BAB 2 - WANITA LAIN

13.9K 706 12
                                        

Hai gais, bagi yang baru nemuin cerita ini, aku harap kalian tetap meninggalkan vote dan komen ya gais...

Jangan jadi silent reader ya gengs. Mentang2 udah tamat kalian gag mau vote dan komen. Sedih lo aku tu, vote dan komen sangat berharga buat aku. Apa lagi di komen, hanya sekedar itu buat aku seneng.

Vote dan komen lebih berarti buat aku, dibandingkan banyaknya view. Pertama biar cerita ini lebih bisa naik, dan kedua, biar bikin aku semangat lagi buat nulis cerita lainnya. Makasih.

***

Bahkan sampai larut malam pun, Arini masih belum bisa tidur. Ia melihat ke luar jendela ketika titik-titik hujan mulai turun dan membasahi bumi. Melirik ke arah jam yang ada di dinding kamar kalau waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari.

Romeo belum pulang, adalah hal yang sudah mengusik hatinya sedari tadi. Membuatnya terjaga dan sekali lagi meraih gorden yang ada di ruang tamu seperti menantinya.

Arini menggigit ujung bawah bibirnya sendiri, harap-harap cemas ketika menanti kepulangan Romeo. Ia terus menoleh ke arah luar jendela berharap orang yang dinantinya akan segera pulang dan dalam keadaan baik-baik saja.

Hingga akhirnya terdengar sebuah suara. Mobil porsche milik Romeo berhenti tepat di depan rumah hingga membuat Arini berdiri dan melongok ke arah luar jendela.

Perasaannya membuncah, ia merasakan kelegaan yang luar biasa saat menyadari bahwa suaminya masih ingat untuk pulang ke rumah. Hingga buru-buru Arini melangkah ke arah pintu untuk menyambut suaminya itu pulang.

Tetapi belum sempat Arini meraih knop pintu untuk membukakan pintu, tiba-tiba pintu itu mendadak terbuka dengan sedikit paksa. Dan yang membuat Arini syok adalah, ketika ternyata, Romeo tidak hanya pulang sendirian, melainkan membawa seorang perempuan yang ia rangkul dengan begitu mesra.

"Romeo...?" Bahkan Arini membungkam mulutnya sendiri, melihat perempuan itu bergelayut manja pada tubuh Romeo dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang milik Romeo.

"Sayang, dia siapa...?" Jari telunjuk perempuan itu mengarah tajam pada Arini. Mengajukan sebuah pertanyaan pada Romeo yang seharusnya Arini lah yang berhak mengajukan pertanyaan itu untuk Romeo.

"Dia hanya istriku. Tidak usah kau memperdulikannya." Ucap Romeo angkuh, bahkan menatap Arini saja Romeo seakan tidak sudi.

Tawa renyah keluar dari mulut perempuan yang hanya menggunakan celana di atas lutut itu. Mengejek pada Arini dengan tatapan mencemooh lalu membelai wajah Romeo tepat di hadapannya.

"Romeo apa-apaan ini ...?" Dan baru lah Arini membuka mulutnya, melihat Romeo bersama dengan perempuan lain benar-benar membuatnya syok setengah mati. Arini bahkan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Karena Romeo yang ia kenal, bukan lah orang seperti ini.

"Hei...! Bukan kah Romeo sudah mencampakkanmu? Jangan ganggu kami!" Teriak perempuan itu. Bahkan belum apa-apa perempuan itu sudah mendorong tubuh Arini hingga Arini hampir jatuh ke atas lantai.

Untung saja Arini cepat menahannya, buru-buru ia menegakkan tubuhnya lagi dan menatap tajam ke arah mereka berdua. Terlihat Arini menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan menahan derai air mata yang ingin menetes.

"Romeo, bisa kah kita bicara?" Ucap Arini sambil terus berusaha menahan hatinya yang terasa sangat sakit.

"Bicara lah, kau tahu aku sedang sibuk bukan?"

Dan perempuan itu semakin kecentilan dengan membenamkan kepalanya pada dada milik Romeo. Merasa menang karena ternyata Romeo lebih memilih dirinya dibanding dengan istrinya sendiri. Senyum kepuasan muncul begitu saja, menatap ke arah Arini dengan tatapan mengejek.

"Tapi, aku ingin bicara denganmu secara pribadi." Arini melirik ke arah perempuan itu yang semakin menatap tajam ke arah Arini. Ia benar-benar tidak suka dengan Arini karena menghalangi dirinya untuk segera memiliki Romeo.

"Aku sedang tidak ingin berbicara padamu. Pergi lah."

Ha ha ha. Dan tawa perempuan itu semakin keras. "Lihat bukan? Romeo ingin kau pergi."

"Romeo aku mohon." Ketika perempuan itu ingin menarik lengan Romeo, spontan Arini juga menarik tangan suaminya. Membuat Romeo semakin emosi melihat Arini yang sudah berani nekat seperti sekarang.

"Arini, lepas!"

"Tidak, sebelum aku berbicara padamu."

Romeo menarik napas panjang, menghembuskannya buru-buru lalu menatap tajam ke arah Arini. Romeo benar-benar emosi meski pun ia sudah mencoba untuk menahan.

"Romeo, jangan dengarkan dia! Ayo kita pergi? Di mana kamarmu?" Perempuan itu terus merayu Romeo dengan berani tanpa memerdulikan Arini, padahal jelas-jelas dia adalah istrinya.

"Romeo...?"

Romeo semakin pusing mendengar Arini yang terus memanggil namanya berulang kali, dan tidak ingin berlama-lama lagi, Romeo akhirnya menyerah, tiba-tiba Romeo menarik diri dari perempuan centil ini, menatap ke arahnya dan kemudian menyuruhnya pergi. "Kau pergi lah, aku akan membereskan masalahku terlebih dahulu."

Mendengar hal itu, perempuan itu kaget bukan main. Tidak, ini tidak boleh terjadi. "Romeo sayang, bukan kah kau bilang ingin menghabiskan malam ini bersamaku?" Perempuan itu terus merajuk, menggelayut semakin manja karena tidak ingin pergi dari sisi Romeo.

"Pergi lah," dan tiba-tiba, Romeo membuka lebar pintu rumahnya. Mendorong perempuan itu keluar dan dengan cepat mengunci rumah itu. Tidak memerdulikan dia yang berteriak keras dan terus memanggil nama Romeo berulang kali. Hingga akhirnya, perempuan itu menyerah, dia kemudian mengumpat dan kemudian pergi begitu saja.

"Katakan lah, apa maumu?" Hingga akhirnya Romeo membuka suara. Menatap ke arah Arini yang masih syok dengan apa yang dilihatnya kali ini.

"Kenapa...? Kenapa kau melakukan ini?" Tanya Arini lirih, bahkan mengingatnya saja Arini tidak sanggup. Bagaimana mungkin Romeo yang selama ini ia kenal baik hati, dan biasanya menjauhi hal-hal buruk bisa melakukan hal ini?

"Bukan urusanmu." Dan mendengar jawaban ketus itu semakin membuat Arini semakin sakit.

Arini menahan napas, menggenggam erat tangannya. "Kau tahu itu menyakitiku. Aku kenal dirimu, kenapa kau tiba-tiba bisa menjadi orang yang seperti..."

"Jangan sok tahu." Belum selesai Arini menyelesaikan kalimatnya, Romeo sudah menjawab Arini dengan ketus hingga semakin jauh menyakiti Arini.

"Romeo aku..."

"Sudah kubilang, jangan bersikap seolah-olah kau istriku! Aku hanya terjebak oleh dirimu hingga membuatku terpaksa menikahimu! Bukan kah tadi aku sudah mengatakan dengan jelas? Jangan mengangguku! Melihat dirimu saja sudah membuatku muak dan tolong jangan membuatku menderita lebih jauh lagi!" Ucap Romeo dengan mata yang menyala hingga tanpa sadar Arini sudah tidak bisa lagi membendung air matanya.

"Romeo, aku..."

"Kamu harusnya sadar, bahwa kau hanyalah bencana dalam hidupku!" Dan setelah mengucapkan kalimat itu, Romeo melangkah pergi, tidak perduli lagi dengan Arini yang bahkan kini sudah tidak sanggup lagi membendung air matanya.

Rasanya benar-benar sakit, paru-parunya tiba-tiba sangat sesak hingga Arini merasa tidak bisa bernapas lagi. Ia tertunduk, meremas dadanya yang sudah sangat ngilu menahan semua kata-kata Romeo yang terus menyakiti hatinya.

Dan mungkin kah selamanya, Romeo akan selalu membencinya...? Oleh kisah yang ada di masa lalu mereka?

***

Bersambung,

vote dan coment jika kalian suka ^^

ARINI'S WEDDINGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang