Aku berlari kencang menuju kamar. Tak menyadari kalau ada Mas Kai di belakang. Ia langsung menangkap tubuhku. "Hati-hati, sayang," ucapnya.
Spontan aku memeluknya dan menangis. "Ada apa, sayang? Sampai berlari seperti itu," tanyanya.
Mas Kai mengangkat daguku perlahan, lalu mengusap pipiku yang basah."Kamu kenapa nangis?" Aku mengajaknya ke kamar, lalu menceritakan kejadian yang baru kualami. "Kamu serius?"
"Iya, Mas. Boleh tidak kita kembali ke rumah yang dulu." Selama hampir dua setengah tahun tinggal di rumah kontrakan itu, aku tidak pernah mengalami hal mengerikan seperti ini.
"Kamu jangan takut. Nanti, Mas akan undang karyawan dan warga sekitar untuk pengajian di rumah. Maklum saja, rumah ini sudah kosong selama tiga tahun."
"Apa kita benar-benar tidak bisa pindah saja, Mas?"
"Sayangku yang cantik. Mas harus bilang apa sama orang kantor? Belum satu hari sudah mau pindah. Kamu sabar dulu ya, sayang. Insya Allah setelah diadakan pengajian, semua gangguan itu tidak ada lagi. Termasuk perempuan yang kamu lihat tadi." Mas Kai beranjak, lalu berjalan ke luar kamar.
"Mau ke mana, Mas?" tanyaku, ikut beranjak dari tempat tidur.
"Ke kamar mandi, kamu mau ikut?" sahutnya.
Aku duduk di ujung tempat tidur, menunggu Mas Kai kembali. Selang beberapa menit kemudian, ia masuk ke kamar.
"Oh ya, tadi waktu Mas lagi jalan di kebun. Ada yang manggil nama Mas," ucapnya, sambil mengganti baju.
"Siapa?" Aku berharap itu bukan wanita mengerikan tadi.
"Mas juga tidak tau, tapi suaranya mirip sekali sama kamu."
"Aku?"
"Iya, cuman pas Mas nengok ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Makanya Mas buru-buru pulang."
Bagaimana mungkin ceritanya mirip sekali dengan mimpiku tadi. "Itu namanya ikatan batin, Mas. Untung Mas cepat pulang," balasku.
"Iya."
Mas Kai berjalan ke luar kamar.
"Mau ke mana lagi, Mas?" tanyaku.
"Mau nonton sepakbola."
"Siarannya kan jelek, Mas."
"Siapa tau kalau malam agak lebih bagus. Soalnya ada pertandingan sepakbola sebentar lagi."
Aku ikut bersama Mas Kai ke ruang tengah. "Kamu belum ngantuk?" tanyanya.
"Tadi aku kan sudah tidur," balasku seraya berjalan ke dapur. Sendok itu masih tergeletak di lantai.
Sementara Mas Kai sedang sibuk menggoyang-goyang kabel antena, aku memilih untuk mencuci piring yang tadi sempat tertunda.
"Oh ya, sayang. Boleh buatkan kopi?"
"Iya, Mas." Selesai mencuci piring, bergegas aku membuat segelas kopi.
Ia masih sibuk mencari posisi kabel yang tepat, agar siaran televisinya tidak terlalu jelek. "Segini sudah lumayan, Mas," ucapku seraya menaruh kopi di meja.
"Masih banyak semutnya, sayang," sahutnya.
Aku duduk sofa sembari menatap televisi. "Nah, udah sedikit semutnya," seruku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dia Mengincar Suamiku
HorrorSafira dan Kaivan baru saja pindah ke sebuah rumah dinas di tengah perkebunan sawit. Rumah yang berdiri sendiri, tanpa ada satupun tetangga. Mereka tidak menyadari kalau ada bahaya yang mengintai. Bahaya dari sosok Wanita Berkebaya Kuning yang terny...
