Daritadi Mas Kai uring-uringan tak jelas, sembari melihat ponselnya. "Duduk dulu, Mas," ucapku yang ikutan pusing melihat tingkahnya.
"Kamu kok bisa tenang gitu?"
"Aku juga kesal, Mas. Tapi, buktinya masih belum jelas."
"Belum jelas gimana? Mbok Asih sendiri yang bilang?"
"Waktu pertama kali aku bertemu Mbok Asih, kamu bilang jarang terlalu percaya dengan ucapannya."
Mas Kai duduk di dekatku. "Itu dulu, Sayang. Tapi setelah pindah ke rumah itu, ternyata dia banyak membantu."
"Pak Baim juga banyak membantu kamu, Mas. Sekarang, kenapa kamu tidak mempercayainya?"
"Kok kamu terkesan membela Pak Baim."
"Bukan membela, Mas. Kita tidak bisa menghakimi seseorang hanya dari penuturan satu pihak saja. Kita harus mendengar penjelasan dari Pak Baim juga."
"Gimana mau mendengar penjelasannya. Daritadi saja dia tidak bisa dihubungi."
"Mungkin, dia lagi di jalan."
"Setidaknya teleponnya tidak dimatikan. Ini malah jadi membuat Mas tambah curiga."
"Apa Mas pernah berpikir, bagaimana kalau ini semua adalah skenario yang dibuat olah Dahlia." Setelah kesalahpahaman antara aku dan Mas Kai kemarin. Aku menjadi lebih berhati-hati dalam menyimpulkan sesuatu.
Mas Kai menatapku sambil memajukan bibirnya. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. "Kenapa Mas menatapku begitu. Aku Safira asli, Mas," ucapku, agar ia tak menduga aku adalah Dahlia.
Ia malah tersenyum. "Bukan itu yang ada di pikiran Mas."
"Terus apa?"
"Sepertinya kamu tau sesuatu."
"Bisa dibilang iya," balasku.
"Apa? Jangan main rahasia-rahasiaan."
"Sekarang Mas berpikir netral dulu."
Mas Kai menutup mata sebentar. "Oke, sudah!"
"Gini, Mas. Beberapa hari lalu, Bu Ismi pernah bilang untuk tidak terlalu mempercayai Mbok Asih."
"Alasannya?"
"Karena Mbok Asih dulunya dukun santet dan dicurigai kalau Dahlia adalah salah satu anak buahnya."
"Jangan-jangan Bu Ismi juga terlibat."
"Tuhkan, Mas belum netral!"
"Habisnya Bu Ismi kan istrinya Pak Baim. Jadi wajar dong kalau Mas curiga."
"Iya, sih. Tapi kita harus mengecek kebenaran info itu juga, Mas."
"Yang jelas sekarang Mas lebih percaya Mbok Asih dibandingkan Pak Baim. Apa kamu lupa, Pak Baim sudah memfitnah Mas pergi ke tempat karaoke?"
"Aku ingat kok."
"Intinya yang Mas sekarang inginkan itu berbicara dengan Pak Baim." Mas Kai bangkit, lalu mengambil ponsel di atas meja dan menelepon seaeorang.
"Mas nelpon siapa?"
"Pak Fathir. Mas mau memintanya datang ke sini."
Selang 30 menit kemudian, Pak Fathir datang ke rumah sakit. "Kamu yakin Baim yang melakukan itu?" tanyanya, setelah Mas Kai menceritakan semuanya.
"Iya, Pak," balas Mas Kai.
"Apa motifnya melakukan itu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Dia Mengincar Suamiku
TerrorSafira dan Kaivan baru saja pindah ke sebuah rumah dinas di tengah perkebunan sawit. Rumah yang berdiri sendiri, tanpa ada satupun tetangga. Mereka tidak menyadari kalau ada bahaya yang mengintai. Bahaya dari sosok Wanita Berkebaya Kuning yang terny...
