Arini masih kaget ketika melihat Kiara yang turun dari mobil milik Romeo. Setelah sekian lama temannya itu menghilang, kenapa dia bisa datang ke sini apa lagi bersama dengan Romeo.
Tapi, sikap Kiara berbanding terbalik dengan dirinya. Ia malah tersenyum lebar, berlari kecil ke arah Arini dan sekarang malah memeluknya erat.
"Astaga, Arini. Aku rindu padamu." Ucap Kiara. Kini ia mencium salah satu pipi Arini dan tertawa cekikikan sendiri. "Astaga, aku tidak tahu kalau kau sudah menikah. Apa lagi dengan mantan suami kakakmu sendiri. Ya ampun, dunia sangat sempit bukan?" Suaranya renyah dan terlihat santai, tapi entah kenapa malah membuat Arini kikuk mendengarkan perkataan dari temannya itu.
"Emm, ya."
"Aku ingin berkunjung sebentar ke rumahmu. Boleh kan?" Kiara menggandeng tangan Arini tanpa perlu aba-aba.
"Emm, itu..." Arini melirik ke arah Romeo yang bahkan tidak memandangnya sedikit pun.
"Ayo lah. Aku temanmu dan kita sudah lama tidak berjumpa." Kiara terus membujuk, membuat Arini tidak bisa menolak permintaan Kiara.
Sementara di sana, Romeo memandang ke arah Zaki. Romeo sedikit mengernyitkan dahi kenapa mereka bisa pulang bersama seperti itu.
"Aku bertemu dengan istrimu di Hypermart."
"Aku tidak perduli." Romeo hanya mengangkat bahu berjalan menuju rumahnya.
Tapi Zaki hanya memutar matanya, jelas-jelas Zaki melihat Romeo seakan-akan terganggu akan kedatangannya bersama dengan Arini.
"Jujur lah padaku, apa kau jealous?"
"Kau gila, Zak."
Zaki tertawa melihat reaksi Romeo yang ngotot dengan mata yang menyala seperti itu.
***
Di dalam rumah, Kiara memutar tanpa merasa sungkan sedikit pun. Melongok ke arah taman, berkeliling kolam renang, menuju dapur dan berjalan santai menyusuri tangga sedangkan Arini menyiapkan camilan.
Kiara masih menganga tidak percaya sambil terus mengikuti Arini. Dilihatnya arsitektur kelas atas yang bernuansa gelap tapi entah kenapa membawa kesan elegan.
Sementara dua orang laki-laki itu entah ke mana. Mungkin mereka sedang berbincang di ruang kerja milik Romeo karena tadi Arini melihat mereka langsung menuju ke sana.
"Astaga, Arini. Rumahmu besar sekali...?" Celetuk Kiara kemudian berlari ke arah Arini. Menyentuh bahunya karena masih tidak percaya dengan hunian yang saat ini Arini tinggali bersama dengan Romeo.
Tapi Arini hanya tersenyum, kini mengambil nampan lalu memberikan camilan ini ke meja tamu.
Melihat Arini yang kerepotan seperti itu, dahi Kiara mengernyit. "Kenapa kau menyiapkan minuman itu sendiri? Di mana pembantumu?"
"Ah, aku tidak mempunyai pembantu."
"What?" Mata Kiara melebar. "Apa aku tidak salah dengar? Rumah sebesar ini tapi tidak ada pembantu? Lalu, siapa orang yang membersihkan hunian ini?"
Arini hanya tersenyum, dan Kiara menangkap sorot mata sendu itu. Dan secepat itu Kiara langsung paham bahwa Arini lah yang melakukan semuanya.
"Kau istrinya, Arini. Tidak kah kau paham melihatmu diperlakukan seperti ini malah terlihat seperti pembantu?" Ucapan Kiara yang terlihat santai itu lagi-lagi membuat Arini menahan napas.
Tapi kemudian Kiara mengangguk-anggukkan kepalanya paham. "Well, aku mengerti sekarang." Ia kemudian meneliti setiap dinding yang ada di ruang tamu ini. Melihat seluruh figura yang terpasang di seluruh penjuru rumah ini.
