Pesan dari seseorang yang sudah lama kunatikan.
Pesan tersebut bertuliskan.
Farzan, aku akan segera kembali ke kota dan segera menyelesaikan masalah Merica. Tenang saja kau masih punya waktu sampai siang nanti untuk bersenang-senang dengannya. Ingat jangan terlalu senang.
"Dila akan kembali ke kota!!"bibirku refleks berucap dengan pandangan kosong kedepan.
"Dila?ohh itu bagus aku sudah lama tidak bertemu dengannya," ujar Merica yang tampak tidak tahu apa-apa. Tidak mungkin aku akan memberitahu bahwa dirinya akan pergi untuk selama-selamanya.
"Yaa...kau benar, itu bagus," jawabku dengan senyum tipis.
"Menurutmu permainan apa yang bisa kita mainkan bertiga dengan Dila untuk besok yaa?"Merica menaruh jempol didagu layaknya sedang berpikir.
"Tidak Merica, kita akan bermain berempat," jawabku dengan senyuman yang merencanakan sesuatu. Seketika Merica pun menautkan wajah bingungnya.
...
...
...
Malam telah berlalu. Pancaran sinar matahari telah bersinar terang bagaikan sumber pencahayaan paling terang disiang hari. Semua orang fokus melakukan kegiatannya masing-masing. Tetapi tidak dengan ku. Aku hanya menunggu seseorang yang sudah lama tidak kutemui. Begitu juga dengan Merica yang sangat menunggu permainannya akan dimulai.
"Kapan permainannya akan dimulai!"ujar Merica dengan sebalnya.
"Dila sebentar lagi akan datang, tunggu saja," balasku, tak lama dibicarakan, bel rumah berbunyi. Firasat ku mengatakan bahwa dia adalah Dila. Dengan sigap layaknya petir menyambar, diriku berlari untuk membukakan pintu.
Dan benar saja, sosok gadis dengan pakaian cantik, berkulit putih ditambah lembut telah berdiri didepan pintu tetapi dengan tatapan membunuh. Ia terlihat kesal, entah apa yang dia pikirkan. Aku yang awalnya tersenyum bahagia, kini senyuman itu memudar saking takutnya.
"Ehhmm...halo Dila, lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" Akupun berbasa-basi untuk permulaan.
"Yaa...aku sehat-sehat saja, ngomong-ngomong Farzan, sejak kapan kau pindah ke rumah besar ini?"tanya Dila dengan suasana yang mencengkam. Dari pertanyaan Dila tersebut, pikiranku langsung menyimpulkan bahwa Dila kesal karena aku tidak memberitahu alamat rumah baruku ini.
"Ehmm...ba-baru kemarin kok," jawabku dengan grogi. Telapak tangan Dila kini otomatis mengepal layaknya petinju profesional.
"Kenapa kau tidak bilang di WhatsApp!"sentak Dila.
"Farzan?siapa gadis itu?"tanya Adira dibelakangku dari kejauhan. Mendengar suara Adira, Dila yang mengepalkan tinjunya, kini mulai menormalkan telapakannya dan mulai mengatur nafas. Dila pun menengok ke belakangkang ku sekaligus menjawab.
"Haloo tante, aku temennya Farzan," sapa Dila ke ibuku.
"Ouuhh...temen, kirain sih pacarnya," balas Adira di iringi dengan kekehan kecil.
"Yaudah suruh masuk Zan, ibu buatkan minumannya," lanjut Adira. Ia berjalan ke dapur untuk membuatkan minuman.
Lantas kami pun berjalan menuju ke kamar untuk menemui si Merica. Saat kubuka pintu kamar, bisa terlihat Merica yang tampak sedang melihat pemandangan pepohonan taman dari balik jendela kamar.
"Hai Merica, lama tidak bertemu," ucap Dila sembari menutup pintu.
"Yaaa...aku sudah siap untuk menerima semua kenangan saat aku masih hidup," balas Merica yang tampak pasrah. Dengan Pandangan yang masih tetap mengarah ke taman. Dila yang mendengar jawaban tersebut sontak langsung tersentuh hatinya, seakan tidak rela kehilangan Merica.
"Bagaimana kalau kita bermain permainan sampai larut malam? Aku akan begadang disini, boleh kan Farzan?"tanya Dila dengan tatapan tajam mengarah padaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ghost Girlfriend
RomanceFarzan anak SMA yang dapat melihat gadis 16 tahun yang sangat cantik. Tapi sayangnya gadis itu telah meninggal 5 tahun lalu. Kacamata baru tersebutlah yang membuat Farzan dapat melihat gadis cantik ini. Gadis itu terus melekat pada Farzan, ia pun mu...
