[Juara #1 kategori Best Branding]
Hani masih menyimpan rasa pada Pram-mantan kekasihnya-saat memutuskan menikah dengan Dika.
Hani pikir dengan hidup bersama Dika, semuanya akan baik-baik saja. Namun, Hani lupa jika Dika adalah manusia biasa yang bi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Hah?" Kentang goreng yang Ayu pegang terlepas dan jatuh ke piring. Ucapan Hani barusan menggemparkan seluruh sistem koordinasi tubuhnya. Bagaimana bisa Hani meminta dinikahi sahabatnya di saat hati dan pikiran masih dipenuhi bayangan sang mantan?
"Hani gila, gendeng, sableng! Ngapain kamu ngajak-ngajak orang buat patah hati bareng!"
"Emang kenapa?" Hani masih mengunyah siomay dengan santai. "Kalau Dika nolak, aku nggak masalah, tapi aku rasa dia nggak akan nolak."
"Aku jadi pengen bawa kamu ke laundry buat cuci otakmu. Bener-bener gila kamu, Han." Ayu meremas kedua tangannya. Rasanya ingin mengacak-acak isi kepala Hani supaya waras. "Kamu tahu, niat nikah yang salah, nanti akhirnya berantakan. Nggak usah aku kasih contohnya, kamu pasti udah paham. Terus kamu juga mengundang netizen buat bully Dika. Biar gimanapun kalian beda."
Apa beda yang dimaksud Ayu adalah pekerjaan? Kalau iya, Hani sama sekali tidak malu dengan pekerjaan Dika, apalagi sampai mempermasalahkan. Baginya, asal masih halal, Dika senang, dan masih mau bekerja keras, Hani rasa tidak perlu diperdebatkan lagi. Toh, dirinya punya tabungan lebih untuk biaya hidup, hitung-hitung bisa membantu Dika nanti. Lagi pula kalau dipikir-pikir, penghasilan Dika selama sebulan bisa jauh lebih tinggi dibandingkan Hani yang hanya duduk di kubikel.
Terus apa lagi yang beda? Asal-usul? Dika punya ibu, juga berasal dari keluarga yang utuh, sementara Hani entah dari mana, dari kecil sudah berada di panti asuhan. Lagi pula selama ini, Dika tidak pernah mengungkit masa lalunya. Bahkan Hani dekat dengan Hasanah. Beliau pun tidak mengolok-olok seperti ibunya Pram.
Kalau bersama Dika, Hani rasa semuanya akan berjalan mulus. Hani tak perlu berkenalan dengan orang baru, tidak perlu khawatir ditolak orang tua, dan tidak akan ditinggalkan.
"Mendingan kamu tenangin pikiran dulu, damai dulu, baru buka hati buat laki-laki lain. Entah untuk Dika atau siapa pun. Han, nikah itu bukan buat ajang main-main. Sekali kamu masuk, kamu bakal susah untuk keluar lagi. Hubungan kamu bukan ke manusia aja, tapi ke Yang Di Atas. Allah membenci perceraian meski dibolehkan. Aku pernah denger dari ibu mertua, setan-setan bakal terbahak setelah berhasil menghasut pasangan suami istri untuk berpisah. Kalau aku, sih, ngeri." Ayu sengaja menyenggol sedikit tentang perceraian karena takut suatu saat Hani tidak betah lalu meminta cerai, bukannya malah tambah runyam? Hani menyakiti pria itu beserta keluarganya? Duh, Gusti Allah, jangan sampai.
Hani menyesap teh sepatnya perlahan. Rasa hangat menyapa tenggorokan, sisa pahit masih tertinggal di lidah. Telinganya terus mendengar ocehan Ayu. "Kan, aku udah bilang, kalo Dika nolak nggak masalah."
"Iya kalo nolak. Kalo sebaliknya gimana?"
Hani tertegun. Bayangan dirinya tinggal satu atap dengan Dika mulai menghiasi kepalanya. Bangun tidur sampai tidur lagi, Dika berada di sampingnya. "Ya, nggak apa-apa. Berarti emang udah takdir. Lagian, aku nggak mungkin narik kata-kataku meski Dika udah minta. Aku nggak mau jadi orang plin-plan, Yu."