Rumah ini memang sekarang ditinggali oleh Arini, tapi semua foto itu adalah foto Aluna. Dari mulai saat mereka bersama hingga saat mereka menikah. Tidak ada satu pun foto milik Arini yang terpajang di sana, hingga membuat Arini tampak seperti orang asing di rumah ini.
Arini menahan napas ketika melihat Kiara memandangi foto-foto kakaknya.
"Aku sudah tahu semuanya. Romeo sudah menceritakan semuanya tadi."
Mata Arini melebar. "Romeo...?"
Kiara mengangguk, kini ia duduk santai di atas sofa.
"Emm, kau belum menceritakan kenapa tadi kau bersama dengan Romeo." Pertanyaan ini lah yang sedari tadi menggelitik di hati Arini, ia sangat penasaran kenapa Kiara bisa bersama dengan Romeo saat pulang tadi.
Tapi Kiara tersenyum. "Kau pasti jealous, Arini."
Tapi Arini hanya mengangkat bahu, mencoba tersenyum tapi sulit untuk diartikan.
"Ah, tadi. Aku bertemu dengannya di bar."
"Bar?"
Kiara mengangguk. "Ya, saat aku memergokinya bersama dengan kedua perempuan cantik."
Ada perasaan ngilu yang tiba-tiba menyeruak tajam, sementara Kiara masih saja tersenyum. Sepertinya Kiara tidak paham bahwa keterbuka-bukaannya itu seperti menancapkan belati di hati Arini.
"Ya, kau tahu. Aku tadi melihat wajah Romeo yang tampak tertekan dan aku menawari untuk menemaninya."
Arini menelan salivanya. "Tertekan?"
"Dugaanku benar, ternyata dia masih belum bisa melupakan Aluna meski sebenarnya dia sudah menikah."
"..."
"Arini...? Hey, kau menangis."
Arini mengusap air mata yang tidak sengaja menetes. "Ah, maaf. Ternyata kau sudah tahu semuanya." Buru-buru Arini mengusap air mata miliknya.
Kiara mengangguk. "Ya, Romeo sendiri yang menceritakan padaku."
"Romeo memang masih belum melupakan Aluna." Ucap Arini getir, meski berat mengatakan hal itu kepada Kiara.
"Tapi kau menyukai Romeo bukan?"
Arini terhenyak, menoleh ke arah Kiara akan ucapannya itu.
"Apa kau ingat? Dulu aku sempat memergokimu menangis saat Romeo dan Aluna menikah. Katamu kau menangis karena terharu melihat Romeo dan Aluna menikah. Tapi sepertinya, sorot matamu tidak bisa membohongiku. Kala itu, aku sudah tahu kalau kau hancur karena cemburu. Dan melihat tangisanmu terulang lagi saat ini, sudah cukup membuatku mengerti."
"..."
"Romeo terpaksa menikahimu, kan? Kau pasti setiap hari patah hati melihat Romeo yang tidak pernah memandangmu."
Melihat Kiara seperti ini, membuatnya sedikit syok. Ucapannya entah kenapa menjadi seperti ini. Keterbuka-bukaannya semakin membuat hati Arini ngilu.
"Ayo kita jujur saja, Arini. Kau menyukai Romeo, kan?" Mata Kiara melebar. "Asal kau tahu, aku juga suka padanya. Dan alasan kenapa aku menuruti orang tuaku ke luar negeri adalah karena aku juga patah hati melihat Romeo menikah. Dan sekarang, bisa kah kita bersaing secara sehat? Aku tahu Romeo tidak sedang mencintai siapa pun."
Dan mendengar keterbuka-bukaan Kiara lagi, semakin membuat Arini kaget bukan main.
***
Vote komen ya... :)
KAMU SEDANG MEMBACA
ARINI'S WEDDING
RomanceKetika Arini dipaksa untuk menggantikan posisi kakaknya untuk Romeo. Lalu ketika Romeo terpaksa menikahi Arini, yang benar-benar sangat membuatnya benci. Dan ketika dua hati terpaksa bersatu, mungkin kah mereka akan berdamai dengan waktu?
