1 : Ingat

103 15 0
                                        

"Lo di mana?"

"Masih di rumah."

"Kenapa belum berangkat?!"

"Bentar dulu, lagi makai sepatu."

Dikenakannya sneaker itu untuk berangkat kerja. Dengan alasan, dia benci mengenakan high heels layaknya pekerja lain di kantor.

"Cepetan gih! Nanti Bos marah!"

"Santai. Lagian yang kena marah gue, kok elo yang panik."

"Siapa lagi yang bakalan nanyain soal lo kalau bukan ke gue coba?"

"Si Dinara?"

"Ya, tapi yang ditanyain duluan pasti gue! Udeh, lo cepetan! Pesen taksi atau apalah gitu!"

"Iya-iya, ini gue berangkat."

Dia segera memutuskan sambungan telepon itu, mengunci rumah dan menyalakan motornya karena terburu-buru.

Harusnya dia berangkat secepatnya, tapi karena semalam terlambat untuk tidur, akhirnya berakhir telat begini.

"Anjir, mana macet lagi."

Jalanan sudah jelas macet, terutama Jakarta yang padatnya minta ampun. Ditambah panasnya matahari dan polusi udara yang disebabkan oleh asap dari kendaraan.

"WOI! CEPETAN DIKIT NAPA! GUE TELAT KERJA NIH!"

Dia berteriak kencang dari arah belakang, bukan berarti itu akan mengakhiri macetnya. Bahkan orang-orang terlihat tuli.

"AH ELAH! BUDEK YE LO PADA!"

Segera dia menepikan motornya di pinggir jalan. Tidak peduli suatu saat motor itu akan ditilang atau bahkan disita polisi.

Intinya kini dia harus tiba di kantor segera mungkin.

"Neng Anin apa ka-"

"PAGI BU LAILA!"

Hanya sekadar menyapa, itulah yang dia lakukan sekarang. Tidak ada waktu baginya untuk mengobrol apalagi untuk tinggal sebentar.

"LHO, NENG ANIN! TASNYA JATUH!"

"NENG!"

"Hei, kumaha kantong ieu?"
(*Hei, gimana tasnya ini?)




────୨ৎ────────୨ৎ────────୨ৎ────────୨ৎ────




"Telat lo, Nin."

Napasnya tersengal-sengal. Begitu sampai, dia masih diajak bercanda oleh seseorang yang menyuruhnya untuk datang cepat-cepat.

"HAHAHA! BOS DATANGNYA JAM 9 NANTI! KENA PRANK DEH!"

TemuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang