9

5.2K 718 93
                                        

Happy Reading~




flashback~

Freya menggebrak mejanya dengan kesal, emosinya terus memuncak mengingat kedekatan Fany dan juga Luna. Sungguh Freya tidak suka jika apa yang sudah dia tandai sebagai miliknya diusik oleh orang lain termasuk saudaranya sendiri.

"awas aja loe Lun, gue bakal suruh mamah buat percepat pernikahan loe" ucapnya geram.

Freya menghempaskan tubuhnya keatas kursi kebesarannya, kini isi kepalanya hanya dipenuhi oleh satu nama yaitu Fany. Dia menyesali perbuatannya dan perkataan Fany kembali berputar dikepalanya.

Lalu bagaimanakah jika Fany benar-benar resign dari kantornya. Tidak, Freya tidak mau itu terjadi. Bagaimanapun Freya selalu ingin memastikan jika gadis itu selalu terlihat dimatanya. Dengan langkah terburu Freya bangkit dan keluar dari ruangannya dengan sedikit berlari membuat Susan si sekretarisnya kebingungan dengan tingkah bossnya.

Dengan tidak sabar Freya menekan tombol lift yang tidak juga terbuka membuatnya berdecak kesal, sampai akhirnya pinu lift yang tidak bersalah itu ia tendang.

Jancook.

Ting.

Pintu lift terbuka dan membuat Freya langsung masuk kedalam kotak besi tersebut dan menekan tombol dimana lantai ruangan Fany berada. Jaraknya hanya berbeda satu lantai saja dengan lantai ruangannya.

Ting

Pintu lift terbuka, Freya langsung keluar dari dalam lift dan bergegas menuju ruangan Fany. Nafasnya memburu hingga ia membuka kasar pintu ruangan tersebut hingga menimbulkan suara yang cukup membuat penghuni didalamnya terkejut.

Tentu saja apa yang dilakukan oleh Freya membuat tiga pasang mata menatapnya heran dicampur rasa kesal. Tapi semua itu diabaikan oleh Freya karena kini atensinya ia arahkan untuk mencari sosok gadis yang tadi berdebat dengannya.

"ibu nyari Fany?" tanya Manda dengan wajah sebal.

Freya langsung mengarahkan atensinya pada gadis berambut pendek itu "iya, dimana dia?".

"ibu gak lupa kan kalo Fany udah resign sejak abis makan siang tadi?" sarkas Gama.

Freya berdecak sebal "kalian gak tau apa-apa~".

"ya kita taulah bu, kan ibu selalu jahat sama Fany sampai kita mikir sebenernya Fany itu salah apa sih sama ibu sampai kayaknya ibu benci banget sama Fany" ujar Manda dengan wajah yang memang menyimpan kekesalan pada atasannya itu.

Freya terdiam, mungkinkah selama ini perbuatannya pada Fany sudah keterlaluan hingga siapa saja yang melihatnya mengira jika ia membenci gadis itu. Sepertinya dia memang sudah salah langkah.

Tatapan mata Freya bersibobrok dengan Bianca yang sejak tadi hanya diam menjadi pengamat, Bianca hanya mengangkat bahunya acuh.

Tidak ingin membuang waktu, tanpa menjawab apapun Freya keluar dari ruangan itu membuat Gama dan Juga Manda semakin kesal dengan tingkah bossnya.

"dasar gak jelas. Pas ada disia-siain pas udah gak ada dicariin" dumel Manda.

"liat aja pasti dia nyesel deh" timpal Gama.

"kayaknya hubungan mereka itu kayak tom and Jerry ya" sahut Bianca.

"iya musuh bubuyutan".

"gue ngeri si Freya suka sama Fany sih" ceplos Gama.

"kalo beneran udah pasti Fany tolak mentah-mentah sih".

"tapi kan benci sama cinta itu beda tipis kak" Bianca menatap kedua seniornya itu.

Gama dan Manda manggut-manggut tanda setuju.

"eh tapi jangan sampe deh, kasian kalo beneran nanti jadinya cinta beda kasta dan pasti keluarganya boss nentang hubungan mereka" komentar Manda.

"iya kasian mentalnya Fany. Nanti udah mah otaknya sisa separo eh ditambah beban mental soal hubungan makin gak ada otak aja deh si Fany" timpal Gama.

Fany lihat nih temen-temen loe gak ada akhlaknya.

Bianca hanya bisa geleng-geleng dengan ucapan dari seniornya itu.

**

Freya menjambak rambutnya dengan kesal sambil sebelah tangannya memencet klakson. Iya dia sekarang sedang berada dijalan untuk menghampiri Fany yang mungkin sudah sampai dirumahnya. Tapi memang ya, disaat kita sedang terburu-buru selalu saja ada kendala ya seperti Freya saat ini yang terjebak macet karena ada kecelakaan didepan dan membuat lalu lintas sedikit terhambat.

Tin..tin..tinn

Dengan tidak sabaran perempuan itu terus menyalakan klakson hingga akhirnya laju kendaraan mulai bergerak perlahan. Setelah melewati titik kecelakaan, perempuan itu menginjak gas lebih dalam dan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Tak butuh waktu lama, mobil hitam miliknya sudah sampai di gedung apartement Fany. Freya langsung menuju lantai unit apartement Fany berada. Ya semoga saja gadis itu benar ada didalam apartementnya.

Dengan tidak sabaran, Freya menekan tombol bel yang berada disisi pintu unit apartement Fany. Hingga berkali-kali namun tidak ada jawaban dan tidak ada tanda-tanda pintu akan terbuka.

Freya mengerang sambil terus meracau hingga dia mencoba menghubungi nomer karyawannya tersebut, tapi lagi-lagi tidak ada jawaban bahkan nomer Fany tidak bisa dihubungi.

"ck kamu kemana sih?".

Freya memutuskan menunggu didepan unit Fany, semoga saja gadis itu segera pulang dan mereka bisa bertemu. Rasanya Freya belum tenang jika belum bertemu dan menyelesaikan masalahnya dengan Fany.

Sudah tiga puluh menit menunggu tapi ternyata Fany belum terlihat batang hidungnya membuat Freya beranjak dan memutuskan untuk pergi mencari Fany ketempat lain.

Kalo sampai ketemu, liat aja kamu saya iket Fany.

Weits main iket aja kayak kambing.

Freya mengendarai mobilnya dengan pelan, berharap dia bisa menemukan Fany disekitar apartementnya. Atensinya terbagi antara fokus kejalanan dan fokus melihat kanan dan kiri.

**

Freya menghentikan laju mobilnya disebuah taman ketika melihat sosok yang ia cari sedang berada ditaman tersebut. dari kejauhan Freya bisa melihat jika gadis yang tak lain adalah Fany sedang terdiam sambil melihat kedepan. ada perasaan lega dalam dirinya mengetahui jika Fany baik-baik saja. mungkin untuk saat ini Freya memilih untuk mengawasi Fany dari dalam mobil saja.

tapi tidak lama, terlihat Fany yang beranjak dan itu membuat Freya panik dan bergegas meninggalkan mobilnya disekitaran taman itu dan mengikuti langkah Fany dari kejauhan. freya sengaja mengendap-ngendap agar tidak diketahui oleh Fany.

hingga akhirnya langkah Fany berhenti disebuah kedai kopi kecil yang be\rada disekitaran taman tersebut. freya membiarkan Fany untuk masuk, ia memilih untuk menunggu disekitaran kedai. tapi atensinya beralih pada satu sosok yang tiba-tiba masuk kedalam kedai, mata mereka sempat saling bertatapan sebelum sosok itu menyunggingkan senyum remeh pada Freya yang membuat Freya menggeram kesal.

Luna sialan.

freya mendekat, tangannya sudah membuka pintu kedai dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah melihat keakraban saudara tirinya dengan gadis yang ia sukai. hati siapa yang tidak panas melihatnya, tapi sekesal apapun Freya tidak bisa melakukan apapun karena tidak punya hak atas itu. dirinya terlalu pecundang.

freya meremas tangannya kuat melihat Fany yang tertawa bersama Luna, Freya ingin merasakan berada diposisi Luna saat ini. kapan ia bisa membuat Fany sebahagia seperti saat bersama Luna.

Luna menoleh dan menyunggingkan senyum kemenangan kearah Freya, dia tahu sejak tadi Freya terus memperhatikannya. dengan perasaan penuh kemennagan Luna merangkul Fany untuk terus memanas-manasi Ftreya yang mungkin sudah kebakaran saat ini.

Loser Freya.

Eii What's Wrong With My Boss?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang