BAB 4 - PERJANJIAN KELUARGA SIALAN!

8.5K 510 6
                                        

Sial!

Harus berapa aku bilang agar perempuan itu tidak sok-sokan berperan sebagai seorang istri?

Baru beberapa hari menikah Romeo sudah benar-benar sangat muak. Pagi ini, dengan lancang Arini mengambil jas serta kemeja yang ada di almari dan menata di pinggiran kasur, berharap kalau Romeo sudi memakainya saat ia berangkat bekerja.

Perempuan itu juga menyemir sepatunya, menyiapkan kaus kaki serta menata bekal di atas meja yang bahkan rasa-rasanya Romeo ingin sekali langsung membuangnya.

Sungguh, perempuan itu sudah tidak mempunyai muka sama sekali. Adalah hal yang dipikirkan Romeo kali ini. Membuatnya semakin marah karena perempuan itu tidak pernah mengerti juga, bahwa pernikahan ini hanya lah kepura-puraan semata.

"Romeo, apa kau tidak ingin makan dulu? Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu."

Dan baru saja Romeo turun sampai di ujung tangga, Arini sudah menantinya, situasinya sama seperti kemarin malam. Dia sudah memasakkan makanan untuk Romeo dan pasti dia sedang berharap bahwa Romeo mau memakan makanannya.

Romeo terus mencerca Arini tiada henti. Dan kini melengang begitu saja tanpa mau memerdulikan Arini yang sudah repot-repot memasakkan makanan itu untuknya.

"Romeo,"

"Hentikan, Arini. HENTIKAN!" Tanpa sadar Romeo menjerit keras. Sungguh, ia sudah tidak tahan ketika perempuan itu terus memanggil namanya berulang kali. Dengan nada rendah dan dalam, sampai-sampai membuat Romeo marah seketika. Romeo tahu, Arini sedan meniru Aluna. Dan ucapan itu selalu mengingatkannya tentang Aluna.

Apa dia sedang berpura-pura? Apa dia sedang meniru Aluna saat ini? Bahkan semua hal yang Arini lakukan saat ini benar-benar membuatnya sangat benci.

"Sudah berapa kali aku bilang untuk berhenti sok menjadi istriku. Kau tahu kalau aku sangat membencimu bukan? Apa kau tidak ingat ketika dulu kau dengan rendahnya mengatakan kau mencintaiku disaat aku sudah memilih Aluna untuk menjadi istriku. Dan saat ini apa aku bodoh?! Aku tahu dengan sangat bahwa sebenarnya kecelakaan itu bukan lah murni sebuah kecelakaan! Mengaku lah, kalau kau sebenarnya membunuhnya. Kau telah membunuh istriku dan merencanakan semua hal ini? Kau juga pasti sudah tahu dengan pasti, tentang perjanjian antara keluarga kita."

Deg...!

Dan ucapan Romeo mampu membuat Arini syok seketika. "Romeo, bukan... ini tidak seperti..."

"Hapus air mata palsumu itu dan menyingkir lah dari kehidupanku. Itu sudah cukup membuatku bisa bernapas barang sedetik saja."

Brak!

Hingga akhirnya Romeo benar-benar meninggalkan Arini seorang diri. Mengabaikan sarapan pagi yang Arini buat bahkan dengan sepenuh hati.

Romeo tidak tahu, bagaimana ia berusaha memasakkan makanan ini. Bangun sebelum shubuh dan kerepotan di ruang belakang sendirian. Memastikan bahwa masakan ini tertata dan terhidang di atas meja seperti apa yang seharusnya dilakukan seorang istri.

Di sini, Arini hanya bisa mematung. Menahan rasa sakit oleh kata-kata yang difitnah kan kepada dirinya. Kini ia duduk, meremas hatinya yang semakin sakit karena mengulang lagi kata-kata yang diucapkan Romeo di kepalanya.

***

Romeo menggebrak pintu mobilnya, sengaja agar Arini mendengar apa yang telah ia lakukan. Semua ini sangat membuatnya frustrasi hingga rasa-rasanya ia ingin melarikan diri.

Romeo meremas kemudinya, mempercepat kendaraannya ketika ia sudah tidak tahan berada di rumah itu. Bersama dengan orang yang benar-benar tidak dia inginkan.

Tapi situasinya akan tetap sama ketika ia akan pergi ke kantor. Kantor dan rumah sama-sama membuat lehernya tercekik hingga tidak bisa membuatnya bernapas. Hingga akhirnya Romeo membelokkan kemudinya. Pergi dari kota karena entah, Romeo hanya ingin melarikan diri untuk sebentar saja. Menenangkan diri sejenak atas semua beban yang sudah hampir membuatnya mati.

Dan kini, Romeo memarkirkan dirinya di sebuah tanah yang lapang. Di bawah jembatan dengan air sungai yang sangat deras. Mengambil putung rokok dan menyalakannya. Duduk di tepian sambil menghirup napas dalam-dalam.

Sial!

Wanita itu masih terus terngiang-ngiang di kepalanya. Perempuan itu, entah lah. Darah Romeo selalu mendidih jika hanya dengan mengingatnya saja. Ia bahkan masih terus mengutuk pernikahannya dengan Arini yang jelas-jelas Romeo membencinya.

Satu-satunya alasan adalah Ayahnya yang sakit-sakitan. Permintaan Ayahnya seakan menjadi beban tetapi Romeo tidak kuasa untuk menolaknya. Dan perjanjian keluarga sialan itu! Romeo seperti terjebak di dalamnya.

Damn!

Berulang kali Romeo memijat pelipisnya frustrasi. Seharusnya wanita itu menolak pernikahan ini! Jika dia masih mempunyai hati untuk kakaknya, Arini pasti akan menolak tegas lamaran yang diutarakan dari keluarga Romeo.

Tapi sayang, perempuan itu terlalu licik. Seperti rubah yang bisa menipu siapa saja orang-orang dengan wajah sok polos dan sok menderitanya itu.

Untuk itu, Romeo bertekad. Dia akan melukai Arini terus-terusan agar dia menyesal menerima permintaan pernikahan ini. Membuat Arini menderita hingga Arini meminta cerai kepadanya. Karena hanya itu caranya agar Romeo bisa terbebas dari semua beban ini.

***

ARINI'S WEDDINGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang