Find Another You

1.2K 79 1
                                        

"CARI HINGGA DAPAT!"

Derapan suara langkah para prajurit semakin gencar mencari buronan kerajaan.

Beberapa saat berlalu, suaranya pun semakin menjauh menandakan mereka telah pergi dan tak menemukan seorang Ares yang 'terpaksa' bersembunyi di dalam gentong air kosong.

Dengan hati-hati ia perlahan keluar dari dalam sana celingak-celingukan mencari para prajurit tadi.

Sepi dirasa, ia buru-buru membenahkan tudung kepalanya untuk menutupi kepalanya. Bisa bahaya kalau dia bertemu warga sekitar.

"Huh, dapat juga akhirnya."

Senyum kemenangan terpancar diwajahnya. Ares berhasil mencuri healing diamond dari istana. Jika ia bermain sedikit lebih rapih tadi mungkin ia tak akan berkeringat sebanyak ini karena kejaran prajurit tadi.

Dengan segera ia pergi dari sana. Ia harus pulang untuk menemui ibunya yang kondisinya semakin memburuk.

"Ibu!" ucapnya di saat datang kembali ke kediamannya, sembari menggenggam tangan sang ibu.

"Dari mana?" ucapnya lembut, sangat lirih. Membuat sayatan hati Ares semakin parah. Ares mulai menangis sesenggukan sambil mengeluarkan sebuah benda dari sakunya.

"B-bu, maaf, akh-aku mencuri ...."

Namun lantas ucapan remaja laki-laki itu tak membuat seorang wanita tua dihadapannya ini marah.

"Kau itu bodoh," ucapnya sambil tertawa cekikikan sebelum akhirnya diam kembali.

Tangisnya terhenti, sontak Ares terkejut dengan ucapan ibunya tadi, apalagi ia sedang sakit bagaimana bisa tertawa seperti itu.

"Aku tak membutuhkan berlian itu. Kau lupa? Berlian itu tak mampu digunakan pada kaum penyihir kegelapan seperti aku. Aku tidak sedih karena aku tidak akan meninggalkan siapapun di sini."

Ares tambah bingung. Apa dia selama ini tidak dianggap anak oleh ibunya sendiri. Bahkan, setelah semua yang ia lakukan hingga jadi buronan istana.

"M-maksud ibu?"

"Kau ini bukanlah Ares."

"Ares tak pernah ada dan aku hanya membuat-buat."

"Aku bukan ibumu."

Wanita itu kemudian bangun dari baringnya kemudian menunjuk kepada Ares. "Dan kau bukan anakku!" Setelah mengucapkan kata terakhirnya, ia hilang membentuk asap hitam pekat yang dalam kata lain berarti menjadi kematian dari seorang penyihir.

Kata terakhir penuh penekanan tadi membuat Ares semakin syok. Jadi dia bukan Ares? Bukan anak penyihir tua ini? Atau dia yatim-piatu yang dipungut penyihir tua ini?

Entah rasa kecewa, sedih, atau marah yang menyelimutinya saat ini mengingat kejadian yang ditimpanya kemarin. Dari mulai jadi buronan yang sia-sia hanya karena penyihir tua itu, hingga mendengar sebuah fakta yang menyakitkan dari mulut ibu tirinya sendiri. Tanpa sadar tangannya meremat kuat healing diamond curiannya.

Ares hembus napas perlahan. Setidaknya, dengan melihat riak air sungai di tepian agaknya sedikit menenangkan dirinya.

Sementara dari kejauhan sana derap langkah seekor kuda semakin mendekat. Menjadikan pria itu waspada.

Hingga semakin dekat dan sang penunggang pun mulai terlihat. Kudanya lantas berhenti di dekat tempat di mana Ares berada.

Ia turun melihat seorang pemuda yang duduk di bawah sebuah pohon di pinggiran sungai. Pemuda itu melihat Ares dengan muka paniknya.

Nampak tak asing, dengan hati-hati ia keluarkan pedangnya kemudian mulai mendekat ke arah pemuda tersebut. Meski kemudian dirinya berlari ke arah Ares dengan mata nyalangnya.

SREKKK

"Serahkan healing diamond padaku!"

ETHAN [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang