12

124 23 24
                                        

Severus menyiapkan diri, ia sudah bersiap, memakai pakaiannya dengan rapi. Ia meratapi gadisnya yang tengah serius mencatat apa yang sedang berada di kepalanya. Ia tak kuat hari intuk mengatakannya.

Kantung tempat pengiriman suratnya terisi penuh oleh banyak lembaran amplop dan surat. Ia membacanya. Ia sudah diminta untuk kembali ke Inggris. Dan salah satunya adalah surat penuh dengan amarah yang dikirimkan Lucius Malfoy padanya. Ia diminta untuk segera kembali, sebab atasan Severus sudah mengomel untuk memintanya segera kembali, tugasnya membuat ramuan harus di lanjutkan.

Severus menarik napas dalam-dalam, ia harus menyiapkan dirinya untuk mengatakan perpisahan pada kekasih barunya yang baru saja mereka jalin hubungan sejak semalam. Severus mendekatkan dirinya kepada gadis itu.

"Rany.."

"Iya mas, gimana? Ada apa?"

"Maafkan aku cintaku, aku harus mengatakan ini"

"Katakanlah saja, tak perlu sungkan" gadis itu tersenyum lembut. Ia menutup buku catatannya.

Rany membusungkan diri, mendekati kekasihnya. "Rany.. aku diminta untuk segera kembali ke London. Dan aku mendapat kartu untuk naik pesawat nanti sore. Maafkan aku aku harus kembali!"

Rany mengangguk mengerti. Ia tak berat hati, ia menerimanya. Lagipula pada setiap pertemuan akan selalu ada perpisahan. Rany sudah menyambut dengan lapang, bahwa perpisahan di antara keduanya pasti akan terjadi.

"Tak apa mas.. aku tau kau memang harus kembali. Kau harus melanjutkan tugasmu, dan syukurlah kau sudah menemukan bunganya" Rany mengarahkan pandangannya pada bunga cantik itu di meja kerja dikamar itu. "Maafkan aku Rany, aku tak berniat meninggalkan mu begitu saja"

"Severus sayangku.. tenanglah, setiap pertemuan akan ada perpisahan bukan?" Severus mengangguk. Raut wajahnya dipenuhi kesedihan. "Mungkin perpisahan kita ini membuat hubungan kita semakin dekat"

Rany masih terus tersenyum dan terlihat baik baik saja. "Rany, aku tak ingin berpisah darimu"

"Kau harus, kau harus melakukan tugasmu yang lebih penting daripada aku, Severus!"

"Ikutlah denganku, hidup di Inggris!"

Rany tertawa. "Hei, pria tuaku. Aku masih mahasiswa, aku masih berkuliah. Aku harus melanjutkan studiku, melanjutkan skripsi ku lalu sidang dan lulus. Kau harus menungguku jikalau kau ingin aku pergi bersamamu."

Severus berlinang air mata, cairan itu mengalir pada wajahnya. Kini basah oleh perpisahan. "Kau masih bisa mengirimkan surat kepada ku, aku masih tetap di sini. Kau bisa menemuiku suatu saat nanti. Jadi tenanglah, aku bisa berkomitmen akan selalu bersamamu. Aku mencintaimu!"

"Rany.." Severus memberikan pelukan erat kepadanya. Ia memeluk kuat, ia tidak rela menyambut perpisahan itu. Ia tak ingin separuh jiwanya pergi lagi, dan ia tak dapat mendapatkan cintanya.

Menit demi menit berlalu, ia masih tak melepaskan pelukannya dari sang gadis. Ia menangis hingga lelah dan terlelap. Rany hanya bisa menyanggah tubuh itu. Ia juga merasakan kepedihan yang sama. Ia tak ingin terpisahkan lagi dari seseorang yang ia rasakan cinta dan hangatnya kenyamanan yang ia dapatkan bersamaan. Ia tidak siap menyambut hari hari pada tiap malam yang dingin tanpa dekapan hangat sang kekasih.

Ia tidak sanggup!

Rany melihat karcis yang sudah dipesan untuk Severus kembali. Rupanya pukul 4 sore kepulangannya. Rany membangunkan kekasihnya. Severus terbangun. Ia tersadar bahwa waktu begitu cepat memaksanya kembali.

Rany bersiap, membantu Severus mengemas barang barangnya. Justru ia lah yang menyiapkan Severus hanya duduk lesu dan tak siap.

Rany terus berbicara, memastikan kondisi Severus untuk nanti dan ke depannya. Severus hanya meratapi punggung itu, ia merasa gadisnya sangat perhatian dan keibuan. Dibawakannya keteduhan.

Amor AmertaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang