Mbok Asih

3.5K 291 25
                                        

"Sayang," panggil Mas Kai, seraya ke luar kamar.

"Ya, Mas?" sahutku yang sedang berada di dapur.

"Kamu jangan buat sarapan. Pagi ini kita sarapan di luar."

"Iya, Mas." Kumasukan kembali sayuran dan bahan makanan lain ke dalam kulkas.

Setelah bersiap-siap, kami pun pergi ke luar. Udaranya begitu segar dan dingin. "Hati-hati, licin." Mas Kai memegang tanganku. Embun yang membasahi rumput membuat jalan agak licin.

"Kalau dari sini ke kantor berapa menit, Mas?" tanyaku.

"Kalau naik motor paling cuman lima menit. Kalau jalan kaki bisa 10 menit lebih."

"Terus sekarang kita mau ke mana?"

"Ke perkampungan warga, dekat sini. Kemarin Mas belum sempat bertemu Pak RT."

Kurang dari lima menit kemudian, perumahan warga mulai terlihat. Memang beginilah resikonya tinggal di rumah dinas perkebunan. Untuk bertemu tetangga saja harus jalan agak jauh.

"Assalamualaikum," sapa Mas Kai pada seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di teras rumahnya.

"Walaikumsalam," sahut Wanita itu. "Nak Kai sudah pindah ke rumah dinas?"

"Iya, Mbok. Baru kemarin siang pindahan." Mas Kai menoleh padaku. "Sayang, ini Mbok Asih, sesepuh di kampung ini."

Aku melempar senyum seraya menundukan kepala sedikit, "Nama saya Safira, Mbok."

"Namanya cantik, persis dengan wajahnya," balas Mbok Asih. Kemudian, ia bangkit dan berjalan menghampiriku. "Boleh pinjam tangannya sebentar," pintanya.

Aku melirik Mas Kai. Ia menggangguk pelan. Kuulurkan tangan, Mbok Asih langsung menggenggamnya dan menutup mata. Aku kembali melirik Mas Kai, tapi ia malah tersenyum.

"Sudah berapa bulan?" tanya Mbok Asih.

Aku bingung dengan pertanyaannya itu. "Maksudnya apa, Mbok?"

"Kandungannya."

Dari mana ia tau kalau aku sedang mengandung. Padahal perutku belum terlalu besar dan sedang menggunakan pakaian yang agak longgar. "Empat bulan, Mbok," balasku.

"Kalau Mbok lihat, nanti anak ini berjenis kelamin ...."

"Eits! Jangan, Mbok!" sela Mas Kai. "Biar itu jadi kejutan nanti."

Mbok Asih tersenyum, "Maaf Nak Kai, Mbok suka kelepasan."

"Iya, tidak apa-apa, Mbok."

"Mbok, saya mau ke rumah Pak RT dulu, ya," ucap Mas Kai.

"Iya." Mbok Asih mengangguk, tapi tetap menggenggam tanganku.

Mas Kai melangkah lebih dulu. Sementara aku masih tertahan. "Kamu harus hati-hati ya, Nak. Dia ada di sekitarmu. Jaga diri dan suamimu baik-baik," ucap Mbok Asih, pelan, seraya melepaskan genggaman.

Aku tak tau harus menjawab apa. Hanya membalasnya dengan sebuah anggukan.

"Ayo, sayang," ucap Mas Kai.

"Iya, Mas," sahutku. "Mbok, saya pamit dulu."

"Iya." Mbok Asih melangkah ke teras.

"Mbok Asih bilang apa?" tanya Mas Kai sembari memegang tanganku.

"Cuman bilang jaga kesehatan aja, Mas." Aku terpaksa berbohong.

"Kalau Mbok Asih bicara macam-macam, kamu jangan terlalu ditanggapi. Dia memang begitu."

"Iya, Mas."

"Mas pernah dengar cerita dari pekerja perkebunan yang kebetulan warga kampung sini. Kalau Mbok Asih itu dulunya paranormal yang terkenal di kampung ini."

"Oh, pantas saja, dia bisa tau aku lagi hamil."

"Bukan cuman itu saja, sayang. Dia juga bisa meramal masa depan. Dulu, waktu pertama kali Mas bertemu dengannya. Dia pernah bilang malam ini jangan ke kebun, nanti bertemu babi hutan.

Berhubung Mas tidak terlalu percaya dengan ucapannya. Malam harinya, Mas pergi ke kebun sendirian. Dan ternyata ... ucapannya benar, Mas bertemu babi hutan."

"Aku ingat sama cerita itu, Mas. Kalau tidak salah, Mas sampai naik ke atas pohon sawit," balasku, tersenyum.

Mas Kai tertawa, "Iya."

Tak terasa, kami sudah dekat dengan rumah Pak RT. Sebenarnya jaraknya dari rumah Mbok Asik tidak begitu jauh, sekitar 100 meter saja.

"Assalamualaikum," ucap Mas Kai.

"Walaikumsalam," sahut Suara dari dalam. Seorang pria berperawakan tinggi ke luar dari dalam rumah. Wajahnya tidak terlihat begitu tua.

"Pak RT," sapa Mas Kai sembari membungkukan badan sedikit.

"Eh Kai, sini duduk." Ia mempersilakan aku dan Mas Kai duduk di teras. "Ini istrinya, ya? Cantik."

"Iya, Pak RT. Nama saya Safira." Aku memperkenalkan diri.

"Panggil saya Pak Rohim," balasnya, tersenyum. "Gimana hari pertama tidur di sana? Pasti berbeda suasananya dengan kota?"

"Iya, Pak. Di sana sepi, tidak ada tetangga. Hanya saja, saat malam, udaranya lumayan dingin, jadi tidak perlu pakai pendingin ruangan."

"Hati-hati, Dek Safira."

"Hati-hati kenapa?" tanyaku, bingung.

"Hati-hati, nanti Kai minta jatah terus."

"Ah, Pak RT bisa saja. Lagian Safira lagi hamil, mana bisa saya minta jatah," sahut Mas Kai.

"Wah selamat ya Dek Safira. Sudah hamil berapa bulan?"

"Empat bulan, Pak," balasku.

"Kamu harus jaga baik-baik calon bayinya, Kai. Jangan terlalu sering ditinggal sendirian di rumah. Apalagi kalau malam-malam."

"Iya, Pak RT. Kemarin malam saya tinggal sebentar, Safira sudah ketakutan."

Pak Rohim menoleh padaku, "Ketakutan kenapa?"

"Ada yang ketuk-ketuk pintu sama jendela, Pak," balasku.

"Oh itu sudah biasa, namanya juga rumah yang lama kosong. Pasti sudah ada yang isi. Nanti juga gangguannya hilang dengan sendirinya."

"Bukan cuman itu, Pak. Safira juga liat ada wanita pakai kebaya kuning," ucap Mas Kai.

Wajah Pak Rohim tiba-tiba berubah, tampak begitu terkejut. "Wanita pakai kebaya kuning?" Ia sampai mengulangi ucapan Mas Kai.

"Iya, Pak."

"Kamu sudah bertemu Mbok Asih?" tanya Pak Rohim.

"Sudah, tadi sebelum datang ke sini," balas Mas Kai.

"Dia bilang apa?"

"Dia tidak bilang apa-apa."

"Kamu cerita tentang wanita kebaya kuning ke Mbok Asih?"

"Tidak, Pak."

"Seharusnya kamu ceritakan ke dia."

"Memangnya kenapa, Pak. Kok bapak sepertinya panik begitu."

"Sebaiknya kita ke rumah Mbok Asih sekarang juga." Pak Rohim bangkit, lalu mengajak kami ke rumah Mbok Asih.

Aku dan Mas Kai sempat saling bertatapan. Bingung. Ada apa dengan wanita berkebaya kuning itu? Hingga membuat Pak Rohin sangat panik.

Dari kejauhan, terlihat Mbok Asih masih duduk di teras rumahnya. Sebelum kami sempat mengucapkan sesuatu, ia sudah bangkit terlebih dahulu. "Mbok sudah menduga, kalian akan datang ke sini," ucapnya seraya tersenyum.

"Jadi Mbok sudah tau?" tanya Pak Rohim.

Mbok Asih mengangguk, seraya menatapku. "Ternyata dia masih ada di sana."

"Dia siapa, Mbok?" tanya Mas Kai.

"Dahlia. Wanita berkebaya kuning yang kamu lihat."

BERSAMBUNG

Dia Mengincar SuamikuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang