"Aku jadinya libur tanggal dua puluh empat dan dua puluh lima!" tegas Jeno kepada Tuan Jang malam ini.
Tuan Jang tersenyum hambar. "Iya, Jen. Aku sudah mendengarkannya hampir seratus kali sejak kau datang." Ia mengambil beberapa botol sirup cherry dari bawah counter. "Sekarang bekerja keraslah sebelum kau libur, hanya itu pintaku," tambahnya kemudian.
Keadaan café malam ini masih tetap hectic dengan banyaknya pasangan dan rombongan yang datang.
Moonbin dan Jeno hampir tidak bisa mengambil nafas panjang barang sejenak meski saat ini ada tiga pegawai café lainnya yang membantu mereka.
"Berkencan?" tanya Moonbin saat dirinya dan Jeno berpapasan di depan mesin pembuat kopi.
"Huh?" Jeno memiringkan kepalanya.
"Kau libur untuk pergi berkencan?" tegas Moonbin seraya tersenyum lebar.
Setelah mengerti, Jeno pun mengangguk mantap dan penuh semangat.
"Bagaimana dengan proses belajarmu, Jen? Apa kau masih sanggup?"
Kekehan terlolos dari bibir Jeno. "Kepalaku cukup keras untuk tidak meledak karena disesakkan oleh materi-materi sekolah, Hyung."
Moonbin ikut terkekeh. "Jika ada sesuatu yang membingungkan atau ingin kau tanyakan, jangan ragu menghubungiku, oke?"
"Siap, Hyung!"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jaemin baru saja selesai mengoreksi soal-soal kuis yang diselesaikan Jeno ketika kekasihnya itu selesai mandi.
"Apa banyak yang salah, Jaemin-ah?" tanya Jeno sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Hm... hanya beberapa, dan kurasa itu mungkin karena kau keliru menggunakan rumus."
Jeno duduk di tepi ranjang; sebelah kanan Jaemin. "Ingin snack?" tanyanya.
"Snack? Seperti keripik kentang atau ramy—"
Belum selesai Jaemin bertanya, ponsel Jeno bergetar dan pemiliknya langsung menyambarnya dengan cepat lalu mengangkat panggilan dari seseorang.
"Oh, Moonbin Hyung!" Jeno hampir berseru saat mendengar suara rekan kerjanya di seberang panggilan. "Ada apa, Hyung?" Ia bangkit seraya mengacak surai Jaemin dengan gemas lalu pergi ke beranda kecil kamar asrama mereka.
Ada tawa riang, ada kekehan geli, ada ejekan yang bersahabat, dan juga beberapa nada serius yang bisa Jaemin dengar dari dalam kamar.
Di dalam benak Jaemin, tersirat kalau Jeno dan Moonbin tampaknya sudah sangat dekat.