bagian 2

196 15 0
                                        

Neji mengetuk pintu kamar Lee dan Tenten. "Hime-sama, Istriku. Sudah waktunya untuk pulang, jam berkunjung sudah hampir habis." Neji melihat kedua sahabatnya dan menepuk kedua kepalanya. "Kalian jaga diri baik-baik."

Tenten terdiam dan melihat Neji lalu melihat ke arah Lee. Dia merasa kalau kedua temannya tidak seperti dahulu, di dalam benak Tenten ada rasa benci dan ketidak nyamanan melihat Neji, namun sedikit demi sedikit dia menyadari bahwa dia sendiri yang terjebak pada masa lalu. Manusia akan terus berubah. Meskipun di masa lampau mereka memilih jalan yang sama, namun seiring berjalannya waktu tanpa kita sadari, kita sudah berada di jalur yang sang berbeda dimana sekeras apapun kalian berteriak, kalian tidak mendengar satu sama lain. Neji memilih untuk melanjutkan hidupnya dengan Hinata, membuka chapter baru dalam hidupnya dan mencari kebahagiaan bersama Hinata. Rock Lee sudah banyak berubah dan dia lebih dewasa dalam mengambil keputusan, Lee tidak lagi Lee yang sama dengan Lee pada saat remaja. Sedangkan Tenten masih terjebak di masa lalunya. Tenten tidak pernah menyadari hal ini sebelumnya, seharusnya dia melanjutkan bab baru dalam hidupnya sehingga mereka tidak terluka karena dirinya.

"Sepertinya sudah saatnya aku memulai perjalananku" gumam Tenten.

Pandangan Tenten tidak bisa lepas pada Neji yang begitu lembut pada Hinata, senyuman menghiasi wajah Tenten. "Ngomong-ngomong Neji.."

Neji berbalik menghadap Tenten sembari tetap menggenggam tangan Hinata. " Ya"

"Aku turut berbahagia dengan pernikahanmu, Aku harap kebaikan akan terus datang pada keluarga kecil kalian" ucap Tenten dengan penuh lapang dada, dia memutuskan untuk melepaskan masa lalu dengan ikut serta berbahagia dengan pernikahan Neji.

Neji tersenyum simpul dan mengangguk pelan. "Terima kasih, aku sangat menghargainya." 

Neji dan Hinata pergi meninggalkan mereka berdua. Rock Lee memukul lengan Tenten. " Woaah, dramatik sekali! "

Tenten menghela nafas panjang. "Apa aku melakukan hal yang baik?"

"Tentu saja! "

" Aku ingin melanjutkan hidupku, Lee. Aku tidak peduli jika nantinya aku harus hidup sendirian atau tidak. " Tenten melipat tanganya.

"Aku pikir lebih baik kau sendirian jika memang masih belum siap untuk mencintai orang lain." Ucap Lee lalu dia mengupas buah jeruk.

"Kenapa?"

"Karena sudah terlalu banyak orang yang menjalin hubungan hanya karena kesepian, atau bahkan hanya untuk melanjutkan hidup mereka tanpa benar-benar mencintainya" jawab Lee dengan sabar.

Tenten terdiam mendengar ucapan Lee.

"Mungkin beberapa orang akan bertanya mengapa tidak boleh melakukan itu? " Lee meletakkan jeruk yang telah di kupasnya ke pangkuan Tenten. " Aku rasa itu tidak adil saat seseorang sudah mencintaimu dengan tulus namun kau hanya memanfaatkan perasaan mereka untuk keegoisanmu sendiri, validasimu sendiri atau justru mereka menganggap orang yang bersama mereka hanya sebagai sebuat alat yang akan menemanimu hingga mereka mati. Itu bukan cinta! Itu adalah keegoisan! "Jelas Lee.

"Aku tidak tau kalau kau bisa menjadi sosok yang puitis"

Lee tertawa terbahak-bahak. "Aku meminjam buku milik Shino"

"Sudah kuduga"

Tenten memakan jeruk yang sudah dikupas oleh Lee dan memikirkan apa yang telah dikatakan oleh Lee. Tidak adil apabila menggunakan seseorang untuk menjadi alat mereka melanjutkan hidup. Mereka tetap adalah manusia dan selayaknya mendapatkan cinta yang mereka pantas dapatkan.

"Jadi, Tenten... Kapan kau akan mendekati Shino"

Tenten melototi Lee. "Aku tidak pernah bilang akan mendekatinya."

To be continued

He Knows me: Still Same Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang