Sudah dua hari ini aku selalu bermimpi tentang Mas Kai dan Dahlia. Khawatir kalau mimpi itu benar-benar nyata. Teringat jelas pesan Mbok Asih, jika mereka melakukan hubungan maka itu akan sangat berbahaya untuk Mas Kai. Kekhawatiranku bertambah, karena sudah seharian ini Mas Kai tidak bisa dihubungi.
"Daritadi saya perhatikan ibu terus melihat ponsel," tegur Bu Ismi.
"Saya menunggu kabar Pak Kai, dari pagi tidak bisa dihubungi."
"Suami saya bilang, hari ini akan ada kunjungan ke hutan, Bu. Mungkin di sana tidak ada sinyal."
"Oh, kenapa Pak Kai tidak bilang sama saya, ya?"
"Mungkin lupa, Bu."
Kuletakan ponsel di sofa. Akhirnya bisa sedikit lebih tenang.
"Bu, saya boleh pulang sebentar tidak? Sekalian mau belanja untuk besok pagi."
"Boleh, Bu."
"Sebelum magrib saya sudah kembali ke sini."
"Iya, Bu."
Bu Ismi pamit. Aku tidak bisa melarangnya. Bagaimanapun ia sudah memenamiku selama tiga hari terakhir ini. Lagian selama kami di rumah, tidak pernah ada gangguan.
______
Aku menatap jam dinding di ruang tengah, pukul lima sore. Namun, Bu Ismi belum juga kembali. Kucoba mengirim pesan padanya.
Ting!
Ternyata ponselnya tertinggal di sofa.
Jarum jam bergerak begitu cepat. Adzan magrib berkumandang. Bergegas aku mengambil wudhu dan salat di kamar.
Tok! Tok!
Ada yang mengetuk pintu. Aku bangkit dan berjalan ke pintu depan. "Siapa?" tanyaku sebelum membuka pintu. Tak ada jawaban.
Terdengar suara langkah kaki di teras. Sontak aku melangkah mundur.
Tok! Tok!
"Assalamualaikum."
Sepertinya itu suara Bu Ismi. "Walaikumsalam, Bu Ismi?" Aku memastikan.
"Iya."
Kubuka pintu. Benar, ternyata Bu Ismi. Seketika itu aku merasa lega. "Tadi kok ditanya diam saja, Bu?"
"Kapan, Bu?"
"Tadi pas ibu ketuk pintu."
"Mungkin saya tidak dengar, Bu."
Padahal suaraku lumayan kencang. Aneh jika Bu Ismi tidak dengar. Buru-buru kututup pintu. "Bu sudah makan malam?" tanyanya.
"Belum."
"Kebetulan saya bawa makanan dari rumah."
Kami melangkah ke ruang tengah. Kemudian Bu Ismi membuka rantang yang dibawanya. "Wah kayanya enak," ucapku, melihat banyak menu makanan yang terlihat lezat.
"Semoga saja ibu suka."
"Pasti!" Aku mengambil piring di dapur. Kemudian kami makan bersama sembari menonton televisi.
"Pak Kai sudah bisa dihubungi, Bu?" Bu Ismi bertanya di sela-sela makan.
"Saya belum cek lagi, Bu. Ponselnya ada di kamar," balasku. "Oh ya, Bu. Ponsel ibu ketinggalan."
"Pantas! Saya cari-cari di rumah tidak ketemu. Ternyata ada di sini."
Aku menyerahkan ponselnya, "Coba tanya ke Pak Baim, Bu. Apa mereka masih di hutan?"
Bu Ismi menulis pesan pada suaminya. Tak lama pesannya dibalas. "Katanya sudah ada di hotel, Bu. Berarti Pak Kai juga."
"Makasih, Bu. Nanti habis makan saya coba telepon."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dia Mengincar Suamiku
HorrorSafira dan Kaivan baru saja pindah ke sebuah rumah dinas di tengah perkebunan sawit. Rumah yang berdiri sendiri, tanpa ada satupun tetangga. Mereka tidak menyadari kalau ada bahaya yang mengintai. Bahaya dari sosok Wanita Berkebaya Kuning yang terny...
