BAB 18 - SUARA ZAKI

6.6K 420 11
                                        

Leukemia ...?

Perlu berulang kali Romeo meyakinkan diri dengan kertas yang ada di hadapannya ini. Romeo masih di sini, di sudut taman rumah sakit sambil tanpa sadar meremas kertas yang ada di tangannya.

"Selamat Romeo, sepertinya doamu akan segera terkabulkan ..."

Adalah kata-kata Remi yang masih terngiang di kepala Romeo hingga dadanya entah kenapa menjadi terasa sangat sesak. Apakah benar, penyakit yang saat ini Arini alami adalah karena doanya selama ini ...?

Beberapa saat kemudian, Romeo mengambil laptop dari dalam tas ransel yang ia bawa. Mengambil sebuah diska lepas yang dulu pernah diberikan kepadanya saat penyelidikan kecelakaan Aluna beberapa bulan silam.

Ada begitu banyak file yang tersedia, Romeo membuka file itu satu persatu untuk membuktikan ucapan Remi beberapa waktu yang lalu, dan benar saja ... Remi memang tidak salah, jika Arini membanting stir ke arah kanan, mungkin ada begitu banyak korban yang diakibatkan oleh kecelakaan itu.

Mata Romeo mulai berkaca-kaca. Tangannya mengepal kuat, apa Remi benar lagi ...? Bahwa dirinya hanya menutup mata, hanya mencari tumbal untuk melampiaskan seluruh emosinya ketika kehilangan Aluna.

Romeo menutup paksa laptop itu ketika ia selesai melihat semua kebenarannya. Menarik napas panjang kemudian memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa sangat sakit.

Kilas balik tentang semua hal buruk yang pernah ia lakukan kepada Arini muncul kembali satu persatu. Jauh di hati kecilnya, kenapa Romeo mulai merasa bersalah ...?

Tapi kemudian ... ia menggeleng-gelengkan kepala cepat.

"Tidak ...! Tetap saja dia yang menyetir pada kemudi ... Aluna tetap mati ditangannya dan tidak ada satu fakta apa pun untuk mengubah tentang hal itu. Jika bukan Arini yang mengemudi ... mungkin ... mungkin Aluna masih tetap hidup." Tanpa sadar Romeo meneteskan air mata itu kembali ketika mengatakan itu pada dirinya sendiri. Romeo tidak sepatutnya merasa menyesal, ia tidak perlu merasa bersalah pada Arini. Karena jika Arini berhati-hati, Aluna akan tetap hidup.

Ya. Romeo tidak salah lagi.

Tapi tiba-tiba kertas yang ada di hadapannya kembali membuat dadanya terasa ngilu.

Nyatanya, sekeras apa pun Romeo melakukan pembenaran dengan apa yang pernah sudah ia lakukan kepada Arini, tapi kenapa Romeo malah semakin merasa bersalah? Sekeras apa pun Romeo ingin terus mengalahkan Arini, tapi kebenaran cctv yang ada di hadapannya tadi malah membuat Romeo semakin tersudut dan merasa menyesal.

Kenapa Arini tidak mengatakan padanya oleh penyakit yang dideritanya?

Romeo harus segera pergi dari sini. Karena kalau tidak, ia pasti akan semakin terpengaruh dengan ucapan Remi. Tapi, baru saja ia berniat untuk segera pergi dan memasukkan laptop ke dalam tasnya, ia malah tidak sengaja melihat sebuah kotakan bekal yang tadi di siapkan Arini untuk dirinya.

Rasa sesak itu kembali menghampiri, biasanya Romeo akan langsung membuangnya ke tempat sampah, tapi tiba-tiba ... Romeo malah membukanya. Sebuah roti selai cokelat, dengan sekotak susu seperti anak kecil.

Dan untuk pertama kalinya ... Romeo mengambil bekal roti itu, menatapnya setelah sekian lama sebelum menyuapkan roti itu ke dalam mulutnya.

Ada tangis yang keluar dari sudut matanya, tapi secepat kilat Romeo menghapus air mata itu kemudian menghabiskan bekal makanan buatan Arini sampai habis.

***

Hari ini, Romeo pulang lebih cepat. Biasanya dia akan pulang hampir tengah malam untuk menghindari Arini, tapi baru pukul tujuh malam, mobil Romeo sudah terparkir di dalam garasi rumahnya.

ARINI'S WEDDINGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang