BAB 20 - PERMINTAAN

7.9K 433 5
                                        

Air mata Arini sudah tidak dapat ditahan lagi, lidahnya kelu, tubuhnya membeku. Ia menatap ke arah Romeo dengan tatapan tidak percaya.

"Dari mana kau tahu?" Arini mengulang lagi pertanyaannya.

"Aku sudah membuat janji temu dengan dokter spesialis, besok aku akan mengantarmu ke sana."

Tidak menjawab pertanyaan Arini, Romeo malah mengatakan itu. Tapi, Arini malah menggeleng, menandakan bahwa ia tidak setuju dengan semua perkataan itu.

"Tidak perlu,"

"..."

"Dengan atau tanpa kemoterapi itu, aku akan tetap pergi. Kemoterapi hanya memperlambat penyebaran kanker, aku tidak mau sakit-sakitan."

"Jangan mendahului apa pun kuasa Tuhan."

"Lagi pula, bukan kah seharusnya kau senang? Kenapa tiba-tiba memaksaku? Kau yang selalu berharap aku pergi, dan sepertinya ... Tuhan sudah menjawab semua doa-doamu itu."

"Apa kau sekarang sudah mulai membalikkan semua kata-kataku?"

"Jangan bersikap sok perduli jika pada akhirnya kau menyakitiku lagi."

Napas Romeo tertahan, ia menatap nanar sosok Arini di depannya. Kilas balik tentang perbuatannya di masa lalu kemudian berputar di kepalanya, apa perbuatannya sudah menyakiti Arini hingga Arini bisa sampai seperti itu?

Romeo menelan salivanya. Mereka kemudian terdiam begitu lama. Hanyut dalam pikiran mereka masing-masing karena tidak tahu lagi harus mengatakan apa.

"Tentang Zaki ... sepertinya kau harus meminta maaf. Zaki tidak salah apa-apa."

"Jangan mengalihkan pembicaraan."

"Apa kau tidak tahu kau mulai membingungkan?! Kenapa tiba-tiba bersikap seperti itu bahkan sampai memukul Zaki? Apa kau lupa kalau kau yang bahkan selalu berharap aku pergi."

"Jangan bicara hal seperti itu."

"Aku lelah, aku ingin istirahat."

"Pembicaraan kita belum selesai, kau harus ke rumah sakit bersamaku besok."

"Sudah aku bilang jangan bersikap sok-sokan peduli. Kau tidak tahu betapa menyakitkannya hal itu."

Melihat Romeo yang terus menerus berkata seperti itu membuat kepalanya semakin sakit. Rasanya terasa ngilu, berulang kali Arini terlihat mengerjap-erjapkan matanya sambil memegangi pelipisnya.

Romeo memergokinya, wajah Arini juga tampak sangat pucat. Bawah matanya bahkan sudah sangat cekung serta bibirnya yang mulai memutih saking pasinya.

"Arini ...?"

Tapi sebelum Romeo melangkahkan kaki, Arini sudah buru-buru untuk berlari menuju kamarnya.

***

Di sepanjang malam, Romeo nyaris tidak bisa tidur. Seluruh perkataan Arini benar-benar membuatnya tidak bisa menutup matanya sama sekali.
Kini ia sudah duduk, bersama dengan satu buah laptop di depannya ia mulai menjelajahi segala hal tentang penyakit yang Arini derita.

Tentang kemoterapi, radiasi, efek samping, pengobatan herbal, bahkan sampai transpalasi sumsum tulang belakang. Semua Romeo cari bahkan sampai mengunduh seluruh artikel sampai sedetail mungkin. Romeo juga menghubungi beberapa kenalannya, tentang pengobatan luar negeri yang mungkin dapat mengobati penyakit seperti itu.

Kepala Romeo semakin sakit, seluruh artikel ini benar-benar mengerikan. Menandakan bahwa betapa seriusnya penyakit yang sedang diderita oleh Arini.

Hingga pada akhirnya, waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, Romeo melepas kaca matanya kemudian memegangi pelipisnya lagi.

Selama ini, Romeo berharap Arini pergi dari hidupnya, tapi ... melihat dirinya sendiri yang bahkan sampai tidak tidur untuk mencari tahu bagaimana penyakit itu bisa diobati, apa Romeo mulai berharap bahwa nyatanya, dirinya tidak ingin ditinggalkan seperti ini?

Romeo menarik napas panjang,
Tapi tetap saja, jauh di dalam pikirannya, Romeo masih menganggap Arini lah pembunuh Aluna.

***

Hingga pagi menjelang, Romeo tidak tidur sama sekali. Bagian bawah matanya menghitam seperti panda, raut mukanya tampak kusut karena ia terjaga semalaman suntuk.

Dan seperti biasa, ia mencium bau masakan dari arah bawah sana. Hari ini, ia sengaja untuk bangun dari awal, ia kemudian keluar dari kamar dan melihat Arini seperti biasa berada di dalam dapur.

"Kau masih sakit, untuk apa memasak? Hari ini aku sudah mencari pembantu dan mencari tukang kebun agar kau tidak lagi melakukan pekerjaan rumah tangga."

Arini bahkan tidak sadar ketika Romeo turun kemudian berjalan ke arahnya. Ia kini sudah duduk di meja makan dan menaruh tasnya di kursi sebelah.

Jujur, Arini agak keheranan dengan perlakuan Romeo. Biasanya, setiap pagi, Arini yang menyapa Romeo terlebih dahulu, tapi sekarang, suatu keajaiban Romeo mau berbicara lebih dulu kepadanya.

"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri. Kau yang dulu menyuruhku untuk melakukan semuanya kan? Bahkan saat Mama berencana mengirim pembantu kau menolaknya."

"Kau membalikkan kata-kataku lagi?"

"Aku hanya berbicara fakta." Arini tersenyum getir, menarik napasnya panjang karena juga tidak percaya dia mempunyai kemampuan berbicara hal seberani itu kepada Romeo.

Romeo melenguh panjang. "Nanti jam sepuluh aku pulang lagi. Seperti kataku kemarin, aku akan mengantarmu ke rumah sakit."

"Tidak perlu."

"Jangan keras kepala."

Arini tidak menjawab apa pun lagi.

"Makan lah, sarapan sudah siap."

Arini kemudian berjalan sambil membawa sebaskom sup lalu diletakkan ke depan Romeo.

"Sebenarnya apa yang kau inginkan?! Apa kau tidak ingin sembuh?"

Arini terdiam dengan kata-katanya.

"Katakan, apa maumu sebenarnya?"

Arini duduk di hadapan Romeo sambil meremas tangannya. "Apa kau serius ingin mendengarkan apa mauku?"

"Katakan."

"Melihatmu yang bertindak seolah-olah peduli padaku membuatku ingin melakukan satu permintaan terakhir padamu."

"Aku tidak ..."

"Maksudku ... berpura-pura lah untuk selalu seperti ini sebelum nanti aku pergi."

Belum selesai Romeo melanjutkan kata-katanya, Arini sudah menyelanya lagi.

"Tetap lah beracting perduli, tolong tetap lah sabar sampai nanti aku pergi. Aku hanya ingin merasakan bagaimana menjadi istri sesungguhnya, aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya mempunyai suami yang baik. Aku mohon, anggap lah itu permintaan terakhir dariku."

Mendengar kata-kata itu Romeo tercekat.

"Aku yakin kau sudah tahu walau pun aku belum mengatakannya padamu, tapi ... aku memang mencintaimu sejak awal. Jadi, aku mohon ... sebelum aku pergi, aku ingin merasakan bagaimana rasanya dicintai. Aku tidak menuntutmu untuk benar-benar mencintaiku, tapi bisa kah kau ber-acting saja? Paling tidak, biarkan aku merasakan bagaimana rasanya dicintai, dan mungkin itu sudah cukup bagiku."

Dan mendengar semua penjelasan Arini, lagi-lagi Romeo berhasil dibuat terkejut. Tubuhnya bahkan masih membeku, syok akan semua kata-kata itu.

***

ARINI'S WEDDINGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang