Mulan, mengurus Arini dengan sangat telaten. Mulai dari mengompres, membersihkan mimisan yang keluar dari hidung Arini, hingga memberikan obat penurun panas untuk Arini.
"Terima kasih, Ma." Arini sangat bersyukur mempunyai Mama mertua seperti Mulan. Yang sabar dan sudah menganggap Arini seperti anaknya sendiri.
Sedetik dia menatap ke arah jam yang melingkar di tangannya. Sudah larut tetapi Romeo belum juga pulang. "Dasar anak kurang ajar. Bisa-bisanya dia belum pulang?" Mulan mengeram.
Arini hanya diam, ia tidak tahu harus mengatakan apa pada Mulan kalau memang seperti ini lah hari-hari yang biasa Arini jalani bersama dengan Romeo.
Kini disendokkan makanan ke mulut Arini berharap menantunya itu makan. Berharap Arini bisa segera sembuh dan bisa melakukan aktivitas seperti biasa.
"Enak sekali, Ma." Arini tersenyum, hatinya menghangat saat memakan masakan ini. Membangkitkan kenangan tentang masakan Mamanya sendiri sebelum meninggal. "Kalau saja aku bisa memasak seenak ini."
Mulan tersenyum. "Nanti, setelah kau sehat main-main lah ke tempat Mama, Mama akan mengajarimu."
Arini tersenyum.
"Mungkin kau kelelahan, Arini. Tenang saja, Mama sudah menelfon yayasan asisten rumah tangga dan sesegera mungkin mereka akan mengirim asisten secepatnya.
"Mama itu tidak perlu."
Tapi Mulan menggeleng. "Jangan protes. Mama bisa bayangkan betapa lelahnya ketika membereskan rumah sebesar ini."
"Tapi, Ma..."
Mulan menggeleng. "Apa kau yakin tidak ke rumah sakit?"
Lagi-lagi Arini menggeleng.
Ditempelkan punggung tangannya ke dahi Arini. Memang sudah sangat berkurang, tapi Mulan masih kepikiran karena Arini bisa sampai mimisan seperti itu.
"Mama... aku sudah tidak apa-apa."
"Aku masih khawatir padamu. Dan Romeo, astaga kenapa dia belum pulang. Padahal Mama juga harus segera pulang, kau tahu semenjak struk, Papa bergantung dengan Mama."
Arini mengangguk, sangat paham akan hal itu.
"Tenang lah, Ma. Aku tidak apa-apa."
***
Degup kencang musik terus berputar bersamaan dengan Kiara yang meliuk-liukkan tubuhnya. Hanyut dalam pesta bersama dengan teman-temannya untuk menikmati malam ini.
Pada akhirnya ia kembali. Setelah memutuskan berhenti kuliah di Belanda, ia berencana untuk membuka bisnisnya sendiri di dalam negeri. Untuk itu hari ini Kiara memutuskan bersenang-senang. Mengundang semua temannya datang ke bar untuk merayakan kepulangannya setelah sekian lama ia tercekik di luar negeri.
"Wohoo." Mereka berteriak keras ketika bersulang, tertawa senang seperti tidak ada beban ketika lagi-lagi mereka hanyut dalam musik yang berputar dengan sangat keras.
Tertawa dan berpesta. Kiara merasakan betapa hidupnya sangat sempurna. Hingga akhirnya Kiara seperti melihat Romeo berada di sana. Bersama dengan kedua perempuan yang sedang menggoda sekaligus menyentuh Romeo dengan begitu manja.
"Astaga, bukan kah itu Romeo?" Pekik Kiara ketika baru sadar bahwa ternyata memang benar dia adalah Romeo yang selama ini ia kenal.
Dan salah seorang temannya menatap ke arah yang ditunjuk oleh Kiara. "Ya, dia memang Romeo. Beberapa bulan ini dia sering mampir ke sini?"
"Apa?" Mulut Kiara menganga lebar.
"Itu tidak mungkin...!" Kiara sangat kenal siapa Romeo. Dia bahkan cinta mati terhadap Aluna. Bahkan ketika dulu Kiara berusaha mengambil hatinya, dia tidak goyah sama sekali.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARINI'S WEDDING
Roman d'amourKetika Arini dipaksa untuk menggantikan posisi kakaknya untuk Romeo. Lalu ketika Romeo terpaksa menikahi Arini, yang benar-benar sangat membuatnya benci. Dan ketika dua hati terpaksa bersatu, mungkin kah mereka akan berdamai dengan waktu?
