Dua Puluh Satu • Choices

467 44 6
                                        




🐶🐰







"Apa kau yakin kalau kau ingin langsung bekerja setelah lulus?"


"Ya, Pa," jawab Jaemin sambik menatap keluar dari jendela kamar asramanya, saat ini ia tengah menelepon keluarganya perihal career form-nya kemarin.


"Pa sudah pernah bilang hal ini sebelum kau memutuskan untuk tinggal di asrama. Hal tentang apapun yang kau inginkan, lakukanlah, raihlah, tetapi jangan lupa akan tanggung jawabnya, oke?"


"Aku tahu dan masih ingat, Pa. Aku sudah memutuskan sejak lama kalau aku ingin langsung bekerja. Mungkin akan aku sambi dengan kelas malam."


"Hm... apa kau sudah menemukan perusahaan atau apapun itu untuk tujuanmu, Nana?"


"Ada beberapa yang sudah aku rencanakan, Pa. Tidak perlu khawatir soal itu."


"Ya sudah kalau begitu. Pa hanya berpesan bijaklah dalam memutuskan sesuatu dan Ma bilang kau jangan lupa jaga kesehatanmu, Jeno juga. Oke?"


"Eum, akan ku sampaikan kepada Jeno, Pa."


Dengan ini panggilan pun berakhir, Jaemin duduk di tepi ranjangnya sambil menatap fotonya bersama Jeno di atas bedside table.


Sekarang sudah saatnya dia menentukan apa yang menjadi tujuannya—ah, bukan, lebih kepada menetapkan, menegaskan. Sekolah juga sudah memberikan beberapa persiapan tentang hal ini. Entah itu untuk para siswa yang hendak melanjutkan kuliah pun yang ingin bekerja seperti dirinya.


Ia menghela nafas panjang seraya bangkit berdiri. Sejenak menatap ponselnya lalu ia keluar dari kamarnya. Tujuannya adalah perpustakaan sekolah, tetapi langkahnya terhenti saat melihat Jeno tengah bersama Daehan dan Youngjae sedang bermain sepak bola di lapangan.


"Apa Nojam sudah menentukan Universitas mana yang akan ditujunya?" gumamnya lirih.


Pertanyaan ini sebenarnya sudah dari sejak lama dipikirkannya. Karena tidak banyak Universitas yang khusus untuk olahraga, selain itu kadang ia harus mendapatkan referensi dari sekolah agar bisa masuk dengan lancar selain dari keahliannya.


Jika tidak berjalan dengan lancar, maka Jeno juga akan terpaksa mencari Universitas di luar provinsi.


Ah, Jaemin jadinya kembali bimbang. Dia ingin Jeno menjadi orang hebat sesuai dengan janjinya. Tetapi di sisi lain, dia tidak ingin berpisah dengannya.


"Hh... kenapa aku seperti menjadi Daehan? Aku tahu ini sangat bodoh. Menghalangi keinginan orang lain demi kepentingan sendiri. Tetapi..."


Jaemin kembali melangkahkan kakinya menuju perpustakaan. Pikirannya ia coba untuk dikosongkan demi masuknya pelajaran. Tetapi hatinya tetap penuh dengan sesuatu yang ingin meledak setiap saat.









NOJAM & JAEMINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang