"Aku tidak membawa dompetku sekarang. Kumohon lepaskan aku kali ini saja." Seorang pemuda manis sedang tersudut; dikerumuni beberapa kakak kelas dengan ekspresi seram yang selalu mengganggunya.
"Apa itu menjadi alasan? Kau pasti membawa uang saku, kan?" tanya salah satunya, yang berambut pirang dengan tinju siap melayang ke pipi Jaemin.
Tetapi belum sempat tinju itu mendarat, sepasang lengan dengan veins yang sangat kentara menghentikannya.
Jeno; atau Jaemin lebih suka memanggilnya Nojam, kini tengah memukuli satu persatu kakak kelas yang sedari tadi mem-bully Jaemin hingga mereka lari tunggang langgang.
Kini pemuda dengan tatapan tajam dan surai sunflower blonde itu menoleh kepada Jaemin yang masih duduk bersimpuh di tanah. "Ayo kembali ke kelas, Jaemin-ah," ajaknya tanpa membantu Jaemin berdiri.
Lalu Jeno memalingkan wajahnya dan berjalan mendahului Jaemin. Dengan sedikit ragu, Jaemin mengikutinya dari belakang.
"Apa kau terluka?"
Huh? Jaemin mengerjap lambat; berusaha menyakinkan apa yang barusan didengarnya.
"Tch! Apa kau terluka?" tegas Jeno tanpa menoleh.
"Ah... i-itu, aku baik-baik saja, Nojam."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jadi, karena pekerjaan orang tuamu yang menuntut kau pindah ke sini ditl tengah semester?" tanya Yang Ssaem sekali lagi pada Jaemin yang tengah duduk manis di hadapannya.
Jaemin mengangguk seraya tersenyum simpul. "Maaf jika akhirnya merepotkan Seonsaengnim. Errr..." Jaemin menjeda kalimatnya, mencoba membaca ekspresi Yang Ssaem yang sulit ditebak.