Acara Pengajian

3K 255 15
                                        

"Jawab, Mas!" Aku sudah kesal menunggu jawabannya. Berharap ia tidak melakukan itu.

"Tidak, sayang." Mas Kai menjawab sambil menatapku. "Meskipun dokter bilang itu aman-aman saja. Tapi Mas tidak ingin melakukannya. Mas takut nanti terjadi sesuatu pada kandungan kamu."

Aku langsung merasa lega, tapi tersisa sedikit kekesalan. "Giliran masalah itu Mas bisa berpikir jernih. Kenapa tentang salat Mas tak bisa berpikir jernih. Mas tau, kan? Kalau orang hamil itu tidak ada mentruasi."

"Iya, Mas juga tau. Kan tadi sudah dibilang kalau Mas kira kamu masih sakit."

"Tapi aku masih kesal, Mas. Kenapa kamu bisa teledor seperti itu. Tidak bisa membedakan istri yang sudah bersama hampir tiga tahun. Lain kali, kamu harus lebih hati-hati. Aku tak bisa membayangkan suamiku sendiri tidur dengan orang lain."

"Iya, sayangku yang cantik." Mas Kai mengulurkan tangan kirinya dan mengelus rambutku. "Mas minta maaf soal kejadian kemarin dan sebelum-sebelumnya. Sekarang Mas harus lebih ekstra hati-hati. Apalagi setelah tau kalau ternyata Dahlia masih ada di sekitar."

_________

Sesampainya di pasar, aku langsung membuka catatan. "Kira-kira ada berapa orang yang akan datang, Mas?" tanyaku.

"Buatkan saja untuk 50 orang. Kalaupun nanti yang datang kurang dari itu, bisa Mas bagikan ke teman-teman kantor."

Ini saatnya balas dendam dengan kelakukannya kemarin. Lihat saja!

Kami mulai berkeliling, membeli bahan makanan sesuai catatan. Semakin lama berkeliling, semakin bertambah pula kantung kresek yang dibawa Mas Kai. Namun, ia tidak mengeluh sedikitpun, tetap membuntuti ke mana saja.

"Mas tidak keberatan?" Aku khawatir kalau tiba-tiba suamiku pingsan karena terlalu banyak membawa beban.

"Tidak, sayang. Kamu lanjut saja belanjanya. Mas masih kuat!" Ia tersenyum manis. Membuatku merasa kasihan.

"Tinggal beli wortel lima kilo." Aku pura-pura melihat catatan. Dari sudut mata terlihat Mas Kai mengela napas sembari menelan ludah. "Mas yakin masih kuat?"

"Masih, sayang."

"Ya sudah. Yuk, pulang!" Misi balas dendamku gagal.

"Loh? Wortelnya tidak jadi?"

"Tidak, Mas. Aku hanya bercanda."

"Ah, kamu ini. Yakin tidak ada yang terlewat?"

"Yakin, Mas."

Kami pun berjalan menuju parkiran. Mas Kai menaruh belanjaan di kursi tengah. Ia menghela napas panjang saat duduk di kursi. Wajahnya basah, penuh dengan keringat. Kuambil tisu yang ada di dashboard, lalu mengelap wajahnya.

"Makasih, sayang," ucapnya sambil menyalakan mobil. Mobil pun melaju dengan cepat menuju rumah. Kali ini Mas Kai memilih jalan memutar, melewati perkampungan.

Sesampainya di rumah, aku langsung merapikan bahan-bahan makanan. Soalnya pengajian akan digelar besok siang, setelah dzuhur. Jadi ada makanan yang harus dibuat lebih dulu.

"Sayang." Mas Kai ke luar kamar, habis mengganti baju.

"Ya, Mas!" sahutku.

"Istri Pak Baim mau ke sini, buat bantu kamu masak."

"Oke, Mas."

"Sip."

Setelah bahan makanan tertata rapi, aku duduk di ruang tengah bersama Mas Kai. "Pak Baim datang jam berapa, Mas?"

Dia Mengincar SuamikuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang