BAB 14 : Perasaan

15 5 2
                                        

Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara follow, vote, dan komen. Karena dengan begitu authornya bisa tambah semangat buat fantasy baru.

"Selanjutnya kita akan naik...." Merica mulai berucap diiringi suara drum. Jantung berdetak kencang menunggu keinginan pacar Amdik.

"Ombak banyu!" Sambung pacar Amdik.

"Om-ombak banyu?" Tanyaku dengan raut wajah terkejut, mata melebar, mulut dalam keadaan menganga.

"Kau mau kan Farzan?" Tanya pacar Amdik, ia mendekatkan wajahnya tepat didepan wajahku.

"I-iya aku mau." Balasku, gadis tersebut segera membuang pandangan dan kini beralih menanyakan Amdik.

"Bagaimana dengan mu sayang?" Tanya gadis cantik, nada suaranya layaknya sedang menggoda lawan jenisnya.

"Ayo keburu larut malam." Ajak Amdik, kami pun meninggalkan tempat dan langsung beranjak ke wahana ombak banyu.

Tidak butuh waktu lama, kami langsung dipersilahkan untuk mengisi tempat duduk kosong, kamipun duduk bersampingan. Seperti biasa posisi duduk pacar Amdik ditengah antara aku dan Amdik, sedangkan hantu Merica tepat disebelah ku. Kami bertiga melakukan ancang-ancang dengan kedua tangan berpegangan pada sandaran.

Tiga Pria dengan seragam yang sama, mulai memutar-mutarkan ombak banyu. Ketiga pria tersebut tampak profesional, mereka bergelantungan ditambah gaya-gaya salto dan atraksi lainnya. Putaran semakin cepat sehingga membentuk layaknya gelombang ombak naik turun yang tinggi.

"Wuuuuhhhuuuu...." Teriak semua penumpang kecuali aku yang menutup mata rapat-rapat, mereka tampak sangat menikmati wahana yang satu ini. Kedua telingaku tanpa sengaja fokus pada dua jeritan, aku dapat mendengar teriakan kebahagiaan yang terdengar di telinga kanan dan kiri. Hatiku tampak gembira, dapat membuat si kembar manusia dan hantu bahagia, walaupun Ferica tidak tahu kalau adiknya Merica bersamaku.
..
..
..
Enam menit telah berlalu. Kini wahana tersebut semakin melambat dan akhirnya berhenti. Penikmat wahana pun mendapat giliran turun. Rasa mual langsung menyerangku dari dalam. Makanan ayam goreng mulai memuncak keluar.

"Hhuueekk.." refleks suara yang keluar dari mulut saat sedang mual. Punggung ku sedikit membungkuk ketika itu terjadi. Ku tahan isi perutku dengan sekuat tenaga.

"Ma-maaf Amdik... Huueek." Perkataan ku terpotong oleh suara mualku sendiri. "Aku harus ke toilet." Lanjut ku berbicara sembari mengundurkan diri.

"Apa kau baik-baik saja? Farzan?" Tanya Amdik dengan tangan yang berusaha meraihku yang telah beranjak jauh.

"Amdik!! Sepertinya perutku juga ikutan mual." Ujar pacar Amdik, tangan lebut gadis tersebut menekan perutnya sendiri dengan ekspresi seperti menahan mual.

"Mau aku antarkan ke toilet?" Amdik menawarkan diri dengan ekspresi khawatirnya.

"Ti-tidak usah, aku akan menyusul Farzan, kau tunggu saja disini." Lantas pacar Amdik berlari meninggalkan Amdik di tempat, ia berlari sembari memegang perut.
..
..
..
Sementara itu mataku berkeliling mencari toilet terdekat. Rasa mual yang ku tahan mulai bergejolak. Rasanya ingin melepaskan semuanya.

"Siiall, dimana toilet terdekat!" Batin ku dengan risau.

" Faarzaann.. kesini toiletnya!"Di tengah-tengah keramaian, tanpa sengaja telinga ku mendeteksi suara gadis yang sangat tidak asing, ia layaknya ingin menunjukkan sesuatu. Kedua mataku kesusahan mencari asal suara gadis tersebut di tengah keramaian seperti ini. Ku tengok kanan kiri tetapi tidak kutemukan.

"Plak." Suara tepukan bahu kanan ku terdengar. Seseorang yang menepuk bahuku ternyata Ferica si pacar Amdik, nafasnya memburu, layaknya baru dikejar anjing.

Ghost GirlfriendTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang