Arini hanya untuk memintanya menjadi menantu.

Arini tidak habis pikir,

Sampai suatu ketika datang sebuah kenyataan ketika Mulan, Mamanya Romeo datang dan mengatakan semuanya.

Bahwa ada sebuah perjanjian keluarga yang harus mereka tepati. Bahwa salah satu dari anak-anak mereka harus menikah karena sebuah wasiat yang mungkin terakhir kali diucapkan oleh Ayah Arini sebelum meninggal.

Dan semua itu memang karena perusahaan yang telah dibangun oleh dua keluarga. Sebuah permintaan yang mungkin telah menjadi amanat, apa lagi ketika posisi Arini telah menjadi sebatang kara yang otomatis itu membuat Malik semakin sedih karena tidak ada yang menjaganya.

Malik menyodorkan Romeo yang ia harapkan mampu menjaga Arini.

"Aku mohon menikah lah dengan Romeo, sayang." Kali ini Mulan yang terus meminta Arini.

"Maaf saya tidak bisa ..."

Berulang kali orang tuanya meminta tapi Arini tetap tidak pernah bisa melakukan semuanya. Bahkan Romeo pun juga tidak pernah datang kepadanya. Bagaimana bisa Arini menikah dengan cara seperti ini?

Lalu sampai pada akhirnya Malik tiba-tiba terkena serangan jantung yang pada akhirnya di rawat di satu rumah sakit yang sama dengan Arini.

Lalu Mulan dengan berlarian tergopoh-gopoh ke arah tempat di mana Arini dirawat. Menangis terisak-isak, menatap Arini dengan tatapan putus asa.

"Aku mohon menikah lah dengan Romeo sayang. Suamiku terkena serangan jantung, aku tidak tahu berapa lagi dia akan bertahan. Biarkan suamiku tenang atau aku tidak akan pernah tahu dia akan kumat lagi dan benar-benar tidak terselamatkan."

***

Arini membuka matanya ...

Bayangan satu tahun lalu kembali muncul hingga dadanya terasa sangat sesak. Kedua tangannya kemudian memegangi cangkir kopi seperti memeluk, menghangatkan tangannya yang sedikit membeku karena AC yang dihidupkan terasa menusuk kulit padahal di luar sedang hujan gerimis.

Satu tahun yang lalu ...

Saat Arini pada akhirnya menyerah dan bersedia. Tatapan Mulan pada saat itu benar-benar membuat Arini tidak bisa menolak sama sekali. Arini tahu bagaimana rasanya kehilangan.

Jika Arini tahu kalau keluarganya akan meninggal, Arini juga pasti akan melakukan segala macam cara untuk membuat keluarganya bahagia. Namun, Arini tidak pernah mendapatkan kesempatan itu. Mungkin itu lah yang sedang Mulan perjuangkan. Hingga Arini pada akhirnya berucap ya, tapi malah dirinya sekarang yang menderita.

Arini memang mencintai Romeo.

Tapi jika Romeo tidak pernah menganggapnya ada. Untuk apa ini semua dipertahankan lagi?

Arini juga sama menderitanya. Bahkan Arini tahu bahwa sebentar lagi dia akan meninggalkan dunia yang mungkin, akan lebih cepat dari mereka.

Bisa kah Arini gunakan waktu itu untuk sedikit membahagiakan dirinya sendiri sebelum waktu itu datang dan jantungnya berhenti untuk berdetak?

Tapi sepertinya Arini tidak pernah mempunyai hak untuk itu.

Arini ingin sekali saja bertindak egois, namun sepertinya Arini tidak pernah bisa melakukannya. Arini jauh menghargai Malik dan Mulan dan tidak tega untuk membuatnya kecewa. Jika Arini menyerah, Arini ketakutan itu akan membuat Ayah mertuanya kembali drop dan pastinya akan membuat Arini merasa bersalah.

Jika ada yang meninggal di sini, mungkin biar Arini saja.

Arini menarik napas panjang.

Lalu kebahagiaannya?

Ah, itu masalah mudah.

Arini kemudian mengambil sebuah buku yang ada di dalam tasnya. Mulai mengeluarkan bolpoin dan mencatat apa pun yang ia inginkan sebelum ia pergi.

***

10:59...
Ketemu sama Arini lagi gais ;)

ARINI'S WEDDINGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang