Mas Kai memperkenalkanku dengan dua orang yang datang bersama Pak Baim. Tono dan Kemal, keduanya adalah pekerja yang sengaja dipanggil untuk membersihkan halaman depan.
"Kok Mas tidak bilang-bilang," protesku.
"Mas lupa."
"Saya ambilkan minum dulu, Pak."
"Saya tidak lama, Bu. Mau langsung balik ke kantor," sahut Pak Baim.
"Kita ngobrol sebentar, Pak." Mas Kai duduk di sofa.
"Pakai baju dulu, Mas," ucapku, seraya berlalu ke dapur.
"Pak Baim sudah biasa melihat Mas begini. Benarkan, Pak?" balas Mas Kai.
"Iya, Bu. Maklumlah, kita kan biasa di lapangan," sahut Pak Baim.
Bergegas aku mempersiapkan tiga gelas sirup dan menaruhnya di atas nampan. "Tau begitu saya ajak kenalan tadi, Pak." Samar terdengar suara Pak Baim, saatku kembali ke ruang tamu.
Ternyata ia masih penasaran dengan Dahlia. Seandainya saja ia tau kalau Dahlia adalah sosok Kuntilanak Kuning yang memiliki wujud mengerikan.
"Jangan, Pak. Dia galak," sahutku seraya berbelok ke ruang tamu.
"Segalak-galaknya perempuan, Bu. Pasti bisa ditaklukan," sahut Pak Baim.
"Ingat istri di rumah, Pak," timpal Mas Kai.
"Bercanda, Pak. Cuman saya masih heran, zaman sudah modern seperti ini, masih ada orang yang kerja pakai kebaya dan kain batik. Apa tidak ribet, ya?"
"Mungkin dia memang nyaman pakai itu, Pak," sahutku, sembari meletakan nampan di atas meja.
"Loh, kok cuman tiga?" protes Mas Kai. "Buat Mas mana?"
"Mas juga mau? Kenapa tadi tidak bilang," sahutku.
"Iya, Mas juga kan haus, habis manjat pohon."
Pak Baim tertawa. "Minum punya saya saja, Pak."
"Jangan, Pak. Biar saya ambilkan lagi," sahutku.
Aku kembali ke dapur, membuatkan minuman untuk Mas Kai.
__________
Hampir 20 menit aku duduk di teras, mengamati Mas Kai, Tono dan Kemal yang sedang membersihkan halaman. Sementara Pak Baim sudah kembali ke Kantor sepuluh menit lalu.
"Hati-hati, Ton. Nanti ada tikus seukuran kucing," sindir Mas Kai sambil melirikku.
"Mana ada tikus seukuran kucing, Pak," sahut Tono.
"Iya, Pak Kai memang suka mengada-ada," timpalku.
"Kan kamu sendiri yang tadi bilang lihat tikus seukuran kucing."
Aku melotot padanya. Spontan ia tersenyum lebar, membuat wajahnya terlihat tampan. Entah kenapa mataku malah fokus pada dadanya yang bidang dan berkeringat. Itu membuat aliran darah ini mengalir deras.
Mas Kai menoleh padaku, mengangat kedua alisnya. "Ada apa?" tanyanya.
Aku menggeleng, lalu mengalihkan pandangan ke arah deretan pohon sawit. Sekilas, ada kepala seseorang mengintip dari salah satu pohon. Namun, hanya dalam satu kedipan mata, orang itu sudah hilang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dia Mengincar Suamiku
HorrorSafira dan Kaivan baru saja pindah ke sebuah rumah dinas di tengah perkebunan sawit. Rumah yang berdiri sendiri, tanpa ada satupun tetangga. Mereka tidak menyadari kalau ada bahaya yang mengintai. Bahaya dari sosok Wanita Berkebaya Kuning yang terny...
