AYO IKUT AKU KE NERAKA
BAB-6
DIA TAK PERLU LIDAH"Rokok?"
"Sorry, gue udah berhenti ngerokok, Sha!"
"Okay."
Di sini, Mellani dan Sasha sedang berada di sebuah cafe, setelah sebelumnya mereka pergi ke rumah duka untuk mengucapkan salam perpisahan kepada Jonathan untuk yang terakhir kalinya.
"Gue pikir lo benci sama Jo, Mell? Sekarang lo malah ngajak gue buat melayat ke rumahnya. Nggak habis pikir gue sama jalan pikiran lo, Mell." Sasha berucap sambil membakar ujung rokok di bibir seksi miliknya.
"Entahlah, Sha. Gue pusing, satu persatu orang-orang yang ada di dekat gue celaka, bahkan sampai meninggal. Gue sekarang sedang merasa, entahlah." Mellani berucap sambil mengaduk-aduk es caramel latte miliknya.
Sasha menghembuskan asap rokoknya perlahan ke udara, berfikir sejenak.
"Mell, lo tahu nggak alasan kenapa Jo meninggal?"
Mellani menggerakkan bahu pertanda tak tahu.
"Jo di bunuh, Mell!"
"Serius lo, Sha? Lo tahu dari mana? Jangan sebar gosip sembarangan deh!"
Sasha tersenyum sinis.
"Dompet gue sekarang seorang polisi Mell, bukan polisi bawahan, tapi atasannya, pasti tahulah gue. Asal lo tau Mell...."Sasha mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan tubuh Mellani yang hanya terpisah meja kecil di antara mereka.
" Jo jasadnya nggak utuh, lidah sama kemaluannya hilang." Sasha berbisik agar tak mengganggu tamu cafe yang lain dengan suaranya.
Mellani bergidik ngeri, kenapa nasib Jonathan mirip sekali dengan Bagas.
"Hahaha, lo tahu, Mell. Si Jo itu emang pantes buat dapet kematian tragis macam itu, justru gue salut sama cewek yang udah bunuh Jo." Sasha tertawa sarkas.
"Kok lo tahu kalau yang bunuh Jo itu cewek?" Mellani mau tak mau jadi penasaran dengan cerita Sasha tentang kematian Jonathan.
"Jo meninggal di kamar hotel, Mell, dan pihak hotel bilang sebelum diketemukan meninggal, Jo check in sama cewek, lo kan tau sendiri si Jo sifatnya gimana. Gonta ganti cewek, kalau bosen langsung dibuang tuh cewek, mungkin salah satu dari mereka dendam gitu sama Jo."
"Sadis banget tapi, Sha!"
"Lo gak pernah sih jalan sama si Jo, dulu gue pernah sekali jalan sama dia, Mell. Itu lidah kalau ngomong tajam banget, akhirnya dulu gue batalin buat jadiin dia target gue, sok kaya tapi zonk, dan mulutnya pedes, kalau ngomong gayanya tinggi selangit. Pantas dia mati tanpa lidah, dia emang gak butuh tuh lidah, gak ada manfaatnya buat Jo selain keluar kata-kata kotor." Sasha kembali berbisik dan mendekatkan wajahnya ke wajah Mellani.
"Satu lagi yang harus kamu tahu,Mell. Gue hampir lupa buat cerita ke lo. Di sebelah jasadnya si Jo ada tulisan dari darah Jo, bunyinya
KITA KETEMU DI NERAKA.""Kita ketemu di neraka?" Mellani mengulangi perkataan Sasha.
"Yoi, Mell. Horor banget kan, Mell. Macam film horor di bioskop aja. Pembunuhnya adalah seorang psycho. Kalau lo nggak percaya, lo bisa lihat beritanya di internet, seorang anak dewan mati dibunuh teman kencannya di hotel."
Mellani tertunduk sambil memegangi kepalanya yang pening. Kata-kata Sasha sudah tak bisa dia dengar dengan jelas lagi.
"Lo pucat banget, Mell. Mau gue antar pulang? Daripada kenapa-napa di jalan. Entar nyokap lo marah lagi ke gue."
"Iya, Sha. Tolong antar gue pulang, pusing banget gue."
Sasha pun bergegas membawa temannya itu ke mobil dan mengantar Mellani pulang.
Sesampainya di gerbang rumah Mellani, nampak sebuah mobil yang tidak asing, mobil Om Ilham.
Saat akan turun dari mobil, Om llham keluar dari rumah dan melihat ke arah Mellani dan Sasha, Om Ilham hanya mengangguk kemudian pergi dengan mobilnya.Sasha memegangi tangan Mellani saat dia hendak turun dari mobilnya.
"Mell, itu tadi siapa? Ganteng banget."
"Oh, itu om gue, Om Ilham. Tapi mending lo jangan deket-deket sama Om Ilham deh, Sha. Dia itu miskin, nggak seperti dompet berjalan lo. Udah ah, gue cabut dulu, kepala gue pusing. Sorry, lo jangan mampir ke rumah ya, Sha. Gue mau langsung tidur, nggak kuat rasanya."
"Haha. Oke santai aja, gue pergi dulu, bye Mell..lla..ni..."
Suara mobil Sasha menjauh, tapi bukan suara deru mobil yang terdengar di telinga Mellani, tapi justru suara saat Sasha menyebut namanya, seolah dia kenal suara itu, dejavu.
"Mellani, sayang. Ngapain kamu bengong di depan gerbang rumah? Ayo masuk!"
Suara ibunya menyadarkan Mellani dari suasana dejavu tadi.
"Om Ilham ngapain ke rumah, Mah?"
"Oh, dia mau melamar kamu, Mell. Gimana? Kamu mau menerima lamaran Om kamu?"
"Mellani pusing mah, mau tidur." Mellani tak menanggapi gurauan ibunya.
"Haha, Mamah bercanda, Mell. Itu tadi Om Ilham bantu pasang cctv rumah, supaya kamu aman. Sudah ayo masuk rumah terus kamu istirahat."
Mellani mengekor langkah ibunya.
Mellani....
Mell ... lla ...ni ....Ah suara itu terdengar lagi di gendang telinganya.
Mellani tiba-tiba merasa pusing. Pandangannya menjadi gelap. Entah kenapa rasanya dia sangat lelah, matanya sangat berat, yang terakhir dia dengar adalah suara ibunya yang manggil-manggil namanya dengan panik, selebihnya dia seperti pergi ke tempat yang sangat gelap, pengap dan dingin.

KAMU SEDANG MEMBACA
AYO IKUT AKU KE NERAKA
Misteri / ThrillerDIA HANYA GADIS LUGU YANG KALIAN PAKSA JADI PSIKOPAT. JANGAN SALAHKAN JIKA DIA KEMBALI.