Ghaz : Chapter 15

187 24 3
                                        

"Loe tau ga muka orang sangean?" Galuh tanpa awan mendung langsung membuka pertanyaan badai tsunami.

"Najis loe." Virnie mengumpat.

"Anjir... Siang siang bahasa loe kayak keran tanpa penyaring, butek!" Rania melotot jengah.

"Namanya juga obrolan selingan biar gak ngantuk." Cengengesnya.

"Males gue." Rania enggan melayani pembicaraan yang menjerumus ke arah saru.

"Iya ih, kayak ga ada obrolan lain aja." Virnie mengiyakan sok polos tapi juga penuh minat menanti timpalan Galuh.

"Tapi seru nambah pengetahuan juga kali." Galuh kembali memancing.

"Biasa aja sih..." Balas Rania lagi dengan nada sinis.

"Berarti loe pernah?"

"Apa?!!" Rania waspada dengan jantung berdebar berasa di sidang kakaknya.

"Sangean." Galuh tersenyum licik.

"Ihhhh.... Omongan loe geli tau." Rania merinding menunjukkan bulu roma seakan Galuh menceritakan kisah horor.

"Lah kukira loe suhu dalam hal gituan." Galuh kembali mencoba mengorek siapa tahu dapat bocoran dari kejanggalan Rania beberapa minggu ini.

"Maksud loe?" Rania terpancing wadpada. Ia tak pernah sekali pun mengumbar kehidupan pribadinya. Kisahnya ia simpan rapat-rapat, menjadi privasinya seorang.

"Gue pernah liat tanpa sengaja baju loe ketarik tas, ada merah-merah di bahu loe." Galuh berbicara dengan lancarnya tanpa dosa dengan nada menuduh.

Rania panik namun berusaha menutupi. "Masa?"

Sial, Ghaz perlu diberi peringatan supaya tidak meninggalkan jejak. Tapi pria itu sangat bangga telah meninggalkan jejak ditubuhnya. Dan hal itu membuat Rania menangis frustasi dalam menyamarkan jejak cinta Ghaz. Terutama di bagian-bagian tubuh yang rawan terbuka.

"Sumpah, kayak bekas ciuman gitu."

"Mungkin yang loe liat waktu gue biang keringat parah. Gue kan pernah gitu terus izin ke dokter saking parahnya." Kilah Rania.

"Wajar kali, loe kan punya cowok." Galuh kembali mengusik.

"Gue gak mau bahas." Rania beranjak berdiri.

"Mau kemana?"

"Laper. Mau ke kantin."

Galuh dan Virnie mengikuti.

"Ga papa kali Ra, sedikit cerita ke kita. Gimana rasanya punya pacar."

Karena terlalu sering ia diantar jemput Ghaz, Rania pun terpaksa mengatakan telah mempunyai pacar yang sudah bekerja. Seorang pria dewasa. Dan kedua temannya menelan bulat kata dewasa.

"Makanya sana pacaran, jangan jadi perawan suci yang gak pernah keluar kandang."

"Apalah daya, emak bapak gue orang militer semua. Sedih gue, pen kabur juga ga bisa. Ajudan dimana-mana."

"Bagaimana kalau kita nonton bioskop?" Virnie mengusulkan.

Rania berhenti. Memutar tubuhnya empat puluh lima derajat. "Loe pasti pen kabur tapi jual nama gue."

Galuh dan Virnie nyengir tanpa dosa. "Yukkk nonton..." Keduanya merengek.

Rania tepok jidat. "Sebentar." Rania menjauh lantas menelepon. Menghubungi Ghaz dan menjelaskan situasinya. Rania kembali sambil berkata. "Gak lebih sampai jam lima ya, karena kita ada jadwal tugas kelompok."

"Oke." Keduanya kompak sambil menyeret Rania, bukannya ke kantin tapi ke mall.

"Inget, tugas kelompok jam 5."

GHAZTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang