Aku tidak tau

3K 239 19
                                        

Dahlia turun perlahan, seraya mengembangkan gaun kuningnya. Bergegas aku berlari sekencang mungkin. "Kamu mau ke mana, Safira?" ucapnya, lalu tertawa melengking. Aku bisa merasakan kalau ia sedang mengejarku.

"Perhatikan langkahmu, Fira! Hihihihi ...."

Tak berselang lama, kaki ini seperti kehilangan pijakan. Aku tercebur ke dalam air. "Tolong!" Spontan aku berteriak, sembari menggapai tepian. Saat akan naik ke daratan, ada yang menarik kakiku. Seketika itu, aku tenggelam.

Tubuh ini meluncur dengan cepat ke dalam air. Aku mulai merasa sesak. Serta ada tekanan yang sangat kuat di gendang telinga.

"Ini cuman mimpi, Fira!" Aku mengsugesti diri, sembari menarik napas. Namun, air malah memenuhi lubang hidung. "MAS KAI!" Aku berteriak kencang, hingga air memasuki kerongkongan.

Kurasakan tubuh ini bergetar hebat. "Ra, Fira." Terdengar suara Mas Kai. Spontan aku membuka mata, sembari menarik napas panjang.

Nging!

Telinga ini berdengin kencang. Aku menatap wajah Mas Kai. Mulutnya bergerak tapi tak terdengar suara sedikit pun. Panik. Aku beristighfar berkali-kali. Hingga pendengaranku kembali perlahan.

"Sayang?" Kini aku bisa mendengar suara Mas Kai, meski pelan. Aku bangkit dan langsung memeluknya.

"Kamu kenapa?" bisiknya.

"Aku mimpi buruk, Mas."

"Mimpi dia lagi?"

"Iya."

"Anggap saja itu hanya bunga tidur. Jangan terlalu dipikirkan."

"Tapi, Mas ... mimpinya sangat menakutkan. Aku sampai di ...."

"Sttt!" Mas Kai meletakan jari telunjuknya tepat di mulutku. "Jangan diceritakan. Sebaiknya sekarang kamu siap-siap. Kita harus berangkat sekarang."

"Berangkat ke mana?" tanyaku, bingung.

"Ke pasar. Kan kita mau belanja untuk pengajian besok."

"Sekarang? Kenapa tidak besok pagi saja, Mas?"

Mas Kai meletakan punggung tangannya di dahiku. "Kamu baik-baik saja, kan?"

"Memangnya kenapa, Mas?" Aku semakin bingung dengan sikapnya.

"Sekarang sudah pagi, Sayang."

Deg!

"Pagi?" Aku terkejut, lalu menoleh ke arah jendela. Suasana di luar sepertinya masih gelap. "Ah, Mas jangan bercanda."

"Mas tidak bercanda. Kalau kamu tidak percaya, coba lihat ponselmu saja."

Kuraih ponsel di atas nakas, lalu melihat jam. Waktu menunjukan pukul setengah enam pagi. Hah? Bagaimana bisa? Apakah aku tertidur selama itu?

"Gimana? Mas tidak bercanda, bukan?" ucap Mas Kai.

Aku mengangguk pelan, masih memasang wajah bingung. Masih belum bisa mencerna kejadian yang aneh ini. Tidur lebih dari kemarin siang, lebih dari 12 jam. "Kenapa Mas tidak membangunkanku?" protesku.

Dia Mengincar SuamikuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang