2. Belajar Berhemat

536 59 20
                                        

Neji mengambil jaket dan memberikan pada Hinata. "Diluar panas pakai saja jaket agar kulitmu tidak terbakar?"

Hinata terkekeh melihat Neji. "Apa pakaianku terlalu terbuka? "

Wajah Neji memerah dan  memeluk leher Hinata dari belakang. "Apa aku ketahuan? "

" Tentu saja, karena aku sangat mengenalmu " Jawab Hinata.

Hinata berbalik dan mengecup pipi Neji. " Kalau memang Kak Neji cemburu, katakan saja... "

"Aku.... Ingin sekali membiarkanmu memakai pakaian apapun yang kamu mau, tapi Aku tidak bisa bohong kalau Aku sedikit cemburu. Maafkan Aku...."

Hinata menggelengkan kepalanya. " Tidak apa-apa, kita berdua masih belajar mengenal satu sama lain. Aku akan mengganti pakaianku dulu. "

"Kau tidak marah, Hina?"

"Hmmmmn... Selama Kak Neji tidak memaksaku dan berkata jujur, Aku tidak merasa kalau itu menggangguku" jawab Hinata.

"Aku sedikit tenang sekarang." Neji mengelus dadanya dan menghela nafas panjang. "Tapi jika kau tidak nyaman, katakan padaku... "

"Baik Kak Neji" Hinata memeluk Neji dengan erat. " Terimakasih karena sudah menjadi suamiku dan terimakasih karena memberikan cinta sekaligus hubungan yang sehat "

Neji mengelus belakang kepala Hinata dengan lembut dan mengecup kening Hinata beberapa kali. " Aku masih belajar untuk mencintaimu. Jadi, kau tidak perlu berterimakasih padaku. Ajari aku cara yang layak untuk mencintaimu sehingga aku bisa membuatmu bahagia bersamaku Hinata"

Hinata mengangguk pelan. "Dengan senang hati,Kak. Kak Neji juga harus mengatakan apa yang harus aku lakukan untuk menjadi istri yang baik."

"Jangan buang-buang air, jangan konser di kamar mandi dan jangan habiskan kondisioner milikku" jawab Neji.

Hinata dengan refleks mengaktifkan byakugan dan melihat Neji. Neji tertawa terbahak-bahak dan memeluk Hinata lebih erat. "Maaf...Maaf... Aku hanya bercanda, tapi aku serius... Jangan buang-buang air."

"Baiklah, aku akan berusaha semaksimal mungkin" jawab Hinata.

"Aku mengerti karena selama ini kau dibesarkan di rumah utama dan Ayahmu selalu memanjakanmu, sehingga kamu tidak pernah berpikir berapa banyak air yang kamu pakai setiap harinya. Itu bukan tindakan yang bertanggung jawab Istriku yang manis dan rupawan. "

"Tapi kita tidak kekurangan uang untuk membayar air"

"Justru itu poinnya, kita harus memikirkan bagaimana kita diposisi orang lain, banyak orang di luar sana kesulitan mencari air... Apa pantas kita membuang-buang air seperti itu. Sama saja dengan saat kamu membeli makanan, beli lah makanan sesuai dengan yang bisa kamu makan... Jangan berlebihan" Neji menasehati Hinata.

"Hmmm.... Baiklah "

"Kalau kamu masih buang-buang air, Aku pikir tidak ada cara lain selain kita mandi bersama setiap hari" ucap Neji.

Wajah Hinata memerah dan mendorong Neji menjauh, dia sangat terlihat gugup dan malu. "Ummn.... Ssstttt " Hinata segera berlari ke kamar untuk mengganti baju sekaligus untuk menenangkan diri, hatinya seperti akan meledak karena berdegup sangat kencang.

Neji memiringkan kepalanya. "Apa aku salah bicara? " Neji terdiam beberapa menit dan menyadari apa yang baru saja dia katakan, telinganya menjadi sangat merah dan menghampiri kamar Hinata. "Ummmmn.... Maafkan Aku, Aku tidak sengaja mengatakan itu"

Hinata memakai kaos milik Neji lalu dia bersandar di balik pintu dengan wajah yang masih memerah. "Tidak apa-apa, kalaupun memang aku benar-benar mandi terlalu lama... Kau bisa.... "

Hinata menghentikan kalimatnya, Wajah mereka berdua semakin memerah karena malu. Mereka saling mengerti meskipun kalimat itu belum selesai diucapkan oleh Hinata. Hinata hendak keluar dari kamar namun Neji mendorong pintu itu kembali.

"Kak Neji?? "

"Sebentar, Hina.... Jangan keluar dulu! Aku masih sangat malu."  Wajah Neji menjadi lebih merah daripada wajah Hinata saat melihat Naruto di masa lalu. "Astaga.... Tenanglah Neji" Neji menutup wajahnya dengan malu-malu.

Hinata mengerti apa yang dialami Neji dan Hinata tetap berdiri di posisinya. "Jika Kak Neji sudah tenang, katakan padaku. Karena Aku tahu kalau Aku keluar sekarang, Kak Neji semakin gugup dan mungkin justru membuat kak Neji pingsan "

"Terimakasih Hina" Neji mengipasi wajahnya dengan tangan untuk beberapa saat lalu dia membuka pintu dan segera memeluk Hinata. "Maaf membuatmu menunggu lama"

Hinata memeluk Neji dan sekilas melirik telinga Neji yang masih memerah karena malu. " Tidak apa-apa, Kak Neji "

Neji melepaskan pelukannya dan melihat Hinata memakai kaosnya. "Bukankah itu Kaosku?"

Hinata mengangguk pelan, Neji tidak bisa menyembunyikan senyumannyan dan wajahnya kembali memerah. "Kau terlihat sangat imut dan manis, Istriku "

"Aku senang, kau menyukainya"

"Apa kau senang memakainya? " Tanya Neji.

"Ya, Aku merasa nyaman memakai kaos milikmu"

"Kau yakin? Kau tidak memakai itu untuk menyenangkanku kan?" Tanya Neji dengan hati-hati.

Hinata tersenyum dan mengendus kaos yang sedang dipakainya. " Aku menyukai ini. "

Neji memalingkan wajahnya dan wajahnya kembali memerah. "Kau membuatku semakin jatuh cinta padamu "

Hinata memeluk Neji dari belakang. " Kita memiliki perasaan yang sama kak"

Proses memulai rumah tangga tidak pernah mudah, diperlukan komunikasi antar pasangan. Ketidakcocokan adalah hal yang wajar terjadi, namun bagaimana kita menanggapi perbedaan itulah yang harus dipikirkan. Neji dan Hinata pun masih saling belajar memahami satu sama lain, bagi mereka pernikahan bukanlah akhir dari mempelajari bagaimana mencintai pasangan tapi merupakan sebuah awal. Neji tidak akan berhenti belajar mencintai Hinata dan berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik untuknya maupun Hinata.

~

Shino menatap Kiba dan menaruh handuk yang sudah di celupkan di air es pada memar Kiba yang disebabkan oleh Hinata. " Aku baru saja dengar dari seranggaku kalau Neji dan Hinata sedang bermesraan di pagi hari lalu mereka...."

"Tutup mulutmu shino! Aku tidak ingin merasa iri ! Auch.... Tubuhku masih sakit semua!" Sahut Kiba.

Shino menggelengkan kepalanya. "Kupikir kau tadi penasaran apa yang terjadi pada mereka?"

"Aku hanya ingin mendengar keributan "

"Dasar Jomblo ngenes " gumam Shino.

To be Continued

He Knows me: Still Same Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang