Songolas - Kamu Bisa, Kan?

1.4K 189 35
                                        

Pulang kerja, Hani merasakan sakit luar biasa di bagian perutnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pulang kerja, Hani merasakan sakit luar biasa di bagian perutnya. Setelah dicek, ternyata tamu bulanannya benar-benar datang. Sialnya, stok pembalut untuk bulan ini habis dan setelah pindahan Hani belum sempat belanja.

Sambil memegangi perutnya, Hani keluar dari kamar. Pakaiannya sudah ganti, tapi dia tidak berani tidur sebelum mendapatkan pembalut. Kalau tembus, kan, malu, apalagi sekarang tidur sekasur dengan Dika. Hani masih ingat kala pertama kali bertemu laki-laki itu, dalam keadaan haid pula. Itu merupakan pertemuan sangat memalukan yang pernah Hani alami.

Melihat Dika hendak memasukkan motornya, Hani kepikiran sebuah ide dan segera mendekati Dika.

"Dika!"

Dika menoleh. "Kenapa, Han?"

Hani menelan ludah, lantas bertanya, "Aku boleh minta tolong nggak?"

"Minta tolong apa?"

Hani menggaruk tengkuknya. Ragu mulai menyergap hati. Akan tetapi, mau tidak mau, Hani harus mengatakan ini. "Aku, kan, nggak tau warung atau supermarket deket sini. Jadi, boleh nggak aku minta tolong kamu beliin pembalut? Aku haid."

Sepanjang mengatakan itu, Hani menanggung malu yang luar biasa. Bagaimanapun ini pertama kalinya Hani meminta dibelikan pembalut kepada seorang laki-laki. Saat bersama Pram dulu mana pernah. Nyaris Hani tidak pernah melibatkan Pram dalam urusan perempuan karena statusnya masih pacar. Apa jadinya jika dulu Pram tahu kapan saatnya haid, kapan selesai, seperti apa pembalut yang sering dipakai Hani? Tentunya akan menyisakan malu sebab Pram tidak jadi suaminya sekarang.

Selama delapan tahun itu, Hani hanya fokus mengejar restu ibunya Pram. Pun jika saat PMS, Hani jarang melampiaskannya pada Pram. Mungkin orang-orang di luaran sana tidak akan percaya jika Pram tidak melakukan hal di luar batas pada Hani. Delapan tahun, masa tidak melakukan apa-apa? Ya, memang benar. Hani masih suci sampai sekarang.

"Oh, ya, udah aku beliin. Kamu biasa pakai merek apa?"

Suara Dika mengembalikan Hani ke dunia nyata. Pembelian pembalut ini harus segera dituntaskan. "Kamu masih inget nggak dulu pertama kali kita ketemu, aku juga lagi haid. Kamu buka tas aku terus lihat ada bungkus pembalut di situ, kan? Nah, itu mereknya."

"Emang sampai sekarang masih ada?"

"Masih, lah. Kamu inget, kan?"

"Inget. Ya, udah aku pergi sekarang."

Dika menaiki motor, menghidupkan mesinnya, lalu segera meluncur. Tepat setelah Dika sudah tak terlihat punggungnya, Hani baru teringat sesuatu.

"DIKA, UANGNYA!"

"DIKA, UANGNYA!"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
SATRU - [Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang