13/13

3.1K 222 182
                                    

Masih ada yang nungguin?

Coba kasih satu alasan knp kalian masih sanggup baca sampe chapter ini?

Jeffrey lanngsung berdiri ketika melihat Joanna yang sudah mendekat. Dengan wajah kesal dan raut marah. Sebab dia lelah dan butuh istirahat. Namun terus saja dibuat emosi oleh orang-orang.

"Mau apa kau kemari??"

Tanya Joanna yang kini sudah berada di depan Jeffrey. Membuat para tetangga yang melihat langsung menahan nafas kali ini. Sebab tidak bisa membayangkan jika mereka yang sedang berhadapan dengan Jeffrey. Si tampan dan pewaris tunggal pabrik plastik di desa ini.

"Aku akan berbicara pada Tama. Aku akan---"

Plak...

Joanna menampar Jeffrey tiba-tiba. Membuat Jeffrey terkejut tentu saja. Karena tidak menyangka jika akan mendapat tamparan dari Joanna. Di depan banyak orang yang melihat mereka.

"Aku sudah memiliki suami sekarang! Jangan kau pikir aku mau meninggalkan suamiku demi kamu yang datang tiba-tiba! Tidak! Aku tidak selemah yang kau pikirkan! Aku tidak akan goyah meskipun kau datang! Pernikahanku bersama Tama, aku tidak akan membiarkan siapapun mengusiknya!"

Joanna langsung membuka pintu rumah. Di sana, ternyata sudah ada Tama yang berniat membuka pintu juga. Sebab Jeffrey memang baru saja datang dan mengetuk pintu agak kencang. Namun Tama yang sebelumnya berada di kamar butuh waktu lebih lama untuk membukakan pintu dari dalam.

"Lain kali langsung usir saja dia!"

Tama tidak mengatakan apa-apa. Kemudian menatap Jeffrey yang kini tampak marah dengan kedua mata berkaca. Sebab tidak menyangka jika Joanna benar-benar menolak dirinya.

Ceklek...

Tanpa menyapa Jeffrey, Tama langsung mengunci pintu dari dalam. Mengabaikan Jeffrey yng tampak ingin berbicara padanya. Karena Tama tahu pasti apa yang ingin pria itu katakan padanya.

Iya. Pasti sama seperti apa yang pagi tadi dikatakan padanya. Memintanya untuk bercerai dengan istrinya.

"Mau kumasakkan apa? Tadi kamu---"

"Bisa tinggalkan aku sendiri? Aku tidak lapar. Kamu bisa memasak apapun yang kamu ingin."

Ucap Joanna sembari mengambil handuk mandi. Lalu memasuki kamar mandi dan menutup pintunya kasar sekali. Kemudian berteriak kencang sembari memaki orang-orang yang telah membuatnya kesal hari ini.

Karena tidak mendapat hasil apa-apa, Jeffrey akhirnya langsung pulang. Dia juga berniat mendatangi rumah Liana. Karena ingin menyalahkan mereka sebab telah membuat wanitanya berlaku demikian.

"KALAU KAK JANU TIDAK BISA KULIAH, OKE. BISA KUTERIMA! TAPI INI JOANNA! AKU TIDAK BISA DIAM SAJA DAN PURA-PURA TIDAK MELIHAT ADIKKU HIDUP MENDERITA!"

"Dia tidak menderita, Tama orang baik dan memiliki tanggung jawab."

"APA ARTI ORANG BAIK DAN TANGGUNG JAWAB KALAU TIDAK ADA CINTA DIANTARA MEREKA, KAK!? DI MANA KAK JANU YANG SELAMA INI MENGAYOMI ADIK-ADIKNYA? KAKAK TAHU KALAU JOANNA DAN JEFFREY SALING CINTA, KAN? TAPI KENAPA KAKAK PISAHKAN!?"

"Rosa, Kakakmu tidak bersalah. Janu mendukung Ibu karena tidak ingin kalian celaka. Dia sudah merasakannya. Tidak bisa berjalan normal dan selalu menjadi olokan orang setiap melangkah. Dia tidak ingin kalian merasakan hal yang sama juga."

"MERASAKAN APA!? KARMA? DI MANA RUMAH DAMAR!? KEPALA DESA MACAM APA YANG BISA DENGAN SEENAK JIDAT MERAMAL KARMA ORANG! MEMANGNYA DIA TUHAN!? BAJINGAN! GARA-GARA DIA HIDUP ADIKKU MENDERITA!"

Rosa berniat keluar rumah. Karena ingin melabrak Damar di rumahnya. Sebab selama ini dia sudah menahan diri karena jadwalnya begitu padat dari subuh hingga petang.

Karena Rosa bekerja menjadi personal assistant salah satu orang kaya di Singapura. Sehingga akan sulit untuknya mengajukan libur kerja. Ini saja, dia bisa pulang karena si bos besar sedang bulan madu bersama istrinya.

"Jeffrey?"

"Joanna tidak ingin berpisah dengan Tama dan kurasa suaminya juga tidak mau berpisah dengannya."

Rosa tampak semakin marah. Karena Jeffrey adalah harapan terbesar yang dipunya. Agar Joanna bisa luluh karena dia adalah orang yang disuka. Namun justru hasilnya sama saja.

"Aku akan ke rumah Damar!"

Seru Rosa menggebu. Air matanya juga perlahan turun. Membuat Jeffrey iba dan menahannya saat itu. Memeluknya di sana hingga membuat orang-orang yang melihat mulai berpikir jika mereka ada sesuatu.

1. 10 PM

Besoknya, Joanna berangkat kerja seperti biasa. Pada jam makan siang, Joanna juga tidak makan di kafetaria. Sebab enggan menjadi bahan gosipan orang-orang. Atau lebih tepatnya enggan mendengarkan. Karena sudah pasti namanya akan terus disebut orang-orang setiap harinya. Dengan tag line anak dan istri durhaka tentu saja.

"Kamu selalu makan di sini? Sendiri?"

Joanna yang sedang memakan roti isi selagi nanas langsung terlonjak di tempat. Menatap Jeffrey yang kini baru saja duduk di sampingnya. Di kursi panjang yang berada di atap pabrik plastik miliknya.

"Tidak perlu pergi. Aku tidak akan mengusikmu lagi. Karena aku sudah bisa menerima ini. Ya, anggap saja kita hanya berteman saat ini. Karena aku tahu jika kamu adalah istri yang setia pada suami."

Joanna yang awalnya ingin beranjak, kini langsung diurungkan. Karena Jeffrey langsung mengeluarkan sesuatu dari saku jas. Amplop yang berisi passport dan visa. Karena Rosa memang sudah menyiapkan ini untuknya. Sejak lama, karena dia berencana membawa adiknya ke Singapura untuk tinggal bersama dirinya.

"Rosa benar-benar menyesal karena tidak bisa pulang waktu itu. Tidak bisa menentang secara langsung dan---"

"Kamu tidak perlu ikut campur. Ini urusanku!"

"Ya, ini memang urusanmu. Tapi aku tidak bisa diam saja setelah ingat sedekat apa kita dulu. Kalaupun tidak bisa bersama, kuharap---kita masih bisa berteman. Karena aku akan tinggal di sini selamanya dan kamu tidak bisa terus-terusan menghindar. "

Joanna diam cukup lama, sebelum akhirnya beranjak dari sana. Meninggalkan Jeffrey yang kini telah dibuat patah hati berulang-ulang oleh wanita yang sama.

"Gosip terbaru! Kemarin Pak Jeffrey datang ke rumah Joanna dan mendapat tamparan olehnya. Gila, berani sekali dia!"

"Benar! Kudengar, mereka selingkuh diam-diam."

"Hei! Mana ada! Pak Jeffrey saja baru datang. Kemarin ada yang melihat Pak Jeffrey pelukan dengan Rosa, dia Kakak kandung Joanna yang kerja di Singapura. Dugaanku, Joanna marah karena Pak Jeffrey lebih memilih kakaknya."

"Oh, Kak Rosa, ya? Aku tahu dia. Dia Kakak kelasku waktu SMA. Ya pantas saja Joanna bisa marah. Iri pastinya. Karena hidupnya tidak seperti Kakaknya."

Joanna masih tidak menanggapi gunjingan mereka. Karena percuma saja. Sebab dia pernah menjelaskan pada mereka namun hasilnya sama saja.

Karena hanya yang berkuasa saja yang mau orang dipercaya. Sedangkan Joanna, dia bukan siapa-siapa yang tidak memiliki privilege apa-apa. Sehingga apapun bentuk pembelaan diri yang diucapkan tidak akan merubah apa-apa.

Di tempat lain, Tama yang sedang mengendarai motor matic tampak tumbang di pinggir jalan. Membuat tubuhnya menghantam truk gandeng di samping kanan. Hingga tubuhnya teseret cukup lama sebelum akhirnya diselamatkan oleh para warga sekitar yang melihat.

Tbc...

UNDER THE SKYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang