Rencana Mas Kai

3K 251 15
                                        

Mbok Asih meminta kami masuk ke dalam rumah. Sementara ia masih berdiri di depan pagar. "Tutup pintunya!" perintahnya.

Kami semua berkumpul di ruang tengah sambil berdoa. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Mbok Asih.

"Apa yang kemarin saya lihat itu dia, Pak?" tanya Pak Baim.

"Iya," sahut Mas Kai yang daritadi menggenggam tanganku erat. Ia terus memintaku untuk berdoa.

Kriet!

Pintu terbuka. "Bagaimana, Mbok?" tanya Mas Kai.

"Dia sudah pergi, tapi Mbok khawatir dia akan kembali dengan teror yang lebih menakutkan. Kini wujudnya sudah menyerupai Kuntilanak Merah. Jauh lebih negatif dari sebelumnya," balas Mbok Asih.

"Maaf, gara-gara Mbok, dia jadi seperti itu," imbuhnya.

"Tidak apa-apa, Mbok. Daripada dia terus bersembunyi di dalam tubuh saya," balasku.

"Saya sudah sangat berterimakasih Mbok mau membantu," timpal Mas Kai.

"Nak Kai."

"Ya, Mbok."

"Jangan lengah. Dia akan terus mengincar Nak Kai, dengan menggunakan cara yang tak masuk akal. Mungkin Nak Kai tidak terlalu percaya dengan hal gaib. Tapi mulai sekarang, belajarlah untuk percaya. Demi keselamatan Nak Kai dan Safira."

Aku setuju dengan ucapan Mbok Wati. Sikap Mas Kai yang terlalu meremehkan bisa menjadi bumerang nantinya. Apalagi ia yang menjadi target utama Dahlia.

"Iya, Mbok. Mulai sekarang saya akan lebih berhati-hati."

Setelah mengobrol sebentar, Mbok Asih dan Pak Rohim pamit pulang. Disusul Pak Baim dan istrinya yang pulang dengan membawa sisa nasi box untuk dibagikan ke kantor.

________

"Mas." Aku memanggil Mas Kai yang sedang sibuk dengan laptopnya.

"Ya, sayang," sahutnya.

"Aku takut."

Ia menoleh, "Jangan takut, sayang. Kan Mas ada di sini."

"Kalau nanti di kantor atau lapangan ada yang janggal, Mas cerita, ya."

"Iya, sayangku."

"Jangan tidur terlalu malam, Mas," pesanku seraya menutup mata.

"Iya, ini sebentar lagi juga selesai."

Aku memilih tidur duluan, meninggalkan Mas Kai yang masih sibuk dengan laporan. Besok ia sudah mulai kerja. Sepertinya aku harus mencari kesibukan di dalam rumah, sembari menunggunya pulang kerja.

Pagi menjelang, aku menyiapkan sarapan di dapur. "Sayang." Mas Kai duduk di ruang tengah, menunggu sarapan.

"Ya, Mas," sahutku.

"Ingat, kamu jangan ke luar rumah ya."

"Iya." Aku membawa nampan berisi makanan. Lalu menaruhnya di meja.

"Kamu mau ke mana?" Mas Kai menarik tanganku saat akan kembali ke dapur.

"Mau membuat bekal makan siang."

Mas Kai tertawa kecil. "Sepertinya kamu lupa kalau sudah pindah rumah. Sekarang, Mas bisa pulang untuk makan siang."

"Oh iya, aku masih terbiasa seperti dulu."

"Sini duduk." Mas Kai memintaku duduk di sampingnya. "Ada yang mau Mas ceritakan."

"Tentang apa?"

"Semalam."

Dia Mengincar SuamikuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang