Mungkin, kopi yang tadi mengepul di atas meja kini sudah mendingin. Saat ini, Romeo sudah duduk bersama Zaki di sebuah kedai. Masing-masing dari mereka tidak menyentuh cangkir itu sama sekali, sedari tadi mereka hanya diam membisu tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
Rintikan hujan di luar sana semakin memperparah keadaan. Jika hujan itu semakin besar, mereka akan terjebak di sini semakin lama karena letak kantor mereka yang ada di seberang jalan.
"Kalau kau tidak ingin bicara, lebih baik aku pergi sebelum hujan semakin deras." Hingga pada akhirnya Zaki mengucapkan akan hal itu. Ia memandang ke arah Romeo yang masih membuang muka ke luar jendela.
"..."
"Kau yang mengirimiku pesan untuk segera datang ke sini. Ingat itu?"
Romeo kemudian menatap ke arah Zaki, menyedekapkan tangannya dan tidak sengaja melihat luka memar berwarna biru yang ada di beberapa titik wajahnya.
"Maafkan aku,"
Zaki berdecih. "Kau masih ingat untuk meminta maaf rupanya."
"Tadi malam aku emosi. Sekali lagi aku minta maaf."
"Dengar, Romeo. Kau membingungkan. Apa kau lupa kalau kau sendiri yang mengatakan dan berharap Arini pergi? Bahkan kau juga mengizinkanku untuk mendekatinya, tapi sekarang ...?" Zaki menunjuk pada bekas pukulan yang dilayangkan Romeo tadi malam.
"..."
"Apa kau tidak punya hati? Dia gadis yang baik, dan bagaimana mungkin kau tega menyakitinya terus menerus? Tadi malam aku memang tidak sengaja melihat Arini, saat itu aku tidak tega melihatnya jalan sendirian, untuk itu aku mengikutinya ketika ia mulai naik ke sebuah taksi."
"Kau menyukainya?"
"Ya." Dan jawaban Zaki terus terang seperti itu entah kenapa membuat Romeo sesak. "Awalnya aku hanya merasa kasihan, tapi lama kelamaan aku mulai menyukainya. Dan ketika kau mengizinkanku untuk mendekatinya, aku tidak bisa melewatkan kesempatan itu kan?"
"Mulai sekarang, aku menarik semua ucapanku. Jangan dekati Arini lagi."
Zaki mulai tertawa mendengarnya. "Kau aneh Rom. Kau melarangku untuk mendekatinya tapi kau terus menerus menyakitinya."
"Mulai sekarang aku tidak bisa menyakitinya lagi."
Suatu pernyataan yang berhasil membuat Zaki terhenyak kaget. "Apa yang membuatmu berubah pikiran hanya dalam satu malam. Aku tahu kau sangat membencinya."
"Fakta tentang kenapa Aluna meninggal karena Arini memang masih menyakitkan."
"Tutup mulutmu, Rom. Kau masih menganggap Arini yang membunuh Aluna tapi kenapa tadi kau bilang kau tidak bisa menyakitinya lagi?"
"Arini sakit. Leukemia."
Dan perkataan Romeo berhasil membuat Zaki terhenyak kaget. Ia syok luar biasa. Matanya melotot tajam, ia menganga dibuatnya.
"A-apa?!"
Romeo mengangguk membenarkan.
"Kau bercanda. Oke, aku tahu selama ini kau memang selalu menginginkan Arini pergi, tapi berbohong soal penyakit, itu tidak lucu."
"Aku tidak berbohong, Zak."
Entah sejak kapan mata Zaki mulai berkaca-kaca. Napasnya terasa sangat berat untuk menghirup oksigen ketika ia mendapatkan berita itu.
"Sepertinya kau bahagia sekarang. Harapanmu akan segera terwujud." Ada nada getir di balik suara itu.
"Aku tidak sejahat itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
ARINI'S WEDDING
RomanceKetika Arini dipaksa untuk menggantikan posisi kakaknya untuk Romeo. Lalu ketika Romeo terpaksa menikahi Arini, yang benar-benar sangat membuatnya benci. Dan ketika dua hati terpaksa bersatu, mungkin kah mereka akan berdamai dengan waktu?
